Wabah Menari 1518: Ratusan Orang Tiba-Tiba Menari hingga Tubuh Mereka Tak Mampu Bertahan

Loanda Ajeng Rossiani • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 14:04 WIB
Ilustrasi Wabah Menari Strasbourg 1518, ketika ratusan warga dilaporkan mengalami dorongan untuk menari tanpa kendali di tengah tekanan sosial dan krisis kehidupan. (ChatGPT)
Ilustrasi Wabah Menari Strasbourg 1518, ketika ratusan warga dilaporkan mengalami dorongan untuk menari tanpa kendali di tengah tekanan sosial dan krisis kehidupan. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Pada Juli 1518, Frau Troffea keluar ke sebuah jalan sempit di Strasbourg dan mulai menari. Tidak ada pesta. Tidak ada musik yang mengiringi. Tidak ada alasan yang diketahui.

Namun, perempuan itu terus bergerak selama berhari-hari.

Apa yang semula tampak seperti perilaku aneh seseorang perlahan berubah menjadi peristiwa yang membuat satu kota panik. Dalam beberapa pekan, ratusan warga Strasbourg dilaporkan mengalami dorongan serupa untuk menari tanpa kendali. Mereka menari di jalan, melompat, berputar, dan terus bergerak meski tubuh mulai kelelahan.

Peristiwa yang berlangsung pada musim panas 1518 itu kemudian dikenal sebagai Dancing Plague of 1518 atau Wabah Menari 1518. Strasbourg saat itu merupakan bagian dari Kekaisaran Romawi Suci dan kini berada di wilayah Prancis.

Yang membuat kisah ini semakin ganjil bukan hanya jumlah orang yang terlibat, melainkan kenyataan bahwa para korban tampaknya tidak sedang berpesta. Mereka justru digambarkan mengalami gerakan yang tidak mampu mereka kendalikan.

Semuanya bermula dari seorang perempuan

Catatan mengenai peristiwa tersebut menyebut Frau Troffea sebagai orang pertama yang memulai tarian. Sejumlah sumber menempatkan awal kejadian pada 14 Juli 1518.

Ia menari tanpa iringan musik. Menurut catatan sejarah yang kemudian dikaji para peneliti, tarian itu berlangsung berhari-hari sebelum fenomena serupa mulai muncul pada warga lain. Dalam waktu singkat, jumlah orang yang ikut mengalami kondisi tersebut meningkat menjadi puluhan dan kemudian ratusan.

Pada pertengahan Agustus, jumlah penderita diperkirakan mencapai ratusan. Angkanya sering disebut sekitar 400 orang, meskipun jumlah pasti korban tidak dapat dipastikan dari catatan yang tersisa.

Bagi warga Strasbourg, keadaan itu tentu sulit dipahami. Mereka hidup pada masa ketika pengetahuan medis masih sangat terbatas dan penyakit kerap dikaitkan dengan keseimbangan cairan tubuh, kutukan, dosa, atau campur tangan kekuatan supranatural.

Maka, ketika semakin banyak orang mulai menari tanpa kendali, masyarakat membutuhkan penjelasan.

Tarian berubah menjadi penderitaan

Gerakan para korban bukan sekadar tarian biasa. Catatan mengenai wabah tersebut menggambarkan gerakan melompat dan menghentakkan kaki yang berlangsung berulang-ulang, bahkan ketika tubuh sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

Sebagian penderita dikisahkan terus bergerak selama berhari-hari dengan sedikit waktu untuk makan, minum, atau beristirahat. Mereka akhirnya mengalami kelelahan berat dan dapat mengalami cedera fisik. Sejumlah catatan sejarah juga menyebut adanya korban yang meninggal, meskipun rincian jumlah dan penyebab kematiannya masih menjadi bahan perdebatan.

Dalam situasi tersebut, pemerintah kota menghadapi persoalan yang sama sekali tidak mereka pahami.

Dan keputusan yang diambil justru terdengar ganjil jika dilihat dari masa kini.

Pemerintah Strasbourg justru menyediakan panggung dan musik

Para pejabat kota pada awalnya mengikuti pemahaman medis pada zamannya. Salah satu gagasan yang berkembang adalah bahwa kondisi tersebut disebabkan oleh apa yang disebut sebagai “darah panas”.

Jika tubuh dianggap mengalami panas berlebihan, maka para korban diyakini perlu terus bergerak agar panas tersebut keluar melalui aktivitas fisik.

Karena itu, pemerintah kota menyediakan ruang untuk menari. Panggung didirikan dan pemusik profesional didatangkan untuk membantu para penderita terus bergerak.

Alih-alih menyelesaikan persoalan, pendekatan tersebut justru membuat fenomena itu semakin terlihat di ruang publik. Catatan sejarah kemudian menunjukkan bahwa pemerintah akhirnya melarang kegiatan menari dan mengambil langkah yang lebih bernuansa keagamaan setelah upaya sebelumnya tidak berhasil.

Pada akhirnya, para penderita dibawa menuju tempat suci yang dikaitkan dengan Santo Vitus untuk mendapatkan pertolongan melalui ritual keagamaan. Wabah tersebut kemudian mereda sekitar September 1518.

Apakah warga Strasbourg keracunan jamur?

Berabad-abad setelah peristiwa itu, muncul upaya untuk memberikan penjelasan ilmiah.

