RADAR BANYUWANGI - Membuang struk belanja lama, bungkus makanan, atau kertas yang sudah tidak terpakai mungkin menjadi hal sederhana bagi kebanyakan orang. Namun, bagi penderita hoarding disorder, keputusan untuk menyingkirkan benda tersebut dapat memicu kecemasan dan tekanan emosional yang jauh lebih besar.
Benda yang bagi orang lain terlihat seperti sampah bisa memiliki arti berbeda bagi penderita. Barang tersebut dapat dianggap sebagai pengingat masa lalu, sumber rasa aman, atau sesuatu yang berkaitan dengan identitas pribadi.
Karena itu, persoalan hoarding disorder tidak semata-mata tentang rumah yang penuh barang. Di balik kesulitan membuang benda, terdapat proses psikologis yang membuat seseorang merasa sangat terikat dengan apa yang disimpannya.
Ketika barang terasa seperti bagian dari diri
Hoarding disorder ditandai oleh kesulitan yang menetap untuk membuang atau berpisah dengan barang, meskipun benda tersebut memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki nilai nyata. Keinginan untuk mempertahankannya dapat disertai tekanan emosional ketika seseorang membayangkan barang tersebut harus dibuang.
Sebagian penderita menyimpan benda karena merasa suatu saat akan membutuhkannya. Sebagian lainnya memiliki hubungan emosional dengan barang karena benda tersebut mengingatkan mereka pada pengalaman, orang, atau masa tertentu dalam kehidupan.
Dalam kondisi tertentu, keberadaan barang juga dapat memberikan rasa nyaman atau aman. Akibatnya, membuang benda bukan lagi sekadar aktivitas membersihkan rumah, tetapi menjadi keputusan yang terasa berat secara emosional.
Bagi keluarga, perbedaan cara memandang barang inilah yang terkadang sulit dipahami. Apa yang terlihat sebagai benda tidak berguna bagi anggota keluarga dapat dianggap sangat penting oleh orang yang mengalaminya.
Trauma masa lalu dapat menjadi salah satu faktor
Penyebab hoarding disorder tidak dapat disederhanakan menjadi satu faktor. Faktor genetik, fungsi otak, pola perilaku, serta pengalaman hidup yang penuh tekanan masih menjadi bagian dari hal-hal yang dipelajari dalam kaitannya dengan kondisi tersebut.
Menurut dr. Yuliana, CHt, seorang dokter dan hipnoterapis, memiliki pengalaman pahit dan tekanan psikologis pada masa lalu yang dapat berkaitan dengan keterikatan emosional yang ekstrem terhadap benda.
“Luka batin, kehidupan masa lalu yang penuh tekanan, hingga trauma psikologis yang mendalam sering kali menjadi alasan mendasar mengapa seseorang mengalami keterikatan emosional ekstrem terhadap benda mati,” ujar dr. Yuliana dalam unggahannya.
Namun, trauma tidak bisa dianggap sebagai penyebab tunggal pada setiap penderita. Setiap orang memiliki latar belakang dan pola psikologis yang berbeda, sehingga penilaian kondisi tetap membutuhkan tenaga profesional.
Mengapa keputusan membuang barang terasa begitu berat?
Kesulitan membuang barang juga dapat berkaitan dengan cara seseorang mengambil keputusan dan menilai kemungkinan risiko. Penderita dapat merasa bahwa sebuah benda masih memiliki manfaat di masa mendatang, terlalu berharga untuk dibuang, atau memiliki makna emosional yang tidak dapat digantikan.
Keraguan tersebut dapat membuat keputusan sederhana menjadi melelahkan. Ketika jumlah barang semakin banyak, proses memilah dan menentukan mana yang harus disimpan atau dibuang juga menjadi semakin rumit.
Dalam jangka panjang, barang dapat menumpuk hingga mengganggu fungsi ruangan. Kondisi tersebut bisa membuat area rumah tidak lagi dapat digunakan sebagaimana mestinya, mengganggu aktivitas sehari-hari, memicu konflik keluarga, serta mendorong seseorang menghindari kunjungan orang lain.
