RADAR BANYUWANGI - Selama ini pucuk merah lebih dikenal sebagai tanaman penghias pagar, halaman rumah, hingga taman. Daunnya yang berwarna merah menyala menjadi ciri khas sekaligus alasan tanaman ini banyak dipilih untuk mempercantik lingkungan.
Namun, ada sisi lain dari tanaman bernama ilmiah Syzygium oleana atau Syzygium myrtifolium yang belum banyak diketahui. Daunnya ternyata dapat diolah menjadi seduhan herbal.
Pucuk merah merupakan tanaman yang berasal dari kawasan Asia Tenggara. Tanaman ini dapat tumbuh hingga sekitar 7 meter dengan diameter batang mencapai 30 sentimeter.
Warna merah cerah pada daun mudanya juga bukan kondisi yang bertahan selamanya. Seiring pertumbuhan, warna daun perlahan berubah menjadi hijau.
Selama ini perubahan warna tersebut lebih banyak dipandang sebagai keunikan visual. Padahal, daun pucuk merah diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif, seperti flavonoid, fenol, tanin, alkaloid, saponin, triterpenoid, steroid, dan asam betulinat.
Keberadaan senyawa-senyawa tersebut membuat daun pucuk merah menarik perhatian dalam penelitian mengenai aktivitas antioksidan, antibakteri, antimikroba, hingga antiinflamasi.
Salah satu penelitian dari dosen Program Studi Profesi Apoteker Universitas Jambi (UNJA) menemukan bahwa aktivitas antioksidan pada daun pucuk merah tergolong sangat tinggi. Dalam informasi penelitian yang menjadi referensi, aktivitas tersebut disebut dapat bersaing dengan aktivitas antioksidan yang terdapat pada vitamin C.
Temuan tersebut membuat tanaman yang selama ini identik dengan fungsi dekoratif menjadi menarik untuk dilihat dari sisi pemanfaatan herbal.
Dari tanaman hias menjadi seduhan
Pengolahan daun pucuk merah menjadi seduhan herbal relatif sederhana. Sekitar lima hingga 10 lembar daun segar dapat digunakan sebagai bahan awal.
Daun terlebih dahulu dicuci hingga bersih. Setelah itu, daun dijemur di bawah sinar matahari sampai benar-benar kering atau mencapai tingkat kekeringan yang merata. Kadar air daun kering ditujukan untuk berada di bawah 10 persen.
Daun yang sudah kering kemudian dapat direbus atau diseduh menggunakan air panas. Setelah diseduh, air akan berubah warna menjadi kuning kecokelatan.
Bagi yang menginginkan rasa berbeda, seduhan tersebut dapat ditambahkan bahan lain seperti gula merah, madu, atau jahe.
Cara yang sederhana ini membuat pemanfaatan pucuk merah sebagai seduhan herbal dapat dilakukan tanpa proses pengolahan yang rumit. Meski demikian, kemudahan membuatnya tidak berarti manfaat kesehatannya sudah sepenuhnya terbukti pada manusia.
Potensi antioksidan masih perlu diteliti
Bagian yang perlu diperhatikan adalah status bukti ilmiah mengenai manfaat pucuk merah. Sejumlah manfaat yang dikaitkan dengan tanaman tersebut masih berasal dari penelitian laboratorium, uji pada hewan, serta penggunaan tradisional yang telah dikenal di beberapa daerah, termasuk Jambi dan Banten.
Sementara itu, bukti klinis pada manusia masih terbatas. Artinya, hasil penelitian mengenai aktivitas biologis pucuk merah tidak dapat secara otomatis diterjemahkan sebagai bukti bahwa seduhan daun tersebut mampu mengobati penyakit tertentu.
Karena itu, teh pucuk merah lebih tepat ditempatkan sebagai minuman pendukung kesehatan, bukan sebagai pengganti pengobatan medis yang telah teruji secara klinis.
Kehati-hatian juga diperlukan dalam konsumsinya. Mengonsumsi dalam jumlah berlebihan berpotensi menimbulkan gangguan pencernaan.
Orang yang memiliki alergi terhadap tanaman famili Myrtaceae, ibu hamil, ibu menyusui, serta mereka yang mempunyai kondisi kesehatan tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum menjadikan seduhan pucuk merah sebagai konsumsi rutin.
Editor : Lugas Rumpakaadi