Smartphone Tak Cuma Buat Hiburan, Digi MR Ubah Gawai Jadi Alat Belajar

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 07:00 WIB
45 regu pramuka SMP/MTs foto bersama Wabup Mujiono dan DIrektur RaBa Samsudin Adlawi usai menuntaskan sembilan misi Digi MR di AWT Banyuwangi, (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
45 regu pramuka SMP/MTs foto bersama Wabup Mujiono dan DIrektur RaBa Samsudin Adlawi usai menuntaskan sembilan misi Digi MR di AWT Banyuwangi, (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Sebanyak 45 regu pramuka SMP/MTs se-Banyuwangi menuntaskan sembilan misi di kawasan Agrowisata Tamansuruh (AWT), Sabtu (22/8), dengan memadukan keterampilan kepramukaan, petualangan, budaya, jurnalistik, pendidikan, dan teknologi. Radar Banyuwangi Digital Mission Race (Digi MR) membuktikan bahwa gawai yang selama ini lekat dengan hiburan bisa diubah menjadi alat belajar, memecahkan masalah, sekaligus membentuk karakter pelajar.

Mengusung tema “Jelajah Banyuwangi, Tuntaskan Misi, Jaga Bumi”, 45 regu peserta menyusuri kawasan AWT seluas 10,5 hektare. Kegiatan dimulai pukul 07.30 dan dirancang seperti sebuah petualangan berburu misi.

Setiap regu bebas menentukan strategi perjalanan. Peserta bisa menyelesaikan pos secara berurutan dari Pos 1 hingga Pos 9 atau memilih rute secara acak.

Namun, kebebasan memilih rute bukan berarti perjalanan menjadi mudah. Setiap regu wajib melakukan presensi di masing-masing pos, kemudian menemukan dan memindai barcode atau QR code untuk membuka tantangan berikutnya.

Di situlah teknologi menjadi bagian dari permainan sekaligus pembelajaran.

Sembilan Pos, Beragam Tantangan

Digi MR tidak hanya menguji seberapa kuat peserta menguasai materi kepramukaan. Setiap misi dirancang untuk mempertemukan pengetahuan dengan pengalaman langsung di lapangan.

Peserta harus bergerak menyusuri kawasan AWT sambil menyelesaikan tantangan yang berkaitan dengan pendidikan, budaya, lingkungan, jurnalistik, hingga teknologi.

Format tersebut membuat kegiatan terasa berbeda dari lomba pramuka konvensional. Peserta tidak hanya duduk mendengarkan instruksi, tetapi harus membaca situasi, menentukan strategi, bekerja sama dengan anggota regu, dan mengambil keputusan.

Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono, Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Alfian, perwakilan Kwarcab Gerakan Pramuka Banyuwangi, SLH, Bank Jatim, Kemenag, serta Kubah Hijau Travel Umroh.

Pramuka Diminta Jadi Pelopor Perubahan

Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono menilai Digi MR dapat menjadi sarana untuk menanamkan paradigma baru dalam kegiatan kepramukaan.

Menurutnya, nilai-nilai dasar pramuka harus tetap menjadi pijakan. Namun, generasi muda juga perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital.

“Kita ingin menerapkan kepada generasi muda bahwa pramuka harus mampu menjadi pelopor perubahan yang tetap berpegang pada nilai kepramukaan, namun harus adaptif terhadap perkembangan teknologi digital,” ujarnya.

Mujiono menegaskan, Digi MR bukan sekadar perlombaan. Kegiatan tersebut menjadi inovasi pendidikan kepramukaan yang berusaha memadukan berbagai unsur dalam Dasa Dharma Pramuka dengan kebutuhan generasi digital.

Tantangannya, kata dia, adalah memastikan teknologi digunakan secara bijak dan produktif.

“Gerakan pramuka memiliki tanggung jawab untuk membimbing generasi muda agar menjadi pengguna teknologi yang cerdas, kreatif, dan bertanggung jawab,” katanya.

Menurut Mujiono, kegiatan tersebut sekaligus mematahkan anggapan bahwa smartphone hanya digunakan untuk hiburan.

Dalam Digi MR, perangkat digital justru menjadi bagian penting dari proses belajar. Smartphone digunakan untuk memindai QR code, membuka misi, mencari informasi, hingga membantu peserta menyelesaikan tantangan.

“Saya berharap pengalaman yang diperoleh selama mengikuti kegiatan ini dapat menjadi bekal berharga. Jadikan teknologi menjadi alat untuk memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan, dan memperkuat karakter,” tambahnya.

Dispendik: Ini Bukan Sekadar Lomba

Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Alfian memberikan apresiasi terhadap konsep yang ditawarkan Digi MR.

Menurutnya, kegiatan tersebut menawarkan cara baru bagi siswa untuk memperoleh pengalaman belajar.

“Ini sesuatu yang luar biasa. Ini bukan sekadar lomba, tetapi adalah cara baru anak-anak untuk belajar,” ungkapnya.

Perpaduan antara budaya, pendidikan, dan alam menjadi salah satu kekuatan konsep Digi MR. Peserta belajar tidak hanya melalui materi yang diberikan, tetapi juga melalui lingkungan tempat mereka menjalankan misi.

“Lomba ini memadukan dari sekian banyak tema, dari budaya, pendidikan hingga alam. Ini merupakan sesuatu yang menarik,” katanya.

Alfian bahkan menyebut pendekatan semacam itu berpotensi diterapkan lebih luas dalam sistem pembelajaran di Banyuwangi.

Untuk jenjang SD, konsep pembelajaran tersebut direncanakan mulai diterapkan pada Oktober. Sementara untuk jenjang SMP, penerapannya ditargetkan mulai tahun depan.

“Ini memberikan pengalaman baru bagi siswa dalam pembelajaran yang bukan hanya sekadar lomba,” imbuhnya.

Ruang untuk Mengasah Karakter Generasi Z

Di balik keseruan menyusuri kawasan AWT dan menyelesaikan misi, Digi MR juga membawa misi yang lebih besar: penguatan karakter pelajar.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Negeri Banyuwangi sekaligus Kepala SMPN 1 Banyuwangi Ali Mustofa melihat kegiatan tersebut sebagai ruang positif bagi generasi Z.

Menurut dia, perkembangan zaman membawa tantangan yang semakin kompleks bagi anak-anak. Empati, kemandirian, kebersamaan, dan tanggung jawab perlu terus diperkuat melalui pengalaman nyata.

“Tantangan dari generasi Z begitu kompleks. Rasa empati, kemandirian, kebersamaan, dan tanggung jawab mulai terkikis. Jadi kita harus memberikan ruang atensi yang memadai untuk mengantisipasi hal tersebut,” ujar Ali.

Digi MR mencoba menghadirkan ruang tersebut dalam bentuk yang dekat dengan dunia anak muda: bergerak, berpetualang, berkompetisi, dan menggunakan teknologi.

Pada akhirnya, 45 regu yang menuntaskan sembilan misi di AWT bukan hanya membawa pengalaman mengikuti lomba. Mereka juga mendapat pelajaran bahwa teknologi dapat menjadi alat untuk belajar, alam dapat menjadi ruang kelas, dan kerja sama tetap menjadi kunci ketika tantangan harus diselesaikan bersama. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Pramuka Banyuwangi Pramuka digital Digi MR radar banyuwangi Agrowisata Tamansuruh