Mengapa Singa Jarang Memangsa Predator Lain? Jawabannya Bukan karena Kode Kehormatan

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 15:59 WIB
Singa merupakan salah satu predator puncak, tetapi sesama pemangsa bukan selalu pilihan mangsa yang menguntungkan karena risiko cedera dan energi yang harus dikeluarkan. (ChatGPT)
Singa merupakan salah satu predator puncak, tetapi sesama pemangsa bukan selalu pilihan mangsa yang menguntungkan karena risiko cedera dan energi yang harus dikeluarkan. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Mengapa singa yang dikenal sebagai salah satu predator terkuat justru jarang menjadikan pemangsa lain seperti citah atau serigala sebagai makanan? Perilaku tersebut bukan karena adanya semacam aturan damai di alam liar. Bagi predator, menyerang sesama pemangsa sering kali merupakan pilihan yang mahal dan berisiko.

Energi yang dikeluarkan dalam pertarungan dapat sangat besar, sementara daging yang diperoleh belum tentu sebanding dengan keuntungan nutrisi. Di sisi lain, cakar dan gigitan dari lawan dapat menyebabkan cedera serius yang mengancam kemampuan berburu.

Pertimbangan untung-rugi semacam itu menjadi bagian dari mekanisme bertahan hidup yang terbentuk melalui proses seleksi alam selama jutaan tahun.

Guru Besar Ekologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Jatna Supriatna, M.Sc., menjelaskan bahwa predator di alam liar cenderung menghindari aktivitas yang menghabiskan energi tanpa memberikan keuntungan sepadan.

"Di alam liar, interaksi antarpredator puncak diatur oleh efisiensi penggunaan energi dan penghindaran risiko fatal. Predator jarang berburu pemangsa lain sebagai sumber makanan utama karena pengeluaran energi dan bahaya gigitan balasan jauh melebihi nilai nutrisi yang didapat," jelas Prof. Dr. Jatna Supriatna di Depok, Kamis (3/9).

Memangsa Sesama Predator Punya Risiko Besar

Berburu bukan sekadar persoalan mendapatkan makanan. Setiap pengejaran membutuhkan tenaga, dan setiap pertarungan membawa kemungkinan terjadinya cedera.

Ketika target buruan merupakan herbivora, predator umumnya menghadapi tantangan untuk melumpuhkan mangsa. Namun, ketika berhadapan dengan predator lain, lawannya memiliki kemampuan untuk melawan secara aktif dengan senjata alami yang sama-sama berbahaya.

Satu luka serius dapat mengubah peluang seekor predator untuk bertahan hidup. Hewan yang kehilangan kemampuan berlari, menerkam, atau menggigit secara optimal akan kesulitan memperoleh makanan pada perburuan berikutnya.

Dalam kondisi alam liar, dampaknya dapat berlanjut menjadi persoalan yang lebih serius. Ketidakmampuan berburu berarti berkurangnya kesempatan mendapatkan energi, sehingga cedera akibat pertarungan dapat berujung pada kematian.

Karena itu, pilihan untuk menghindari konflik dengan sesama predator dapat menjadi strategi yang jauh lebih menguntungkan daripada memenangkan pertarungan tetapi mengalami luka berat.

Bukan Belas Kasih, Melainkan Strategi Bertahan Hidup

Dari sudut pandang manusia, keengganan predator untuk saling memangsa terkadang terlihat seperti bentuk toleransi atau bahkan "kode kehormatan".

Namun, perilaku satwa tidak perlu dipahami melalui konsep moral manusia. Predator tidak harus menyadari secara sadar bahwa sebuah pertarungan terlalu berisiko. Pola perilaku tersebut terbentuk melalui proses evolusi yang berlangsung sangat panjang.

Individu yang menghabiskan terlalu banyak energi dalam pertarungan yang tidak menghasilkan keuntungan dapat memiliki peluang bertahan hidup lebih rendah. Sebaliknya, perilaku yang membuat hewan lebih efisien dalam mendapatkan makanan sekaligus menghindari risiko fatal memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.

Dengan kata lain, alam secara bertahap "menyaring" strategi yang tidak efisien.

Itulah sebabnya predator cenderung mengarahkan kemampuan berburu kepada mangsa yang memberikan keuntungan energi lebih besar dengan risiko yang relatif dapat dikendalikan.

Ada Pengecualian di Laut

Meski kecenderungan tersebut umum terjadi, alam liar tetap memiliki pengecualian.

Paus Orka menjadi salah satu contoh menarik. Mamalia laut ini diketahui dapat memburu hiu putih. Perbedaannya terletak pada kemampuan orka menjalankan perburuan secara berkelompok dan terkoordinasi.

Dengan bekerja bersama, beberapa individu dapat membagi risiko ketika menghadapi mangsa yang berbahaya. Strategi kelompok tersebut membuat pertarungan yang mungkin terlalu berisiko bagi satu individu menjadi lebih memungkinkan untuk dilakukan.

Contoh ini menunjukkan bahwa predator tidak selalu menghindari predator lain dalam semua keadaan. Ketika strategi berburu dapat mengubah perbandingan antara biaya energi, risiko dan hasil yang diperoleh, perilaku tersebut juga dapat berubah.

Mengapa Perilaku Ini Penting bagi Ekosistem?

Keengganan predator untuk menjadikan sesama pemangsa sebagai sumber makanan utama juga berkaitan dengan keseimbangan ekosistem.

Ketika predator memiliki target mangsa yang berbeda dan tidak terus-menerus terlibat dalam pertarungan antarpemangsa, tekanan terhadap populasi satwa dapat tersebar dalam sistem yang lebih kompleks.

Prof. Jatna menjelaskan bahwa pola tersebut turut membantu menjaga stabilitas kehidupan liar.

"Keengganan untuk saling memangsa ini sebenarnya merupakan mekanisme alami menjaga keseimbangan ekosistem. Ketika masing-masing pemangsa berfokus pada target mangsa spesifiknya, keanekaragaman hayati dan populasi di alam liar justru dapat bertahan secara stabil," tambahnya.

Bagi masyarakat yang hidup dekat dengan kawasan hutan dan habitat satwa liar, termasuk di Banyuwangi, pemahaman semacam ini memberikan sudut pandang lain dalam melihat perilaku hewan.

Predator tidak semata-mata bertindak berdasarkan kekuatan. Kelangsungan hidup juga ditentukan oleh kemampuan menghemat energi, memilih mangsa dan menghindari risiko yang tidak perlu.

Singa yang tidak menjadikan citah atau serigala sebagai menu utama bukan berarti sedang menjalankan "aturan damai" di alam. Mereka mengikuti strategi bertahan hidup yang terbentuk melalui proses evolusi.

Dalam dunia liar, menjadi predator yang kuat tidak selalu berarti harus menyerang setiap hewan yang mampu dikalahkan. Sering kali, kemampuan untuk mengetahui kapan sebuah pertarungan tidak layak dilakukan justru menjadi bagian penting dari cara bertahan hidup.

Editor : Lugas Rumpakaadi
predator alam liar