RADAR BANYUWANGI - Liquefied Natural Gas (LNG) semakin mendapat perhatian dalam industri pelayaran sebagai salah satu pilihan bahan bakar alternatif untuk kapal.
Gas alam yang telah didinginkan hingga berubah menjadi cair itu memiliki volume jauh lebih kecil dibandingkan bentuk gasnya, sehingga dapat disimpan dan digunakan sebagai bahan bakar dengan sistem khusus.
Di sektor pelayaran, LNG dapat dimanfaatkan melalui mesin berbahan bakar gas maupun teknologi dual-fuel.
Sistem dual-fuel memungkinkan kapal menggunakan LNG sekaligus bahan bakar konvensional, sehingga pengoperasian kapal dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi operasional.
Pemanfaatan LNG sebenarnya bukan teknologi baru.
Sistem propulsi berbahan bakar gas telah diterapkan pada berbagai jenis kapal, sementara perkembangan mesin dual-fuel membuat penggunaan gas sebagai bahan bakar semakin fleksibel.
Teknologi tersebut juga dinilai telah mencapai tingkat kematangan yang cukup tinggi, meskipun desain sistem tetap harus disesuaikan dengan jenis kapal dan pola pelayarannya.
Salah satu karakter utama kapal berbahan bakar LNG terletak pada sistem penyimpanannya.
LNG harus ditempatkan dalam tangki khusus yang mampu mempertahankan suhu sangat rendah agar bahan bakar tetap dalam kondisi cair.
Tangki tersebut membutuhkan isolasi dan rancangan teknis yang berbeda dari tangki bahan bakar minyak pada umumnya.
Saat akan digunakan, LNG dialirkan melalui sistem bahan bakar dan diproses menjadi gas sebelum masuk ke mesin untuk pembakaran.
Rangkaian penyimpanan hingga penyaluran ini membuat kapal LNG memerlukan konfigurasi teknis yang lebih kompleks dibandingkan kapal yang hanya menggunakan bahan bakar minyak.
Keunggulan LNG terutama berkaitan dengan profil emisinya.
Pembakaran gas alam dapat menghasilkan emisi sulfur oksida (SOx) dan partikulat pada tingkat yang sangat rendah dibandingkan sejumlah bahan bakar minyak konvensional.
Pada konfigurasi mesin tertentu, penggunaan LNG juga dapat membantu menekan emisi nitrogen oksida (NOx).
Penggunaan LNG juga berpotensi menurunkan emisi karbon dioksida (CO₂) dibandingkan sebagian bahan bakar minyak karena gas alam memiliki kandungan karbon yang lebih rendah.
Namun, penilaian manfaat iklimnya tidak cukup hanya melihat emisi dari proses pembakaran.
Ada persoalan lain yang menjadi perhatian, yakni methane slip atau pelepasan metana yang tidak terbakar.
Karena LNG pada dasarnya didominasi metana, kebocoran atau pelepasan metana ke atmosfer dapat mengurangi manfaat pengurangan emisi gas rumah kaca.
Metana merupakan gas rumah kaca yang memiliki dampak pemanasan yang kuat, sehingga pengendaliannya menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi LNG.
Dari sisi operasional, kapal LNG juga membutuhkan fasilitas bunkering khusus.
Pengisian LNG tidak dapat diperlakukan sama seperti pengisian bahan bakar minyak karena bahan bakar tersebut bersifat kriogenik dan harus ditangani dengan prosedur serta peralatan yang sesuai.
Fasilitas bunkering dapat dibangun di pelabuhan maupun dilakukan melalui metode ship-to-ship, bergantung pada karakteristik operasi kapal dan kesiapan infrastruktur di wilayah tersebut.
Ketersediaan fasilitas menjadi faktor penting karena jaringan bunkering LNG belum tersebar merata di seluruh dunia.
Aspek keselamatan menjadi perhatian lain dalam penerapan LNG.
Bahan bakar ini berkaitan dengan gas yang mudah terbakar sekaligus disimpan pada temperatur yang sangat rendah.
Karena itu, kapal membutuhkan rancangan khusus untuk tangki, ventilasi, deteksi gas, sistem kendali, serta prosedur operasi dan penanganan keadaan darurat.
Kerangka keselamatan internasional untuk kapal yang menggunakan gas atau bahan bakar dengan titik nyala rendah telah diperkuat melalui International Code of Safety for Ships Using Gases or Other Low-Flashpoint Fuels atau IGF Code.
Kode tersebut mulai berlaku pada 1 Januari 2017 dan mengatur berbagai aspek, termasuk pemasangan, pengendalian, pemantauan, serta penggunaan mesin dan sistem bahan bakar.
Di tengah berbagai keunggulan tersebut, LNG tetap menghadapi sejumlah kendala.
Tangki kriogenik membutuhkan ruang lebih besar sehingga dapat memengaruhi tata letak dan fleksibilitas desain kapal.
Investasi awal juga dapat meningkat karena kapal memerlukan mesin, tangki, sistem bahan bakar, dan perangkat pendukung yang dirancang khusus.
Kesenjangan infrastruktur bunkering menjadi tantangan berikutnya.
Kapal yang beroperasi lintas wilayah membutuhkan kepastian bahwa LNG dapat diperoleh di pelabuhan yang menjadi bagian dari rutenya.
Tanpa jaringan pasokan yang memadai, manfaat teknologi dual-fuel dan fleksibilitas operasional dapat berkurang.
Pada akhirnya, LNG menawarkan kombinasi teknologi mesin yang relatif matang, potensi penurunan sejumlah polutan udara, dan fleksibilitas melalui sistem dual-fuel.
Namun, LNG bukan solusi yang berdiri sendiri untuk seluruh tantangan dekarbonisasi pelayaran.
Keberhasilan penerapannya akan sangat ditentukan oleh kemampuan industri mengembangkan sistem penyimpanan dan bunkering yang lebih efisien, meningkatkan keselamatan, serta mengendalikan methane slip.
Dengan demikian, masa depan LNG di sektor pelayaran tidak hanya bergantung pada tersedianya mesin yang mampu menggunakan gas, tetapi juga pada perkembangan seluruh ekosistem teknologi dan infrastrukturnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi