RADAR BANYUWANGI - Selama bertahun-tahun, daun kelor tidak hanya dikenal sebagai tanaman yang mudah ditemukan di sekitar rumah. Di Indonesia, tanaman ini juga lekat dengan berbagai kepercayaan dan tradisi, termasuk penggunaannya dalam ritual memandikan jenazah.
Citra tersebut membuat pembicaraan mengenai kelor kerap berhenti pada sisi budaya dan mitos. Padahal, di balik daun berukuran kecil itu terdapat kandungan nutrisi yang membuat kelor berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pangan bergizi.
Kelor atau Moringa oleifera bahkan kerap disebut sebagai “pohon ajaib” dalam berbagai literatur mengenai tanaman bergizi. Potensinya tidak hanya berkaitan dengan pangan, tetapi juga dengan pemanfaatan tanaman untuk mendukung kesehatan dan lingkungan.
Kandungan nutrisi kelor
Salah satu hal yang membuat daun kelor menarik adalah kandungan vitamin dan mineralnya. Kelor disebut memiliki kandungan vitamin C yang lebih tinggi dibandingkan jeruk, kalsium yang lebih tinggi dibandingkan susu pada takaran tertentu, serta vitamin A yang lebih tinggi dibandingkan wortel.
Perbandingan tersebut perlu dipahami berdasarkan jenis bahan, bagian tanaman, serta takaran yang digunakan. Karena itu, klaim mengenai kandungan gizi sebaiknya tidak dimaknai bahwa kelor secara otomatis dapat menggantikan seluruh bahan pangan tersebut.
Data Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) yang dicantumkan dalam bahan rujukan menunjukkan bahwa 100 gram daun kelor segar mengandung sekitar 92 kilokalori energi, 5,1 gram protein, 1,6 gram lemak, 14,3 gram karbohidrat, 1.077 miligram kalsium, 76 miligram fosfor, dan 6 miligram zat besi.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa kelor mempunyai potensi sebagai salah satu sumber pangan nabati yang kaya zat gizi.
Potensi itu juga menarik bagi masyarakat yang menjalani pola makan vegetarian atau vegan. Daun kelor dapat diolah sebagai bagian dari menu sehari-hari, selama konsumsinya ditempatkan sebagai bagian dari pola makan yang beragam dan seimbang.
Berpotensi mendukung pencegahan anemia
Kelor juga banyak mendapat perhatian dalam pembahasan mengenai anemia karena mengandung zat besi dan sejumlah mikronutrien lainnya.
Suplementasi ekstrak daun kelor dalam penelitian tertentu dapat meningkatkan kadar hemoglobin hingga 58 persen dan ferritin serum hingga 50 persen.
Namun, angka tersebut tidak semestinya dipahami sebagai jaminan bahwa mengonsumsi kelor akan meningkatkan hemoglobin pada setiap orang dengan persentase yang sama. Hasil penelitian dipengaruhi antara lain oleh bentuk ekstrak, dosis, durasi pemberian, karakteristik peserta, serta kondisi kesehatan.
Karena menyangkut anemia dan terutama kesehatan ibu hamil, pemanfaatan kelor sebagai bagian dari pola makan tetap perlu dibedakan dari penggunaan ekstrak sebagai suplemen. Ibu hamil yang mengalami atau dicurigai mengalami anemia sebaiknya mendapatkan penilaian dan penanganan dari tenaga kesehatan.
Tidak hanya soal makanan
Menariknya, manfaat kelor tidak berhenti pada kandungan gizinya. Tanaman ini juga memiliki potensi dari sisi lingkungan.
Kelor disebut mampu menyerap karbon dioksida (CO2) dan dapat berkontribusi terhadap upaya mitigasi perubahan iklim. Sistem perakarannya juga berpotensi membantu menjaga kondisi tanah, mendukung konservasi air, serta mengurangi risiko erosi.
Karakter tersebut membuat kelor berpeluang dimanfaatkan dalam kegiatan penghijauan, termasuk pada lahan yang mengalami degradasi atau kawasan yang menghadapi persoalan kekeringan.
Bagi wilayah seperti Banyuwangi yang memiliki kawasan pertanian dan bentang lahan yang beragam, pemanfaatan tanaman yang mempunyai nilai pangan sekaligus ekologis dapat menjadi peluang yang menarik untuk dikembangkan.
Namun, potensi tersebut tentu membutuhkan kajian dan pengelolaan yang tepat. Pengembangan kelor tidak cukup hanya dengan memperbanyak penanaman. Aspek budidaya, kualitas bahan baku, pengolahan pangan, keamanan konsumsi, hingga pemasaran juga perlu diperhatikan.
Peluang menjadi pangan lokal
Kelor menawarkan perspektif yang berbeda dari citra yang selama ini melekat di masyarakat.
Tanaman ini memang memiliki tempat tersendiri dalam tradisi dan kepercayaan masyarakat Indonesia. Tetapi dari sudut pandang pangan dan pertanian, kelor juga merupakan tanaman yang memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh.
Jika diolah secara tepat, daun kelor dapat menjadi bahan berbagai produk pangan. Pengembangan tersebut bahkan berpotensi membuka peluang ekonomi bagi petani maupun pelaku usaha pengolahan pangan.
Potensi kelor sebagai komoditas pangan juga sejalan dengan upaya memperkenalkan sumber pangan lokal yang memiliki nilai gizi. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan tengah mendorong agar potensi kelor Indonesia semakin dikenal di tingkat internasional.
Peluang tersebut dapat menjadi semakin menarik apabila dikembangkan berdasarkan potensi daerah dan melibatkan masyarakat setempat.
Editor : Lugas Rumpakaadi