Salah satu teori yang cukup terkenal adalah ergotisme, yaitu keracunan akibat jamur Claviceps purpurea yang dapat tumbuh pada tanaman serealia, terutama gandum hitam. Jamur tersebut menghasilkan senyawa yang dapat memengaruhi sistem saraf dan menyebabkan berbagai gejala, termasuk halusinasi dan kejang.

Teori ini sekilas terdengar masuk akal. Namun, ada persoalan besar.

Jika keracunan ergot menjadi penyebab utama, gejalanya tidak sepenuhnya cocok dengan gambaran wabah menari Strasbourg. Sejumlah ahli menilai bahwa penderita keracunan ergot akan sulit mempertahankan aktivitas fisik yang begitu intens selama berhari-hari.

Karena itu, teori jamur hingga kini lebih tepat disebut sebagai salah satu hipotesis, bukan jawaban pasti. National Geographic juga mencatat bahwa tidak ada satu teori pun yang telah menjelaskan fenomena tersebut secara definitif.

Penjelasan yang lebih kuat, tekanan psikologis massal

Salah satu penjelasan modern yang paling banyak dibahas adalah mass psychogenic illness atau penyakit psikogenik massal.

Gagasan ini dikembangkan secara khusus dalam kajian sejarawan medis John Waller. Menurut penjelasan tersebut, masyarakat Strasbourg pada 1518 berada dalam kondisi sosial dan psikologis yang sangat rentan.

Kelaparan, harga pangan, penyakit, kemiskinan, serta ketidakpastian kehidupan menciptakan tekanan berat. Di sisi lain, masyarakat hidup dengan keyakinan kuat terhadap kutukan dan hukuman dari kekuatan supranatural.

Salah satu keyakinan yang relevan adalah mengenai Santo Vitus. Dalam tradisi Eropa pada masa itu, Santo Vitus dikaitkan dengan gangguan yang dikenal sebagai “St. Vitus' Dance”. Ketakutan terhadap kutukan tersebut dapat menjadi bagian dari lingkungan psikologis yang membuat masyarakat lebih rentan terhadap fenomena kolektif.

Dengan kata lain, teori ini tidak mengatakan bahwa para korban berpura-pura.

Sebaliknya, gejala yang mereka alami dapat dipahami sebagai sesuatu yang dirasakan nyata oleh individu, tetapi dipengaruhi oleh tekanan psikologis dan konteks sosial yang sama-sama mereka alami.

Mengapa bisa menular ke ratusan orang?

Di sinilah Wabah Menari 1518 menjadi menarik bagi sejarah psikologi.

Seseorang mengalami gejala yang tidak biasa. Orang lain melihatnya. Masyarakat kemudian memberikan makna terhadap kejadian tersebut berdasarkan keyakinan yang sudah mereka miliki.

Ketika lingkungan sosial dipenuhi ketakutan, kelaparan, penyakit, dan kecemasan, fenomena psikologis tertentu dapat menyebar melalui interaksi sosial.

John Waller menyimpulkan bahwa penjelasan paling kredibel untuk kasus Strasbourg adalah penyakit psikogenik massal yang dipicu stres, bukan keracunan ergot. Namun, bahkan pendekatan tersebut tetap merupakan interpretasi sejarah dan bukan diagnosis medis terhadap para korban yang hidup lebih dari lima abad lalu.

Kajian akademik lain juga menekankan bahwa masyarakat Strasbourg sendiri memahami fenomena tersebut melalui dua kerangka sekaligus, yakni sebagai penyakit alami dan sebagai bentuk hukuman atau intervensi ilahi. Perubahan cara pandang inilah yang membuat Wabah Menari 1518 menarik bukan hanya bagi sejarah medis, tetapi juga bagi sejarah sosial dan keagamaan Eropa.

Lima abad kemudian, penyebabnya masih belum pasti

Wabah Menari Strasbourg berakhir, tetapi pertanyaannya tidak pernah benar-benar hilang.

Apakah para warga mengalami gangguan psikologis massal? Apakah kepercayaan terhadap kutukan Santo Vitus memperkuat ketakutan mereka? Apakah ada faktor lingkungan atau penyakit yang belum dapat diidentifikasi? Atau mungkin beberapa faktor bekerja secara bersamaan?

Tidak ada jawaban tunggal yang dapat dipastikan.

Justru ketidakpastian itulah yang membuat peristiwa 1518 tetap menarik. Wabah tersebut menunjukkan bahwa penyakit dan perilaku manusia tidak selalu dapat dipisahkan dari lingkungan sosial tempat seseorang hidup.

Di Strasbourg, tekanan hidup yang berat bertemu dengan ketakutan, kepercayaan agama, dan ketidaktahuan medis. Hasilnya adalah salah satu episode paling aneh dalam sejarah Eropa, ratusan orang bergerak tanpa mampu menghentikan tubuh mereka sendiri.

Lebih dari lima abad kemudian, Wabah Menari 1518 masih menjadi pengingat bahwa ketika sebuah masyarakat berada di bawah tekanan ekstrem, tubuh manusia dapat menunjukkan respons yang sama ekstremnya dan terkadang, sejarah membutuhkan waktu berabad-abad untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Wabah Menari 1518 Dancing Plague Frau Troffea Strasbourg 1518 Mass Psychogenic Illness