Pohon Rindang Bisa Jadi Masalah di Trotoar Banyuwangi, Ini yang Perlu Diperhatikan

Daafi Adilla Achmad • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 13:17 WIB
Keberadaan pohon di sepanjang trotoar dapat memberikan keteduhan bagi pejalan kaki, tetapi penempatan dan pemeliharaannya perlu disesuaikan dengan ruang yang tersedia. (ChatGPT)
Keberadaan pohon di sepanjang trotoar dapat memberikan keteduhan bagi pejalan kaki, tetapi penempatan dan pemeliharaannya perlu disesuaikan dengan ruang yang tersedia. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Berjalan kaki di bawah naungan pohon tentu terasa lebih nyaman dibandingkan dengan melintas di bawah terik matahari. Karena itu, keberadaan pohon di sepanjang trotoar memiliki peran lebih dari sekadar mempercantik kawasan perkotaan.

Vegetasi di jalur pedestrian dapat memberikan keteduhan, membantu mengurangi panas pada permukaan jalan, menahan sebagian air hujan, serta mendukung kualitas lingkungan perkotaan. Namun, pohon yang ditanam di ruang terbatas tidak bisa dipilih hanya berdasarkan seberapa rindangnya atau seberapa menariknya bentuknya.

Ukuran batang dan tajuk, karakter akar, kondisi tanah, ruang tumbuh, kebutuhan perawatan, hingga keberadaan jaringan utilitas perlu diperhitungkan sejak awal. Tanpa perencanaan tersebut, tanaman yang seharusnya membuat trotoar lebih nyaman justru dapat mengurangi ruang gerak pejalan kaki atau mengganggu fasilitas di sekitarnya.

Persoalan itu relevan dalam penataan ruang pejalan kaki di Banyuwangi. Sejumlah pohon peneduh dengan batang besar dapat membuat ruang trotoar terasa semakin sempit. Perkembangan akar juga perlu diperhatikan karena ruang tanam yang terbatas dapat meningkatkan potensi konflik antara akar dan struktur perkerasan.

Tidak hanya bagian bawah tanah yang perlu mendapat perhatian. Tajuk dan cabang pohon yang tumbuh terlalu rendah dapat masuk ke ruang kendaraan atau mengganggu jalur pejalan kaki jika tidak mendapatkan pemangkasan secara berkala.

Pada kondisi cuaca ekstrem, persoalannya dapat menjadi lebih serius. Dahan yang rapuh atau pohon yang tidak terawat berpotensi patah ketika diterpa angin kencang. Material yang jatuh kemudian dapat menghambat pengguna jalan dan, dalam kondisi tertentu, mengganggu fasilitas seperti penerangan jalan.

Penghijauan tidak berhenti ketika pohon selesai ditanam. Pemangkasan, pemeriksaan kondisi pohon, serta pengawasan pertumbuhan menjadi bagian dari pengelolaan vegetasi di ruang publik.

Tidak semua pohon cocok untuk ruang pejalan kaki

Ruang di sekitar trotoar berbeda dengan taman kota yang memiliki area tanah lebih luas. Pada jalur pedestrian, pohon harus berbagi ruang dengan pejalan kaki, kendaraan, saluran air, tiang penerangan, jaringan utilitas, serta berbagai elemen infrastruktur lainnya.

Karena itu, pemilihan tanaman perlu disesuaikan dengan kondisi lokasi.

Tabebuya atau Handroanthus chrysotrichus merupakan salah satu jenis yang dapat dipertimbangkan. Daya tarik utamanya adalah bunga yang mencolok ketika tanaman memasuki masa berbunga.

Deretan tabebuya dapat memberikan perubahan visual yang kuat pada koridor jalan. Selain fungsi vegetasi, keberadaannya dapat menjadi elemen lanskap yang memberikan identitas tersendiri pada suatu kawasan.

Dalam kajian mengenai pemilihan pohon peneduh di Jalan Slamet Riyadi, Surakarta, Handroanthus chrysotrichus tercatat sebagai salah satu jenis yang digunakan pada jalur tersebut.

Namun, nilai estetika bukan satu-satunya pertimbangan. Penempatan tabebuya tetap perlu memperhatikan luas ruang yang tersedia, perkembangan tajuk, karakter akar, serta kebutuhan pemeliharaan.

Glodokan tiang untuk ruang yang lebih terbatas

Pilihan lain yang dapat dipertimbangkan adalah glodokan tiang atau Polyalthia longifolia.

Tanaman ini dikenal memiliki bentuk tajuk yang relatif ramping dan menjulang. Karakter tersebut membuatnya berbeda dengan pohon yang cenderung mengembangkan tajuk melebar.

Untuk koridor jalan dengan ruang horizontal terbatas, bentuk pertumbuhan seperti ini dapat menjadi salah satu pertimbangan. Glodokan tiang juga merupakan tanaman evergreen dengan dedaunan yang tetap hijau sepanjang tahun.

Karakter akar turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam penempatan tanaman di dekat trotoar. Glodokan tiang dikenal memiliki sistem perakaran yang cenderung menembus ke dalam tanah dan tidak berkembang secara ekstensif ke samping.

