Sering Dilarang Minum Air Es karena Bikin Gemuk, Benarkah? Ini Penjelasannya

Nabella Anastasya Pratiwi • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 14:42 WIB
Air putih dingin tidak mengandung kalori. Suhu air bukan faktor utama yang menyebabkan kenaikan berat badan atau penumpukan lemak. (Pexels/Srattha Nualsate)
Air putih dingin tidak mengandung kalori. Suhu air bukan faktor utama yang menyebabkan kenaikan berat badan atau penumpukan lemak. (Pexels/Srattha Nualsate)

RADAR BANYUWANGI - “Jangan minum air es, nanti gemuk.” Kalimat semacam ini masih kerap terdengar ketika seseorang hendak menikmati minuman dingin, terutama setelah makan atau berolahraga. Air es bahkan sering dianggap dapat membuat lemak makanan membeku di dalam perut dan akhirnya menyebabkan perut buncit.

Anggapan tersebut telah lama diwariskan dari generasi ke generasi. Sebagian orang yang sedang berusaha menurunkan berat badan juga memilih menghindari air dingin dan lebih banyak mengonsumsi air hangat karena khawatir suhu rendah memengaruhi proses pencernaan.

Namun, anggapan bahwa air es secara langsung menyebabkan kegemukan tidak sesuai dengan mekanisme pencernaan manusia.

Dari Mana Muncul Anggapan Air Es Bikin Gemuk?

Kepercayaan tersebut umumnya berangkat dari pemahaman sederhana bahwa lemak dapat membeku ketika terkena suhu dingin. Dari sana muncul anggapan bahwa air es yang diminum setelah makan akan membuat lemak dari makanan menggumpal atau membeku di dalam lambung.

Padahal, kondisi di dalam tubuh berbeda dengan lingkungan di luar tubuh. Air dingin yang diminum akan melewati kerongkongan dan masuk ke lambung. Setelah berada di dalam tubuh, air akan berinteraksi dengan lingkungan lambung dan menerima panas dari jaringan tubuh di sekitarnya.

Tubuh manusia juga memiliki kemampuan mempertahankan suhu inti agar tetap stabil. Karena itu, minum air dingin tidak serta-merta membuat kondisi di dalam lambung menjadi seperti lingkungan bersuhu sangat rendah yang dapat membekukan lemak.

Proses pencernaan lemak berlangsung melalui mekanisme biologis yang melibatkan empedu dan enzim pencernaan, termasuk lipase. Dengan mekanisme tersebut, lemak dari makanan diproses oleh sistem pencernaan, bukan sekadar membeku akibat seseorang mengonsumsi air dingin.

Air Putih Tidak Mengandung Kalori

Hal lain yang perlu dipahami adalah kandungan air putih itu sendiri. Air putih, baik diminum dalam kondisi dingin maupun hangat, tidak mengandung kalori. Air juga tidak menjadi sumber lemak, protein, atau karbohidrat.

Kenaikan berat badan pada dasarnya berkaitan dengan keseimbangan energi. Ketika asupan energi dari makanan dan minuman secara keseluruhan lebih besar daripada energi yang digunakan tubuh dalam jangka waktu tertentu, kelebihan energi dapat disimpan dan berkontribusi terhadap peningkatan berat badan.

Karena itu, suhu air putih bukan faktor yang secara langsung menyebabkan penumpukan lemak tubuh.

Air putih dingin pun tidak berubah menjadi makanan berkalori hanya karena dikonsumsi bersama makanan. Selama yang diminum benar-benar air putih tanpa tambahan gula atau bahan berkalori lainnya, minuman tersebut tidak memberikan asupan energi yang dapat secara langsung menyebabkan kegemukan.

Bukan Air Es, Pola Makan dan Gaya Hidup Lebih Berpengaruh

Jika seseorang mengalami kenaikan berat badan atau lingkar perut bertambah, faktor yang perlu diperhatikan justru lebih luas daripada sekadar suhu minuman.

Pola makan dengan asupan kalori tinggi, konsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan, serta kurangnya aktivitas fisik merupakan sejumlah faktor yang dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan.

Dalam kehidupan sehari-hari, persoalan juga dapat muncul ketika minuman dingin yang dikonsumsi bukan air putih, melainkan minuman yang mengandung gula atau bahan tambahan lain.

Teh manis dingin, minuman bersoda, susu dengan tambahan gula, dan berbagai minuman kekinian merupakan contoh minuman yang perlu diperhitungkan kandungan kalorinya. Dalam kasus tersebut, persoalannya bukan pada suhu dingin, melainkan pada kandungan energi dari bahan yang terdapat di dalam minuman.

Dengan demikian, seseorang yang ingin menjaga berat badan tidak perlu menghindari air putih dingin hanya karena takut menjadi gemuk. Yang lebih penting adalah memperhatikan pola konsumsi secara keseluruhan.

Boleh Pilih Air Hangat atau Dingin

Bagi sebagian orang, air hangat mungkin terasa lebih nyaman. Sementara bagi yang lain, air dingin lebih menyegarkan, terutama setelah beraktivitas atau berada di tengah cuaca panas.

Selama tidak ada kondisi kesehatan tertentu yang mengharuskan seseorang mengikuti anjuran khusus dari tenaga medis, pilihan suhu air putih pada dasarnya lebih berkaitan dengan preferensi dan kenyamanan.

Yang tidak kalah penting adalah memastikan kebutuhan cairan tubuh tetap terpenuhi. Mengganti air putih dengan minuman tinggi gula hanya karena ingin menghindari air dingin justru dapat menjadi pilihan yang kurang tepat bagi seseorang yang sedang mengontrol asupan kalori.

Jadi, Apakah Air Es Membuat Gemuk?

Klaim bahwa air es menyebabkan kegemukan atau membuat lemak makanan membeku di dalam perut merupakan mitos. Air putih tidak mengandung kalori, sehingga suhu dingin tidak menjadikannya penyebab langsung penumpukan lemak tubuh.

Perhatian sebaiknya diarahkan pada pola makan, jumlah asupan kalori, pilihan minuman, serta tingkat aktivitas fisik sehari-hari.

Jadi, ketika cuaca panas atau setelah beraktivitas, masyarakat tidak perlu takut mengonsumsi air putih dingin hanya karena khawatir berat badan bertambah. Selama yang dikonsumsi benar-benar air putih tanpa tambahan bahan berkalori, air dingin bukan penyebab perut buncit.


DISCLAIMER: Informasi kesehatan dalam artikel ini bersifat edukasi umum. Orang dengan kondisi kesehatan tertentu atau keluhan setelah mengonsumsi minuman dingin sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis.

Editor : Lugas Rumpakaadi
air es kesehatan Air Putih perut buncit berat badan