RADAR BANYUWANGI – Tropi juara 1 akhirnya menjadi milik Regu Kopasda dari SMPN 2 Muncar setelah menuntaskan rangkaian Radar Banyuwangi Digital Mission Race (Digi MR) dengan gemilang. Berlangsung selama sekitar lima jam dan diikuti 45 regu atau 225 siswa, kompetisi di Agrowisata Tamansuruh (AWT), Sabtu (22/8), itu tak sekadar mencari pemenang, tetapi juga menghadirkan model pembelajaran yang memadukan pramuka, teknologi, petualangan, dan penguatan karakter.
Detik-detik pengumuman pemenang menjadi klimaks setelah seluruh nilai dari sembilan pos direkap panitia. Suasana di gedung utama AWT sontak riuh ketika nama regu dan sekolah disebut oleh pembawa acara.
Regu Kopasda dari SMPN 2 Muncar keluar sebagai juara 1. Posisi kedua ditempati Regu Tawangalun dari SMPN 1 Songgon, sedangkan juara 3 diraih Regu Minakjinggo, juga dari SMPN 1 Songgon.
Sementara itu, Regu Ayam Jago dari MTsN 8 Banyuwangi meraih juara harapan 1. Juara harapan 2 menjadi milik Regu Dua Scorpio dari SMPN 2 Srono.
Para pemenang berhak membawa pulang tropi, sertifikat, uang pembinaan, serta voucher biaya umrah dari Travel Umrah Kubah Hijau.
Penyerahan tropi juara 1 dilakukan Ketua Kwarcab Banyuwangi yang juga Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono. Tropi juara 2 diserahkan Direktur Radar Banyuwangi Samsudin Adlawi, sedangkan juara 3 diserahkan perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Adapun tropi juara harapan 1 diserahkan perwakilan Bank Jatim dan juara harapan 2 oleh Plt Kasi Pendma Fakhrurozzi.
Awarding tersebut turut dihadiri Kepala Bakesbangpol Banyuwangi Agus Mulyono, perwakilan Bank Jatim, Kasi Peningkatan Mutu dan Pendidik serta Tenaga Kependidikan SD (PMPTK SD) Dispendik Erpandi, Ketua MKKS SMP Banyuwangi Ali Mustofa yang juga Kepala SMPN 1 Banyuwangi, perwakilan Kwarcab Banyuwangi, perwakilan Travel Umrah Kubah Hijau, serta Kepala SMPN 4 Banyuwangi Dardiri.
Wabup Mujiono Bagi-Bagi Hadiah
Ada momen menarik dalam acara penghargaan tersebut. Saat diberi kesempatan memberikan sambutan, Mujiono tak hanya menyampaikan apresiasi, tetapi juga mengajak peserta berinteraksi langsung.
Peserta yang dinilai paling bersemangat mengikuti tepuk Pramuka mendapatkan hadiah uang tunai Rp 100 ribu. Sejumlah pertanyaan juga dilemparkan kepada siswa. Mereka yang mampu menjawab dengan tepat langsung mendapat uang tunai dari kantong pribadi Mujiono.
Total hampir Rp 1 juta dikeluarkan Mujiono untuk menyemangati para peserta.
Salah satu siswa bahkan berhasil mendapatkan hadiah setelah mampu menyebutkan Dasa Dharma Pramuka secara berurutan dari nomor satu hingga sepuluh.
"Alhamdulillah, semoga berkah," ujar siswa tersebut usai menerima hadiah.
Bagi Mujiono, antusiasme siswa menjadi gambaran bahwa kegiatan pramuka dapat dikemas dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda saat ini.
Dia mengapresiasi Digi MR yang digelar Radar Banyuwangi. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi ruang untuk menanamkan semangat kepada generasi muda agar pramuka mampu menjadi pelopor perubahan.
Nilai-nilai kepramukaan, kata dia, tetap harus menjadi pijakan. Namun, hal tersebut perlu diiringi kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital.
"Kita ingin menerapkan kepada generasi muda bahwa pramuka harus mampu menjadi pelopor perubahan yang tetap berpegang pada nilai kepramukaan, namun harus adaptif terhadap perkembangan teknologi digital," ujarnya.
Mujiono menegaskan, Digi MR bukan sekadar perlombaan. Konsep kegiatan tersebut merupakan inovasi pendidikan kepramukaan karena memadukan berbagai unsur yang terkandung dalam Dasa Dharma Pramuka.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana teknologi digunakan secara bijak dan produktif. Gerakan pramuka, menurut dia, memiliki tanggung jawab membimbing generasi muda agar menjadi pengguna teknologi yang cerdas, kreatif, sekaligus bertanggung jawab.
"Tantangannya adalah bagaimana teknologi digunakan secara bijak dan produktif. Gerakan pramuka memiliki tanggung jawab untuk membimbing generasi muda agar menjadi pengguna teknologi yang cerdas, kreatif, dan bertanggung jawab," katanya.
Mujiono juga melihat Digi MR membuktikan bahwa smartphone tidak semata-mata menjadi perangkat hiburan. Teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar, berpetualang, berkarya, bahkan mengabdi kepada masyarakat.
"Saya berharap pengalaman yang diperoleh selama mengikuti kegiatan ini dapat menjadi bekal berharga. Jadikan teknologi menjadi alat untuk memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan, dan memperkuat karakter," tambahnya.
Ketua MKKS: Ruang Positif untuk Generasi Z
Apresiasi juga datang dari Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Negeri Banyuwangi Ali Mustofa.
Menurutnya, Digi MR menghadirkan ruang positif bagi pelajar, khususnya di tengah tantangan pembentukan karakter generasi Z yang semakin kompleks.
"Tantangan dari generasi Z begitu kompleks. Rasa empati, kemandirian, kebersamaan, dan tanggung jawab mulai terkikis. Jadi kita harus memberikan ruang atensi yang memadai untuk mengantisipasi hal tersebut," ujar Kepala SMPN 1 Banyuwangi tersebut.
Ali menilai Digi MR memiliki pendekatan yang kuat karena siswa tidak hanya berkompetisi, tetapi juga belajar mengambil keputusan, bekerja sama, memecahkan persoalan, dan beradaptasi dengan situasi selama menjalankan misi.
Melihat antusiasme peserta dan keberhasilan pelaksanaan Digi MR, MKKS SMP Negeri Banyuwangi bahkan membuka peluang menjalin kerja sama lebih lanjut dengan Radar Banyuwangi.
Rencananya, kegiatan yang bertujuan meningkatkan kemampuan siswa dapat dikembangkan dan digelar secara berkala, bahkan hampir setiap bulan.
"Kegiatan seperti Digi MR sangat mengena sekali untuk membentuk kepribadian siswa," tegas Ali.
Bagi para peserta, kemenangan memang menjadi tujuan yang membanggakan. Namun, pengalaman selama menyusuri kawasan AWT, menyelesaikan misi, berkolaborasi dalam regu, serta memanfaatkan teknologi menjadi bekal yang tak kalah penting.
Pada akhirnya, tropi juara 1 memang dibawa pulang SMPN 2 Muncar, tetapi pengalaman belajar dan penguatan karakter menjadi hadiah terbesar bagi seluruh 225 peserta Digi MR. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin