Awalnya Takut Jarum, Pelajar Mulai Rutin Donor Darah Tiap Tiga Bulan

Shinta Ayu Rahma Wardani • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 18:32 WIB
Pelajar mengikuti kegiatan donor darah rutin yang digelar setiap tiga bulan di lingkungan sekolah. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kepedulian sosial dan kebiasaan hidup positif sejak usia muda. (Shinta untuk Radar Banyuwangi)
Pelajar mengikuti kegiatan donor darah rutin yang digelar setiap tiga bulan di lingkungan sekolah. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kepedulian sosial dan kebiasaan hidup positif sejak usia muda. (Shinta untuk Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI - Donor darah mulai menjadi kebiasaan baru di kalangan pelajar SMA/SMK sederajat di Banyuwangi. Kegiatan yang digelar setiap tiga bulan tersebut tidak hanya menjadi aksi kemanusiaan untuk membantu ketersediaan darah, tetapi juga memperkenalkan kepedulian sosial kepada generasi muda melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan mereka di sekolah.

Bagi sebagian siswa, keputusan untuk mendonorkan darah untuk pertama kalinya tidak selalu mudah. Rasa takut terhadap jarum suntik hingga kekhawatiran tidak lolos pemeriksaan kesehatan menjadi hal yang sempat muncul sebelum proses donor dimulai.

Rafif, merupakan salah seorang siswa yang merasakan kecemasan tersebut ketika mengikuti donor darah untuk pertama kalinya.

"Awalnya gugup dan sedikit takut, takut sama jarum suntiknya walaupun sudah sering disuntik. Terus takut juga karena minggu kemarin sempat cek tensi rendah, takutnya enggak bisa donor," ujar Rafif, salah satu siswa SMKN 1 Banyuwangi saat pelaksanaan donor darah di sekolahnya, pada Senin (31/8).

Kekhawatiran itu akhirnya terjawab setelah ia menjalani pemeriksaan dan proses donor. Pengalaman tersebut membuat donor darah yang sebelumnya terasa menegangkan justru menjadi pengalaman baru yang bisa dilakukan secara sederhana.

Di sejumlah SMA/SMK sederajat, kegiatan donor darah kini diselenggarakan secara berkala dengan jeda sekitar tiga bulan. Pola tersebut membuat donor darah tidak lagi hanya muncul sebagai kegiatan sesekali, melainkan mulai menjadi bagian dari aktivitas positif siswa, berdampingan dengan organisasi dan ekstrakurikuler seperti Palang Merah Remaja (PMR).

Pelaksanaannya juga dibuat praktis. Unit Donor Darah (UDD) PMI mendatangi sekolah menggunakan fasilitas mobile unit sehingga siswa tidak perlu pergi ke tempat donor. Pemeriksaan kelayakan dilakukan langsung di lokasi sebelum pengambilan darah.

Siswa yang ingin menjadi donor setidaknya harus berusia 17 tahun, memiliki berat badan minimal 45 kilogram, dalam kondisi sehat, serta memenuhi hasil pemeriksaan yang dilakukan petugas, termasuk kadar hemoglobin (HB) dan tekanan darah.

Dengan pemeriksaan tersebut, siswa tidak perlu memaksakan diri ketika kondisi tubuh tidak memungkinkan untuk berdonor. Keputusan akhir mengenai kelayakan donor tetap berada pada hasil pemeriksaan petugas di lokasi.

Kebiasaan donor darah yang berlangsung secara berkala juga didukung oleh teknologi digital. Melalui aplikasi Ayo Donor, siswa dapat memantau jadwal kedatangan mobile unit PMI ke sekolah, melihat informasi stok darah secara real-time, dan mencatat riwayat donor melalui ponsel.

Teknologi tersebut membuat aktivitas donor lebih mudah dipantau sekaligus membantu siswa mengenali riwayat keterlibatan mereka dalam kegiatan kemanusiaan.

Apresiasi juga diberikan kepada para pendonor. Siswa yang telah mengikuti donor dapat memperoleh sertifikat penghargaan digital, sementara tanda pin diberikan kepada mereka yang telah mencapai jumlah donor tertentu.

Bagi pelajar, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan dasar secara berkala. Sebelum donor, peserta menjalani pemeriksaan seperti pengecekan kadar HB dan tekanan darah untuk menentukan apakah kondisi mereka memenuhi persyaratan.

Rafif pun mengajak generasi muda untuk tidak menjadikan rasa takut sebagai alasan untuk menghindari donor darah selama kondisi kesehatan memenuhi syarat.

"Kita sebagai anak muda zaman sekarang tidak boleh ragu untuk berdonor darah karena donor darah bukan sekadar bermanfaat bagi orang lain, tetapi bermanfaat bagi kesehatan kita juga. Salah satunya membantu merangsang pembentukan sel darah merah baru," tambahnya.

Setelah proses pengambilan darah, PMI bersama pihak sekolah turut memperhatikan kondisi peserta. Siswa mendapatkan snack box yang berisi susu, roti, dan vitamin, serta suplemen penambah darah sebagai bagian dari dukungan setelah donor.

Rutinitas tersebut sekaligus memberikan ruang bagi pelajar untuk belajar bahwa aksi kemanusiaan tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan besar. Dengan menyisihkan waktu untuk donor ketika memenuhi persyaratan, mereka dapat mengambil bagian dalam membantu orang lain sekaligus membangun kebiasaan sosial yang positif.

Keterlibatan pelajar dalam kegiatan donor darah juga menjadi modal penting untuk membangun budaya kepedulian sejak dini. Jika dilakukan secara konsisten dan didukung sekolah serta PMI, donor darah berpeluang menjadi salah satu kegiatan kemanusiaan yang melekat dalam kehidupan siswa.

Dari rasa takut terhadap jarum suntik hingga keberanian untuk mencoba, pengalaman para pendonor muda menunjukkan bahwa kepedulian sosial dapat tumbuh dari lingkungan terdekat. Sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mempraktikkan nilai kemanusiaan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
donor darah pelajar donor darah SMA SMK aksi kemanusiaan pelajar donor darah rutin sekolah PMI