RADAR BANYUWANGI — Universitas Dr Soekardjo (Unidsoe) Banyuwangi didorong naik kelas: bukan hanya mencetak lulusan yang siap masuk dunia kerja, tetapi juga melahirkan pengusaha dan eksportir muda yang mampu membawa produk lokal menembus pasar global.
Dorongan itu disampaikan Menteri Perdagangan (Mendag) RI Dr Budi Santoso saat memberikan kuliah umum di Auditorium GBK Unidsoe, Jumat (28/8). Momentum tersebut sekaligus memperkuat dua program studi yang memiliki keterkaitan langsung dengan ekonomi global, yakni S1 Perdagangan Internasional dan S1 Manajemen Bisnis Internasional.
Dalam kuliah umum bertema “Memperkuat Posisi Banyuwangi Menjadi Gerbang Perdagangan Internasional”, Budi menegaskan pendidikan perdagangan memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi muda menghadapi persaingan ekonomi global.
Menurut dia, mahasiswa perlu memahami bukan hanya teori perdagangan, tetapi juga mekanisme pasar, tata niaga internasional, hingga strategi pemasaran.
“Pendidikan di bidang perdagangan membekali generasi muda dengan pemahaman mendalam mengenai mekanisme pasar, tata niaga internasional, dan strategi pemasaran yang andal untuk menghadapi persaingan global yang semakin ketat,” tegas Budi.
Mahasiswa Tak Harus Punya Produk untuk Jadi Eksportir
Salah satu tawaran konkret yang dibawa Mendag adalah program Kampuspreneur. Program ini dirancang agar mahasiswa mulai membangun jiwa kewirausahaan sejak masih berada di bangku kuliah.
Menariknya, mahasiswa tidak harus memiliki produk sendiri untuk terjun ke bisnis ekspor. Mereka bisa mengambil peran sebagai agregator, yakni mencari produk-produk unggulan dari pelaku UMKM untuk kemudian dikembangkan dan dipasarkan ke pasar internasional.
“Kalau anak-anak mahasiswa ini mungkin enggak punya barang, dia bisa menjadi semacam agregator. Agregator itu ya eksportirnya saja, kemudian mencari produk UMKM,” ujar Budi.
Skema tersebut membuat mahasiswa memiliki peluang belajar bisnis secara langsung. Kemendag siap memberikan pendampingan dari hulu hingga hilir, mulai pencarian dan pengembangan produk UMKM, standardisasi, hingga pelatihan ekspor.
Setelah produk dinilai siap, mahasiswa juga dapat memanfaatkan jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri untuk mempertemukan produk dengan calon pembeli atau buyer.
Saat ini, Kemendag memiliki perwakilan perdagangan di 46 negara, terdiri atas Atase Perdagangan di 33 negara serta kantor Indonesian Trade Promotion Center (ITPC).
Unidsoe Didorong Ikut Trade Expo Indonesia
Peluang tersebut tidak berhenti pada program kampus. Budi juga mengundang Unidsoe berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 yang dijadwalkan berlangsung pada 14–18 Oktober.
Unidsoe akan disiapkan memiliki booth khusus Kampuspreneur untuk memamerkan produk karya mahasiswa maupun produk hasil pengembangan kampus.
Kesempatan itu dinilai dapat menjadi jembatan bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung bagaimana sebuah produk dipersiapkan sebelum masuk pasar yang lebih luas.
Bagi Banyuwangi, peluang tersebut menjadi semakin relevan karena daerah ini memiliki beragam komoditas dan produk potensial.
Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono mengatakan kehadiran Mendag memberikan kesempatan berharga bagi civitas akademika dan generasi muda untuk memahami secara langsung arah kebijakan perdagangan nasional.
Dia menyebut Banyuwangi memiliki modal besar untuk mengambil bagian dalam rantai perdagangan global. Potensi tersebut tersebar mulai sektor pertanian, perikanan, pariwisata, ekonomi kreatif, hingga UMKM.
Laboratorium Ekspor Impor hingga Inkubator Bisnis
Di sisi lain, Unidsoe mulai menyiapkan ekosistem kampus agar peluang tersebut tidak berhenti sebagai materi kuliah.
Rektor Unidsoe Dr Soekardjo mengatakan kampus terus memperkuat pembelajaran yang mendukung perdagangan internasional dan kewirausahaan. Salah satunya melalui peluncuran Laboratorium Ekspor Impor dan Inkubator Bisnis.
Kedua fasilitas tersebut diharapkan membuat mahasiswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mendapatkan pengalaman praktis. Mulai proses ekspor, pengembangan produk, hingga membangun jejaring bisnis.
Transformasi Unidsoe juga menjadi bagian penting dari arah pengembangan tersebut. Kampus yang sebelumnya bernama Stikes Banyuwangi itu bertransformasi menjadi universitas pada 2025.
Kini Unidsoe memiliki dua fakultas dengan total 11 program studi.
Fakultas Ilmu Sosial dan Teknologi (Fistek) menaungi S1 Manajemen Bisnis Internasional, S1 Perdagangan Internasional, dan S1 Sistem Informasi.
Sementara Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) menaungi S1 Keperawatan, Profesi Ners, S1 Kebidanan, Profesi Bidan, S1 Gizi, D4 Teknologi Laboratorium Medis, D3 Keperawatan, dan D3 Farmasi.
Penguatan program studi perdagangan, Laboratorium Ekspor Impor, dan Inkubator Bisnis membuat orientasi Unidsoe semakin luas. Kampus tidak hanya diposisikan sebagai tempat memperoleh gelar, tetapi juga sebagai ruang untuk menguji ide bisnis dan menyiapkan generasi pelaku usaha.
“Dengan penguatan program studi perdagangan, Laboratorium Ekspor Impor, Inkubator Bisnis, serta peluang mengikuti Kampuspreneur dan TEI, Unidsoe diarahkan tidak sekadar menjadi tempat belajar, tetapi juga inkubator lahirnya eksportir dan pengusaha muda Banyuwangi,” pungkasnya. (fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin