Makan Pagi, Siang, Malam Disebut Kebiasaan Sosial, Bukan Kebutuhan Mutlak Tubuh

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 13:14 WIB
Kebiasaan makan tiga kali sehari telah menjadi bagian dari rutinitas masyarakat modern dan kembali dipertanyakan dari sudut pandang ritme biologis. (ChatGPT)
Kebiasaan makan tiga kali sehari telah menjadi bagian dari rutinitas masyarakat modern dan kembali dipertanyakan dari sudut pandang ritme biologis. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Bagi banyak orang, makan pagi, siang, dan malam terasa seperti aturan yang sudah melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Jadwal tersebut bahkan kerap dianggap sebagai kebutuhan mutlak agar tubuh tetap sehat.

Namun, pandangan itu tidak sepenuhnya sesederhana yang selama ini diyakini.

Dalam perspektif yang disampaikan pakar ritme sirkadian Prof. Satchin Panda, pola makan tiga kali sehari bukanlah satu-satunya pola yang secara biologis wajib dijalankan manusia.

Menurut dia, kebiasaan makan pada jam-jam tertentu lebih banyak berkaitan dengan rutinitas sosial dan perkembangan kehidupan modern dibandingkan dengan ketentuan alami tubuh.

Pandangan tersebut disampaikan dalam simposium penelitian mengenai kesehatan dan jam biologis di La Jolla, California, Amerika Serikat, pada Oktober 2018, dan kemudian dimuat dalam bukunya, The Circadian Code.

Panda menyoroti kebiasaan masyarakat modern yang bukan hanya makan tiga kali sehari, tetapi juga sering disertai camilan di antara waktu makan.

Ia menilai pola tersebut perlu dilihat dari sudut pandang evolusi manusia.

“Pola makan paling umum di masyarakat modern, yaitu tiga kali makan ditambah camilan setiap hari, sebenarnya sangat tidak normal jika dilihat dari sudut pandang evolusi manusia,” tegas Prof. Satchin Panda.

Dalam uraian yang sama, Panda juga menekankan pentingnya memberikan waktu istirahat bagi sistem pencernaan dan organ metabolisme.

“Sistem pencernaan dan organ metabolisme kita membutuhkan rentang waktu istirahat yang cukup, bukan dipaksa bekerja terus-menerus mengikuti patokan jam dinding,” tambahnya.

Pandangan mengenai pola makan tersebut berangkat dari gambaran kehidupan manusia pada masa lalu yang lebih fleksibel dalam memperoleh makanan.

Ketersediaan bahan pangan tidak selalu memungkinkan orang makan pada waktu yang sama setiap hari.

Pola makan kemudian berubah seiring berkembangnya struktur kehidupan sosial, pekerjaan, dan budaya.

Materi yang menjadi rujukan artikel ini juga mengaitkan terbentuknya kebiasaan makan terjadwal dengan perkembangan masyarakat modern.

Rutinitas tersebut disebut berhubungan dengan kebutuhan kedisiplinan pada era pelayaran, pengaturan jam kerja pada masa Revolusi Industri, hingga pengaruh promosi pangan pada abad ke-20.

Dari sudut pandang ini, rasa lapar yang muncul pada waktu tertentu tidak selalu dapat dipahami sebagai tanda bahwa tubuh dalam kondisi kekurangan energi.

Kebiasaan yang berlangsung berulang-ulang dapat membuat tubuh terbiasa menerima makanan pada jam tertentu sehingga muncul dorongan makan ketika waktu tersebut tiba.

Namun, gagasan tersebut bukan berarti masyarakat harus mengabaikan kebutuhan nutrisi atau berhenti memperhatikan jadwal makan.

Kebutuhan energi dan pola makan tetap dipengaruhi oleh kondisi setiap individu, termasuk aktivitas harian dan keadaan tubuh.

Karena itu, pemahaman mengenai waktu makan sebaiknya tidak diterjemahkan sebagai ajakan mengikuti satu pola tertentu secara seragam.

Editor : Lugas Rumpakaadi
ritme sirkadian makan tiga kali sehari Satchin Panda kesehatan metabolisme pola makan