Bukan sekadar persoalan malas atau tidak mau bersih-bersih
Hoarding disorder berbeda dengan kegemaran mengoleksi barang. Kolektor umumnya memiliki tujuan tertentu, mengatur koleksinya, dan masih dapat menggunakan ruang sebagaimana mestinya. Pada hoarding disorder, penumpukan dapat mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari dan menimbulkan tekanan bagi penderita maupun orang di sekitarnya.
Karena itu, menyebut penderita sebagai orang yang “malas membuang barang” tidak menggambarkan persoalan sebenarnya. Kesulitan tersebut merupakan bagian dari kondisi psikologis yang dapat memengaruhi pengambilan keputusan, hubungan sosial, dan kualitas hidup.
Pemahaman semacam ini penting bagi keluarga, termasuk masyarakat di Banyuwangi, agar persoalan penumpukan barang tidak hanya dilihat dari sisi kebersihan rumah.
Mengapa membuang barang secara paksa bukan solusi?
Ketika rumah sudah dipenuhi barang, keluarga mungkin tergoda untuk mengambil tindakan cepat dengan membuang seluruh benda yang dianggap tidak berguna. Namun, pendekatan semacam itu dapat menimbulkan konflik dan tekanan emosional.
Mayo Clinic mencatat bahwa ketika barang yang memberikan rasa nyaman diambil, penderita dapat merespons dengan frustrasi atau kemarahan dan bahkan kembali mengumpulkan barang untuk memenuhi kebutuhan emosional tersebut.
Karena itu, proses mengurangi barang sebaiknya tidak semata-mata berorientasi pada seberapa cepat rumah menjadi kosong. Pendekatan yang bertahap dan melibatkan tenaga profesional dapat membantu penderita menghadapi pola pikir serta kecemasan yang berkaitan dengan barang-barang tersebut.
CBT menjadi salah satu pendekatan penanganan
Salah satu pendekatan yang digunakan dalam penanganan hoarding disorder adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau terapi perilaku kognitif.
Dalam terapi ini, penderita dapat dibantu untuk mengenali dan menantang keyakinan yang berkaitan dengan kebiasaan menyimpan barang, mengembangkan kemampuan mengambil keputusan, mengurangi dorongan untuk memperoleh barang baru, serta secara bertahap menghadapi proses mengurangi tumpukan barang.
Pendekatan tersebut tidak berarti seluruh barang harus langsung dibuang. Perubahan dapat dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi psikologis dan kebutuhan penderita.
Jika penumpukan sudah mengganggu penggunaan ruangan, kesehatan, keselamatan, hubungan keluarga, atau aktivitas sosial, berkonsultasi dengan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan mental yang memahami hoarding disorder merupakan langkah yang dapat dipertimbangkan.
Kapan keluarga perlu mulai mencari bantuan?
Tidak setiap orang yang menyimpan banyak barang mengalami hoarding disorder. Yang perlu diperhatikan adalah ketika kesulitan membuang barang berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Beberapa tanda yang patut diperhatikan antara lain ruangan tidak lagi dapat digunakan sesuai fungsinya, barang menghalangi jalan atau akses penting di dalam rumah, penumpukan menimbulkan persoalan kebersihan dan keselamatan, serta muncul konflik serius dengan anggota keluarga.
Pada situasi tersebut, keluarga sebaiknya mengutamakan komunikasi dan mencari bantuan profesional, bukan mempermalukan atau memberi label kepada penderita.
Bagi masyarakat umum, memahami hoarding disorder berarti melihat lebih jauh daripada sekadar tumpukan benda. Di balik barang yang sulit dibuang dapat terdapat keyakinan, kenangan, kecemasan, dan kebutuhan emosional yang membuat proses berpisah dengan benda menjadi sangat berat.
Karena itu, penanganannya pun membutuhkan lebih dari sekadar membersihkan rumah. Yang perlu ditangani adalah alasan psikologis mengapa seseorang merasa harus mempertahankan benda-benda tersebut.
Editor : Lugas Rumpakaadi