RADAR BANYUWANGI - Proses pembelajaran siswa di era modern ini tidak lagi terbatas pada ruang kelas, buku, dan guru.
Berbagai sumber belajar dapat dimanfaatkan, mulai teknologi digital hingga dari alam dan lingkungan.
Hal itu diutarakan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi, Alfian, saat membuka ajang Radar Banyuwangi Digital Mission Race (Digi MR) 2026 pada Sabtu selumbari (22/8).
Ia menuturkan, perkembangan teknologi telah membuat sumber belajar semakin beragam.
Jika sebelumnya siswa lebih banyak mengandalkan guru dan buku, kini informasi dan pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai arah.
Menurut dia, perkembangan digital memberikan ruang yang lebih luas bagi siswa untuk mendapatkan pengetahuan.
Namun, pembelajaran tidak harus selalu bergantung pada teknologi.
Alam dan lingkungan sekitar juga dapat menjadi sumber belajar yang memberikan pengalaman langsung kepada siswa.
Hal ini relevan dengan pelaksanaan Digi MR yang memadukan berbagai materi pembelajaran, mulai dari pemanfaatan teknologi hingga eksplorasi lingkungan dan alam.
Event ini diikuti 45 regu asal SMP dan MTs se-Banyuwangi.
Konsep tersebut dinilai dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih beragam sekaligus membuat siswa tidak hanya menerima materi secara teoretis.
“Ini adalah kegiatan yang sangat positif. Anak-anak mendapat pengalaman baru dalam belajar, bukan hanya berkutat di ruang kelas,” ujarnya.
Alfian menegaskan, pembelajaran di sekolah sebaiknya tidak hanya dilakukan di dalam kelas.
Guru dapat memanfaatkan berbagai sumber yang tersedia di lingkungan sekitar maupun perkembangan teknologi untuk menunjang proses belajar siswa.
“Belajar jangan berbuat di kelas saja, tetapi memanfaatkan teknologi dan alam,” tegasnya.
Bahkan menurut Alfian, event seperti Digi MR perlu digelar bagi pelajar jenjang SD.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Radar Banyuwangi