Limbah Tinja dan Ancaman Pencemaran, Perlu Rutin Rawat Septic Tank

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:56 WIB
Perawatan dan penyedotan septic tank secara berkala menjadi bagian penting dalam menjaga sanitasi rumah tangga dan mencegah risiko pencemaran lingkungan. (ChatGPT)
Perawatan dan penyedotan septic tank secara berkala menjadi bagian penting dalam menjaga sanitasi rumah tangga dan mencegah risiko pencemaran lingkungan. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Banyuwangi tidak hanya membutuhkan lingkungan yang bersih secara kasatmata, tetapi juga sistem pengelolaan limbah domestik yang aman.

Salah satu persoalan yang kerap luput dari perhatian adalah pengelolaan kotoran manusia setelah proses buang air besar dan penyiraman toilet selesai dilakukan.

Di banyak rumah, limbah tinja masih ditampung di dalam septic tank untuk kemudian diuraikan secara alami oleh bakteri.

Sistem tersebut dapat berfungsi dengan baik selama tangki dirawat dan dikuras secara berkala.

Penggunaan bahan kimia yang terlalu keras juga perlu dihindari karena dapat mengganggu mikroorganisme yang berperan dalam proses penguraian.

Bagi daerah seperti Banyuwangi, keberadaan septic tank rumah tangga yang terawat menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas lingkungan.

Tangki yang tidak pernah disedot berisiko mengalami penumpukan lumpur dan menurunkan efektivitas pengolahan limbah.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko pencemaran lingkungan dan sumber air tanah.

Pengelolaan limbah dengan sistem terpusat sebenarnya menawarkan pendekatan yang lebih terpadu.

Di sejumlah negara dengan sistem sanitasi maju, septic tank individual secara bertahap mulai digantikan oleh Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALDT) yang menggunakan jaringan perpipaan.

Pengolahan dilakukan melalui beberapa tahapan sebelum air hasil olahan dilepas kembali ke lingkungan, termasuk proses sterilisasi seperti penggunaan sinar ultraviolet.

Namun, penerapan sistem terpusat di Indonesia masih menghadapi keterbatasan cakupan dan infrastruktur.

Karena itu, upaya memperkuat sanitasi rumah tangga tetap menjadi langkah yang penting, terutama di wilayah yang belum terjangkau jaringan pengolahan air limbah terpusat.

Pentingnya dukungan pemerintah daerah dalam pengembangan sanitasi pernah disampaikan Kepala Subdirektorat Sanitasi Bappenas, Tirta Setyani, dalam Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) di Jakarta pada 29 November 2019.

“Untuk mendorong tingkat sanitasi layak dan sanitasi aman, perlu komitmen tinggi dari pemerintah daerah. Komitmen itu meliputi penyediaan infrastruktur pembuangan tinja dan penyediaan sarana edukasi terhadap masyarakat,” tegas Tirta Setyani.

Pesan tersebut relevan bagi Banyuwangi karena sanitasi tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, tetapi juga dengan kebiasaan warga dalam mengelola limbah dari rumah masing-masing.

Edukasi mengenai jadwal penyedotan septic tank, pemakaian produk pembersih secara bijak, serta pentingnya menjaga sistem pembuangan tetap berfungsi dapat menjadi bagian dari pencegahan pencemaran.

Kesadaran tersebut menjadi lapisan perlindungan pertama sebelum infrastruktur sanitasi yang lebih luas tersedia. 

Dengan pengelolaan septic tank yang rutin dan dukungan pemerintah terhadap pembangunan sanitasi, kualitas lingkungan Banyuwangi dapat dijaga sekaligus mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh limbah domestik yang tidak tertangani.

Editor : Lugas Rumpakaadi
sanitasi Banyuwangi septic tank Banyuwangi pengelolaan limbah domestik SPALDT kesehatan lingkungan