Meski demikian, kondisi lapangan tetap perlu diperiksa sebelum penanaman. Tidak ada satu jenis tanaman yang otomatis cocok untuk semua lokasi karena ruang tanah, kondisi perkerasan, drainase, dan lingkungan tumbuh dapat berbeda.

Pucuk merah menawarkan fleksibilitas

Pucuk merah atau Syzygium myrtifolium dapat menjadi pilihan lain, terutama untuk ruang yang membutuhkan tanaman dengan bentuk pertumbuhan yang relatif mudah dikendalikan melalui pemangkasan.

Ciri yang paling mudah dikenali adalah tunas daun mudanya yang berwarna merah sebelum berubah menjadi hijau. Warna tersebut dapat memberikan variasi visual pada kawasan pedestrian yang didominasi oleh permukaan beton dan material perkerasan.

Tanaman ini juga dapat digunakan dalam berbagai bentuk lanskap, termasuk sebagai tanaman yang dipangkas dan dibentuk. Karakter tersebut membuatnya fleksibel untuk ruang jalan yang membutuhkan pengaturan bentuk vegetasi.

NParks mencantumkan Syzygium myrtifolium sebagai salah satu tanaman yang dapat digunakan untuk streetscape, taman, dan kebun. Tanaman tersebut juga dapat digunakan sebagai pohon, pagar, maupun tanaman yang dibentuk.

Ruang akar sama pentingnya dengan jenis pohon

Memilih jenis pohon yang tepat belum menyelesaikan seluruh persoalan. Desain tempat pohon ditanam juga memiliki peran besar.

Pohon membutuhkan ruang untuk mengembangkan akar dan tajuk. Jika ruang tersebut terlalu terbatas, pertumbuhan tanaman dapat berkonflik dengan trotoar dan infrastruktur lainnya.

Karena itu, ruang tanam sebaiknya dirancang sejak awal dengan memperhitungkan perkembangan pohon ketika sudah dewasa, bukan hanya berdasarkan ukuran bibit saat pertama ditanam.

Faktor lain yang perlu dipertimbangkan meliputi kondisi iklim, jenis tanah, kebutuhan air, ketahanan terhadap hama dan penyakit, umur tanaman, serta kebutuhan pemeliharaan.

Salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk mengelola pertumbuhan akar adalah root barrier. Sistem tersebut berupa panel atau penghalang yang dipasang secara vertikal di dalam tanah untuk membantu mengarahkan pertumbuhan akar dan mengurangi potensi konflik dengan struktur di sekitarnya.

Root Barrier merupakan Panel yang dipasang di bawah tanah mengelilingi pohon dan cukup kuat untuk menahan tusukan akar. Sangat cocok untuk jenis pohon yang akarnya tumbuh menyamping.

Penggunaan root barrier tetap perlu disesuaikan dengan jenis tanaman dan rancangan ruang tanam. Teknologi tersebut bukan pengganti perencanaan, melainkan salah satu bagian dari pendekatan untuk mengelola ruang akar.

Trotoar teduh bukan sekadar jumlah pohon

Bagi pengguna trotoar, keberadaan pohon pada akhirnya bukan sekadar persoalan estetika.

Jalur yang teduh dapat membuat perjalanan berjalan kaki terasa lebih nyaman. Namun, manfaat tersebut akan berkurang jika batang pohon ditempatkan terlalu dekat dengan jalur berjalan, akar mengangkat perkerasan, atau cabang menghalangi ruang gerak.

Di sisi lain, menghilangkan seluruh vegetasi juga bukan solusi ideal. Pohon perkotaan memiliki fungsi ekologis yang lebih luas, mulai dari memberikan naungan hingga membantu mengurangi efek panas perkotaan dan limpasan air hujan.

Karena itu, tantangannya bukan sekadar memilih antara “ada pohon” dan “tidak ada pohon”. Yang lebih penting adalah menentukan jenis tanaman, lokasi penanaman, ruang tumbuh, serta sistem pemeliharaan yang sesuai.

Untuk kawasan pedestrian di Banyuwangi, pendekatan tersebut dapat menjadi pertimbangan ketika ruang hijau dan jalur pejalan kaki ingin dikembangkan secara bersamaan.

Tabebuya dapat memberikan karakter visual ketika berbunga. Glodokan tiang menawarkan bentuk tumbuh yang relatif ramping. Sementara pucuk merah memberikan fleksibilitas dalam pembentukan lanskap.

Tetapi ketiganya bukan pilihan yang otomatis sesuai untuk setiap trotoar. Kondisi lokasi tetap menjadi penentu.

Pohon yang baik untuk trotoar bukan hanya pohon yang mampu tumbuh subur atau terlihat rindang. Pohon tersebut juga harus ditempatkan pada ruang yang memadai, tidak mengorbankan keselamatan pengguna jalan, dan dapat dipelihara secara berkelanjutan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Trotoar Banyuwangi penghijauan kota jalur pedestrian ruang hijau perkotaan Pohon Peneduh