79 Siswa SD di Glagah Belajar dari Alam, Catatan Jadi Bekal Cerita di Sekolah

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 22:30 WIB
BAHAN CERITA: Siswa SD asal Gugus 3 Glagah mencatat pengalaman saat berkunjung ke Sumbr Gedor, Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Rabu (26/8). (Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)
BAHAN CERITA: Siswa SD asal Gugus 3 Glagah mencatat pengalaman saat berkunjung ke Sumbr Gedor, Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Rabu (26/8). (Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Sebanyak 79 siswa SD dari Gugus 3 Kecamatan Glagah, Banyuwangi, mengubah wisata menjadi ruang belajar terbuka melalui program Wisata Edukasi Sejak Usia Dini (Wis Esa Sek Adi), Rabu (26/8). Tak sekadar menikmati suasana alam, para siswa membawa buku tulis untuk mencatat pengetahuan yang mereka temukan di Sumber Gedor dan Tempat Penampungan Air PUDAM Banyuwangi di Kecamatan Kalipuro.

Kegiatan tersebut menjadi pengalaman belajar langsung di luar kelas. Siswa diajak melihat, mengamati, mencatat, kemudian merangkum pengalaman yang diperoleh untuk diceritakan kembali kepada teman-teman di sekolah.

Program Wis Esa Sek Adi kali ini melibatkan siswa dari enam sekolah dasar yang tergabung dalam Gugus 3 Kecamatan Glagah. Mereka mengunjungi dua lokasi yang memiliki nilai edukasi sekaligus berkaitan dengan lingkungan dan sumber daya air.

Destinasi pertama adalah Sumber Gedor di Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro. Begitu tiba, siswa tampak antusias mengikuti materi yang diberikan.

Di kawasan sumber air yang dikelilingi vegetasi dan lingkungan masih asri tersebut, siswa diajak mengenali kondisi alam secara langsung. Mereka mengamati sumber air, tumbuhan, serta lingkungan di kawasan yang luasnya mencapai belasan hektare.

Suasana belajar pun berbeda dari ruang kelas. Jika biasanya pengetahuan tentang sumber air diperoleh melalui buku atau penjelasan guru, kali ini siswa bisa melihat langsung mata air dan kondisi lingkungan di sekitarnya.

Buku Tulis Jadi Teman Belajar

Yang menarik, para siswa tidak hanya menjadi pendengar. Buku tulis yang mereka bawa digunakan untuk mencatat berbagai informasi dan pengalaman selama perjalanan.

Catatan itu kemudian dirangkum menjadi bahan belajar yang dapat dibawa kembali ke sekolah. Dengan cara tersebut, pengalaman selama wisata tidak berhenti ketika rombongan meninggalkan lokasi.

Salah satu guru SDN 3 Tamansuruh, Suwandi, mengatakan siswa memang diberi tugas untuk mencatat pengetahuan yang mereka dapatkan selama mengikuti Wis Esa Sek Adi.

“Anak-anak kami tugaskan untuk mencatat apa yang mereka dapat, ditulis di buku dan dibuat rangkuman. Setelah sampai di sekolah, bisa diterangkan kepada teman-temannya,” ujarnya.

Menurut Suwandi, pembelajaran di alam membuat siswa lebih bersemangat. Mereka dapat menyaksikan langsung objek yang selama ini mungkin hanya dikenali melalui buku pelajaran.

“Anak-anak sangat bersemangat karena bisa melihat langsung mata air di Sumber Gedor,” ujar guru PJOK tersebut.

Setelah dari Sumber Gedor, rombongan melanjutkan kegiatan ke Tempat Penampungan Air PUDAM Banyuwangi di Kelurahan/Kecamatan Kalipuro. Lokasi tersebut menjadi bagian lain dari pembelajaran mengenai air dan pemanfaatannya.

Bagi siswa, perjalanan itu bukan hanya tentang berpindah dari satu destinasi ke destinasi lain. Setiap tempat menjadi sumber pengetahuan baru yang bisa diamati dan dicatat.

Belajar Melihat, Mencatat, lalu Bercerita

Konsep Wis Esa Sek Adi menempatkan pengalaman langsung sebagai bagian penting dalam proses belajar. Siswa tidak hanya melihat objek, tetapi juga didorong untuk mengolah informasi melalui catatan dan menceritakannya kembali.

Zahrayu Baiti, siswa SDN Kenjo, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut. Menurut dia, banyak pengetahuan baru yang didapat, terutama mengenai Sumber Gedor.

“Sangat senang karena bisa dapat banyak pelajaran, mulai dari sejarah Sumber Gedor hingga kegunaan air,” pungkasnya.

Bagi 79 siswa tersebut, sehari di alam akhirnya bukan sekadar perjalanan wisata. Ada pengetahuan tentang sumber air, lingkungan, sejarah, hingga pengalaman mengamati langsung yang dibawa pulang dalam bentuk catatan.

Dari sana, pembelajaran berlanjut di sekolah: pengalaman yang dilihat di lapangan diingat, ditulis, dirangkum, lalu diceritakan kembali. Cara sederhana itu membuat wisata edukasi menjadi pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kehidupan nyata sekaligus menumbuhkan kepedulian siswa terhadap lingkungan sekitar. (ray/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
Wis Esa Sek Adi Sumber Gedor Glagah Banyuwangi siswa sd wisata edukasi