RADAR BANYUWANGI - Perkembangan teknologi transplantasi kini tidak hanya berfokus pada proses penanaman organ ke tubuh penerima.
Tahap sebelum operasi, yakni bagaimana menjaga organ donor tetap layak selama menunggu transplantasi, juga menjadi bagian penting yang terus dikembangkan.
Salah satu teknologi yang mendapat perhatian adalah machine perfusion atau mesin perfusi organ.
Perangkat ini memungkinkan organ donor dialiri cairan perfusi melalui pembuluh darahnya selama masa preservasi, berbeda dari static cold storage (SCS) yang menyimpan organ dalam kondisi dingin secara pasif.
Perkembangan tersebut kembali menjadi perhatian dalam penelitian transplantasi hati.
Sebuah meta-analisis yang diterbitkan pada 2026 melaporkan bahwa machine perfusion, dibandingkan dengan penyimpanan dingin statis, berkaitan dengan risiko lebih rendah terhadap early allograft dysfunction dan primary non-function.
Penelitian tersebut juga menemukan hasil graft survival satu tahun yang lebih baik.
Temuan itu tidak berarti mesin perfusi otomatis menggantikan metode penyimpanan konvensional.
Jenis organ, kondisi donor, metode perfusi, serta protokol yang digunakan tetap menjadi faktor penting dalam menentukan pendekatan preservasi.
Mengapa Organ Donor Perlu Dijaga?
Setelah organ diambil dari tubuh donor, aliran darah yang sebelumnya membawa oksigen dan berbagai zat penting ke jaringan terhenti.
Kondisi tersebut dapat memicu proses kerusakan pada tingkat sel apabila organ tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat.
Dalam transplantasi, organ kemudian harus melewati tahapan pengambilan, preservasi, transportasi, persiapan, hingga akhirnya ditanamkan pada penerima.
Periode antara pengambilan dan transplantasi menjadi salah satu tantangan penting karena kualitas organ harus tetap dipertahankan selama proses tersebut.
Selama ini, salah satu metode yang banyak digunakan adalah static cold storage.
Organ diberi larutan preservasi, kemudian disimpan dalam kondisi dingin untuk menekan aktivitas metabolisme.
Metode tersebut relatif sederhana dan memiliki kebutuhan logistik yang lebih rendah.
Karena itu, penyimpanan dingin statis masih menjadi bagian penting dalam praktik transplantasi organ.
Machine perfusion menawarkan pendekatan yang lebih aktif.
Organ tidak sekadar disimpan dalam kondisi dingin, tetapi ditempatkan pada perangkat khusus yang memungkinkan cairan perfusi dialirkan melalui sistem pembuluh darahnya.
Bagaimana Mesin Perfusi Bekerja?
Secara sederhana, organ donor ditempatkan pada perangkat perfusi, kemudian pembuluh darahnya dihubungkan dengan sebuah sirkuit.
Pompa mengalirkan cairan perfusi melalui pembuluh darah tersebut sehingga jaringan organ tetap mendapatkan lingkungan yang dirancang untuk mendukung preservasi.
Sistem tertentu dilengkapi dengan reservoir cairan, pengatur suhu, oksigenator, pompa, serta sensor untuk memantau parameter selama perfusi berlangsung.
Keberadaan sistem tersebut membuat preservasi organ menjadi proses yang lebih aktif.
Tim medis dapat memperoleh informasi tambahan mengenai kondisi organ selama berada dalam mesin, tergantung pada desain dan protokol perangkat yang digunakan.
Kemampuan untuk melakukan pemantauan menjadi salah satu perbedaan penting dibandingkan dengan penyimpanan dingin statis.
Pada SCS, organ berada dalam kondisi metabolisme yang ditekan selama penyimpanan.
Sementara itu, machine perfusion memungkinkan aliran cairan diberikan secara terus-menerus melalui organ dan, pada sistem tertentu, kondisi organ dapat dipantau selama proses tersebut.
HMP dan NMP Memiliki Pendekatan Berbeda
Machine perfusion tidak hanya memiliki satu metode.
Salah satu perbedaannya berkaitan dengan suhu yang digunakan selama proses preservasi.
Hypothermic machine perfusion atau HMP mempertahankan organ dalam kondisi dingin.
Suhu rendah digunakan untuk menekan aktivitas metabolisme sehingga kebutuhan jaringan terhadap oksigen dan energi dapat dikurangi.
Sementara itu, normothermic machine perfusion atau NMP mempertahankan organ pada kondisi yang lebih mendekati suhu fisiologis.
Dalam keadaan tersebut, aktivitas biologis organ dapat berlangsung lebih aktif selama proses perfusi.
Perbedaan karakteristik tersebut membuat HMP dan NMP memiliki tujuan serta pertimbangan teknis masing-masing.
Pemilihan metode tidak dapat dilepaskan dari jenis organ dan kondisi yang dihadapi tim transplantasi.
Teknologi perfusi telah dikembangkan untuk sejumlah organ, termasuk ginjal, hati, dan jantung.
Rancangan perangkat serta protokol perfusinya disesuaikan dengan karakteristik fisiologis organ yang ditangani.
Bukan Sekadar Menyimpan, tetapi Juga Menilai Organ
Salah satu potensi penting dari machine perfusion adalah memberikan informasi tambahan mengenai kelayakan organ sebelum transplantasi.
Dalam sistem tertentu, tim transplantasi dapat mengamati sejumlah parameter selama organ mendapatkan perfusi.
Informasi tersebut dapat membantu memberikan gambaran mengenai kondisi organ sebelum keputusan transplantasi dibuat.
Kemampuan ini menjadi semakin relevan ketika organ berasal dari donor dengan karakteristik tertentu yang membuat penilaiannya lebih kompleks.
Dengan adanya kesempatan untuk mengevaluasi organ selama proses preservasi, machine perfusion juga berpotensi membantu memperluas donor pool.
Organ yang sebelumnya mungkin dianggap memiliki risiko lebih tinggi atau berpotensi tidak digunakan dapat memperoleh kesempatan untuk dievaluasi lebih lanjut sebelum keputusan akhir diambil.
Namun, penilaian tersebut tetap berada dalam kerangka keputusan medis.
Tidak semua organ yang mendapatkan perfusi kemudian otomatis dinyatakan layak untuk transplantasi.
Penelitian pada Ginjal Menunjukkan Potensi Manfaat
Potensi manfaat machine perfusion juga terlihat pada transplantasi ginjal.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis menemukan bahwa hypothermic machine perfusion berkaitan dengan penurunan kejadian delayed graft function dibandingkan dengan static cold storage.
Delayed graft function merupakan kondisi ketika ginjal hasil transplantasi belum segera berfungsi sebagaimana diharapkan setelah operasi.
Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam transplantasi ginjal, terutama ketika organ berasal dari donor dengan karakteristik tertentu.
Hasil penelitian tersebut memperkuat perhatian terhadap penggunaan perfusi mesin sebagai salah satu strategi untuk mempertahankan kualitas organ sebelum transplantasi.
Meski demikian, hasil penelitian perlu dibaca sesuai konteks.
Jenis donor, karakteristik organ, protokol perfusi, dan kondisi penerima dapat memengaruhi hasil transplantasi.
Temuan 2026 pada Transplantasi Hati
Pada transplantasi hati, bukti terbaru juga memberikan gambaran mengenai potensi machine perfusion.
Meta-analisis yang diterbitkan pada 2026 melaporkan hubungan antara machine perfusion dan risiko yang lebih rendah terhadap early allograft dysfunction serta primary non-function jika dibandingkan dengan static cold storage.
Penelitian tersebut juga melaporkan hasil graft survival satu tahun yang lebih baik.
Early allograft dysfunction menggambarkan gangguan fungsi hati donor pada periode awal setelah transplantasi.
Sementara primary non-function merupakan kondisi ketika organ hasil transplantasi gagal berfungsi sejak awal dan dapat menjadi komplikasi serius.
Temuan tersebut menjadi alasan teknologi machine perfusion terus mendapat perhatian dalam penelitian transplantasi hati.
Namun, hasil penelitian tidak dapat diterapkan secara seragam pada seluruh organ karena metode perfusi dan karakteristik donor dapat berbeda.
Teknologi Lebih Canggih, Tantangannya Juga Bertambah
Di balik potensinya, machine perfusion memiliki sejumlah keterbatasan.
Perangkat ini membutuhkan mesin khusus, cairan perfusi, sistem pemantauan, serta tenaga medis yang memahami pengoperasiannya.
Konsekuensinya, biaya dan kebutuhan logistik dapat lebih tinggi dibandingkan dengan static cold storage.
Prosedurnya juga lebih kompleks.
Gangguan pada mesin atau kesalahan dalam pengoperasian dapat memengaruhi proses preservasi organ.
Tantangan tersebut menjadi perhatian khusus pada normothermic machine perfusion.
Karena organ berada dalam kondisi metabolisme yang lebih aktif, sistem perfusi harus mampu bekerja secara konsisten untuk mempertahankan lingkungan yang diperlukan selama proses berlangsung.
Artinya, penggunaan teknologi ini tidak hanya membutuhkan perangkat, tetapi juga sistem pelayanan yang mampu mendukung pengoperasian dan pemantauan secara tepat.
Masa Depan Preservasi Organ
Perbedaan paling mendasar antara static cold storage dan machine perfusion terletak pada cara keduanya mempertahankan organ.
SCS menggunakan pendekatan pasif dengan menurunkan suhu untuk memperlambat metabolisme.
Machine perfusion menggunakan pendekatan aktif dengan mengalirkan cairan melalui sistem pembuluh darah organ dan, pada metode tertentu, memungkinkan pemantauan kondisi organ selama preservasi.
Pendekatan tersebut membuka peluang baru dalam menghadapi salah satu tantangan utama transplantasi, yakni mempertahankan kualitas organ sejak diperoleh dari donor hingga siap ditanamkan kepada penerima.
Mesin perfusi juga menawarkan kemungkinan untuk memperpanjang atau mengoptimalkan periode preservasi pada kondisi tertentu serta membantu proses penilaian organ.
Namun, manfaat tersebut tetap harus ditimbang bersama biaya, kebutuhan tenaga terlatih, kompleksitas operasional, dan bukti klinis yang terus berkembang.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa kemajuan transplantasi tidak hanya terjadi di ruang operasi.
Teknologi untuk mempertahankan organ sebelum transplantasi juga terus berkembang dan menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan pemanfaatan organ donor.
Machine perfusion bukan sekadar mesin untuk menyimpan organ.
Teknologi ini merupakan pendekatan preservasi yang memungkinkan organ mendapatkan aliran cairan secara aktif sekaligus membuka peluang pemantauan selama masa sebelum transplantasi.
Perkembangan penelitian pada ginjal dan hati menunjukkan potensi yang menjanjikan, tetapi penerapan klinis tetap membutuhkan protokol yang tepat, sumber daya memadai, serta penelitian lebih lanjut untuk menentukan metode terbaik bagi setiap jenis organ dan karakteristik donor.
Editor : Lugas Rumpakaadi