Kecerdasan Bukan Takdir Sejak Lahir, Sains Ungkap Pentingnya Latihan dan Lingkungan

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 13:19 WIB
Kecerdasan tidak berhenti pada bakat bawaan. Proses belajar, latihan terarah, evaluasi, dan lingkungan yang mendukung berperan dalam mengubah potensi menjadi kemampuan nyata. (ChatGPT)
Kecerdasan tidak berhenti pada bakat bawaan. Proses belajar, latihan terarah, evaluasi, dan lingkungan yang mendukung berperan dalam mengubah potensi menjadi kemampuan nyata. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Anggapan bahwa seseorang terlahir sebagai “jenius” dan otomatis mampu meraih keahlian tanpa proses panjang semakin sulit dipertahankan.

Penelitian dalam bidang genetika dan psikologi justru menunjukkan bahwa kemampuan bawaan hanyalah titik awal.

Potensi tersebut perlu dikembangkan melalui latihan, pendidikan, evaluasi, dan lingkungan yang mendukung.

Salah satu rujukan yang kerap dibahas dalam penelitian mengenai kemampuan kognitif adalah studi terhadap saudara kembar dalam Minnesota Twin Family Study.

Temuan penelitian tersebut menunjukkan bahwa tingkat heritabilitas IQ dapat berada pada kisaran 50 hingga 70 persen.

Namun, angka tersebut tidak berarti kemampuan seseorang sudah ditentukan sepenuhnya sejak lahir.

Heritabilitas menggambarkan seberapa besar variasi suatu sifat dalam kelompok tertentu yang berkaitan dengan faktor genetik.

Karena itu, nilainya tidak dapat diterjemahkan sebagai kepastian bahwa separuh atau sebagian besar kecerdasan seseorang sudah “terkunci” oleh DNA.

Dalam kehidupan nyata, kemampuan berkembang melalui proses yang jauh lebih kompleks.

Faktor genetik memang menyediakan modal biologis, tetapi pengalaman belajar, kualitas pendidikan, pola asuh, kesempatan berlatih, serta lingkungan sosial turut menentukan bagaimana potensi itu berkembang menjadi keterampilan nyata.

Gambaran tersebut terlihat pada sosok yang selama ini sering dianggap sebagai simbol kejeniusan sejak lahir, seperti Wolfgang Amadeus Mozart.

Demikian pula dengan pecatur Bobby Fischer yang dikenal memiliki kemampuan luar biasa dalam permainan catur.

Di balik pencapaian mereka terdapat proses latihan yang dilakukan sejak usia dini dan berlangsung secara intensif.

Salah satu pendekatan yang relevan adalah deliberate practice atau latihan terarah.

Metode ini bukan sekadar mengulang aktivitas yang sama, melainkan latihan yang disusun untuk memperbaiki kelemahan tertentu.

Seseorang dituntut mengenali kesalahan, menerima umpan balik, memperbaiki teknik, lalu mengulanginya secara disiplin.

Dengan pola tersebut, kemajuan tidak lagi bergantung pada anggapan bahwa seseorang harus memiliki “bakat sempurna” sejak awal.

Keahlian justru dibangun sedikit demi sedikit melalui proses yang terukur.

Pandangan serupa disampaikan pakar psikologi dari Stanford University, Dr. Carol Dweck, dalam simposium internasional tentang perkembangan anak dan pendidikan di San Francisco, California, Amerika Serikat, pada April 2016.

“Tidak ada kejeniusan murni yang berdiri sendiri tanpa proses belajar. Otak manusia memiliki fleksibilitas tinggi yang akan terus berkembang setiap kali seseorang dihadapkan pada latihan yang menantang,” tegas Dr. Carol Dweck.

Ia juga menekankan risiko dari anggapan bahwa kejeniusan merupakan sesuatu yang hadir begitu saja tanpa perlu diasah.

“Meyakini bahwa seseorang bisa jenius begitu saja tanpa proses justru mematikan potensi belajar dan membuat orang mudah menyerah saat menghadapi kesulitan,” tambahnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
kecerdasan dan genetika deliberate practice psikologi pendidikan bakat dan kemampuan perkembangan otak