RADAR BANYUWANGI - Dagu merupakan salah satu ciri anatomi paling khas pada manusia modern atau Homo sapiens.
Di antara mamalia yang masih hidup saat ini, tonjolan tulang pada bagian bawah wajah tersebut menjadi fitur yang menonjol dan tidak ditemukan dengan bentuk yang sama pada hewan lain.
Keberadaannya ternyata tidak berkaitan dengan fungsi utama seperti membantu mengunyah atau menopang lidah ketika berbicara, melainkan merupakan bagian dari perubahan evolusi wajah manusia.
Dalam kajian antropologi evolusi, dagu dipahami sebagai semacam spandrel, yakni fitur yang muncul sebagai produk sampingan dari perubahan anatomi lain.
Dalam kasus manusia, perubahan tersebut berkaitan erat dengan menyusutnya rahang.
Jejak perubahan itu berhubungan dengan transformasi pola makan manusia purba.
Ketika nenek moyang manusia mulai memanfaatkan api dan mengolah makanan, tekstur makanan menjadi lebih lunak sehingga tidak lagi membutuhkan tenaga sebesar sebelumnya untuk menggigit dan mengunyah.
Kondisi tersebut secara bertahap mengurangi tekanan yang mendukung keberadaan rahang besar serta gigi yang kuat untuk menghadapi makanan keras.
Selama ratusan ribu tahun, perubahan tersebut ikut membentuk ulang struktur wajah.
Rahang dan area mulut manusia mengalami penyusutan serta bergeser lebih ke belakang.
Pada proses inilah muncul tonjolan tulang pada bagian bawah wajah yang kemudian dikenal sebagai dagu.
Dengan demikian, dagu bukan fitur yang sejak awal berkembang untuk menjalankan satu fungsi biologis tertentu.
Sejumlah teori yang mengaitkannya secara langsung dengan kemampuan mengunyah, menopang lidah saat berbicara, maupun menarik pasangan tidak menjadi penjelasan yang kuat dalam kajian evolusi modern.
Meski demikian, area dagu tetap memiliki peran anatomis.
Bagian ini dilengkapi dengan otot-otot kecil yang membantu menopang pergerakan bibir bawah, termasuk ketika manusia membuat berbagai ekspresi wajah.
Fungsi tersebut berbeda dari alasan mengapa dagu pertama kali muncul dalam sejarah evolusi manusia.
Penjelasan mengenai keunikan dagu juga disoroti oleh James Pampush, pakar antropologi evolusi dari Duke University.
Dalam publikasi yang disebutkan terbit di jurnal Evolutionary Anthropology pada Februari 2016, Pampush menempatkan dagu sebagai salah satu ciri paling menonjol dalam perjalanan evolusi manusia.
"Dagu adalah salah satu fenomena langka dalam biologi evolusi yang menyingkap perbedaan mendalam di antara para peneliti," jelas Dr. James Pampush.
Ia juga menilai bahwa setelah garis keturunan manusia berpisah dari simpanse, tidak banyak ciri fisik yang dapat disebut benar-benar eksklusif pada manusia.
Dagu menjadi salah satu pengecualian yang paling mudah dikenali.
"Jika Anda melihat seluruh lini hominid setelah berpisah dengan simpanse, tidak banyak ciri fisik yang dapat kita tunjuk sebagai milik eksklusif manusia. Satu hal yang sangat menonjol adalah dagu. Fitur ini mungkin menjadi langkah kecil terakhir yang menjadikan kita manusia modern secara anatomis," tegasnya.
Kisah dagu menunjukkan bahwa evolusi tidak selalu menghasilkan bagian tubuh karena suatu fungsi yang dirancang secara khusus.
Perubahan lingkungan dan kebiasaan hidup dapat menggeser kebutuhan tubuh dari satu generasi ke generasi berikutnya, lalu meninggalkan bentuk anatomi baru sebagai konsekuensinya.
Bagi manusia modern, dagu akhirnya menjadi semacam penanda fisik perjalanan panjang Homo sapiens.
Dari perubahan cara mengolah makanan hingga penyusutan rahang, kebiasaan hidup manusia purba turut membantu membentuk wajah manusia yang dikenal saat ini.
Editor : Lugas Rumpakaadi