Digi MR Bikin Ketagihan, Peserta hingga Dispendik Minta Digelar Lagi

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 06:00 WIB
Digi MR Radar Banyuwangi mendapat sambutan positif. Peserta, guru, dan pemangku kebijakan berharap lomba pramuka berbasis teknologi ini rutin digelar. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Digi MR Radar Banyuwangi mendapat sambutan positif. Peserta, guru, dan pemangku kebijakan berharap lomba pramuka berbasis teknologi ini rutin digelar. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Radar Banyuwangi Digital Mission Race (Digi MR) bukan sekadar lomba pramuka. Perpaduan misi pendidikan, petualangan, budaya, dan teknologi dalam ajang “Jelajah Banyuwangi, Tuntaskan Misi, Jaga Bumi” mendapat sambutan positif dari siswa, guru pendamping, hingga pemangku kebijakan. Mereka berharap kegiatan untuk jenjang SMP/MTs se-Banyuwangi itu bisa menjadi agenda rutin setiap tahun.

Ajang tersebut digelar di Glagah, Banyuwangi, Sabtu (22/8). Sejak peserta menjalankan misi dari satu pos ke pos berikutnya, Digi MR menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran di ruang kelas.

Bagi peserta, tantangannya bukan hanya menyelesaikan perlombaan. Mereka harus menemukan pos, memecahkan misi, bekerja sama, sekaligus memanfaatkan pengetahuan dan teknologi yang dimiliki.

Konsep tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21. Pembelajaran tidak lagi hanya berorientasi pada kemampuan menghafal, tetapi juga mendorong kreativitas, pemecahan masalah, kolaborasi, serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi.

Dispendik Minta Digi MR Berlanjut

Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Alfian menjadi salah satu pihak yang memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut.

Menurut dia, model kegiatan seperti Digi MR penting untuk terus dilakukan karena memberikan pengalaman belajar yang berbeda kepada siswa. Namun, sosialisasi kegiatan juga perlu dilakukan lebih awal agar sekolah memiliki waktu yang cukup untuk memahami manfaat dan dampaknya bagi peserta didik.

“Saya minta kegiatan seperti ini harus terus dilakukan serta dikomunikasikan lebih awal agar pihak sekolah lebih tahu tentang dampak dan manfaatnya,” ujarnya.

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan berbasis pengalaman seperti Digi MR tidak hanya dipandang sebagai aktivitas tambahan bagi siswa. Ada potensi pembelajaran yang bisa dikembangkan dan diintegrasikan dengan kebutuhan pendidikan di sekolah.

Tak Cukup Hanya di Ranah Pramuka

Kepala SMPN 1 Banyuwangi Ali Mustofa juga mendorong agar konsep Digi MR tidak berhenti pada kegiatan kepramukaan.

Menurut dia, masih banyak ruang pembelajaran di sekolah yang dapat dioptimalkan melalui pendekatan serupa. Karena itu, cakupan kegiatan dinilai perlu diperluas agar semakin banyak aspek pendidikan yang bisa dikemas secara kreatif.

“Kegiatan ini perlu dimasukkan kembali serta perlu diperluas lagi, yang tidak hanya di ranah pramuka saja, tetapi ada ruang-ruang di sekolah yang bisa dioptimalisasi,” katanya.

Dengan pendekatan tersebut, kegiatan luar ruang bisa menjadi sarana untuk mempertemukan pendidikan karakter, teknologi, pengetahuan, dan kemampuan bekerja sama.

Pramuka Bertemu Teknologi

Antusiasme serupa datang dari para pembina pramuka.

Pembina Pramuka MTsN 7 Banyuwangi Ahmad Ainun Najib menilai Digi MR memberikan warna baru bagi kegiatan kepramukaan. Teknologi yang dipadukan dengan aktivitas pramuka dianggap sesuai dengan karakter generasi muda saat ini.

“Kegiatan Digi MR ini sangat bagus sekali karena kegiatan seperti ini merupakan kemajuan dalam bidang teknologi yang sangat mendukung bagi generasi muda,” tuturnya.

Sementara itu, Pembina Pramuka MTsN 6 Banyuwangi Imam Hosiin berharap Digi MR tidak berhenti sebagai kegiatan perdana. Dia ingin ajang tersebut dapat digelar secara rutin setiap tahun sebagai wadah bagi generasi muda untuk mengenal sekaligus memanfaatkan teknologi secara positif.

“Kegiatan pramuka ini perlu digelar rutin setiap tahunnya untuk menampung generasi muda yang lebih melek teknologi serta bisa lebih terdidik,” ujar pria 51 tahun tersebut.

Peserta: Sulit, tetapi Bikin Ketagihan

Keinginan agar Digi MR kembali digelar ternyata juga datang dari peserta.

Luthfi Dean, siswa SMPN 1 Singojuruh, mengaku setiap perlombaan memiliki tantangan tersendiri. Namun, kesulitan tersebut justru membuat pengalaman mengikuti Digi MR menjadi lebih menarik.

“Untuk lombanya pasti ada kesulitan, tetapi menyenangkan. Kalau bisa Digi MR ini ada setiap tahunnya,” ujarnya.

Pengalaman serupa dirasakan Ilham Syafi’i dari MTsN 3 Banyuwangi. Bagi Ilham, Digi MR menjadi salah satu perlombaan pramuka berskala besar yang pertama kali diikutinya.

Tantangan paling terasa ketika peserta harus mencari pos sekaligus memecahkan misi yang diberikan.

“Ini perlombaan pramuka besar yang saya ikuti pertama kali. Yang menjadi kesulitannya yaitu mencari pos hingga memecahkan misi,” katanya.

Namun, kesulitan tersebut tidak membuat Ilham kapok. Justru sebaliknya, dia berharap Digi MR kembali hadir karena memberikan kesempatan belajar dengan cara yang lebih menyenangkan.

“Semoga acara Digi MR bisa terus ada karena bisa belajar dengan seru serta dapat ilmu yang banyak, baik dari teknologi hingga pengetahuan,” pungkasnya.

Pada akhirnya, Digi MR menunjukkan bahwa kompetisi pelajar bisa menjadi ruang belajar yang hidup: siswa bergerak, mencari solusi, mengenal lingkungan, memanfaatkan teknologi, dan belajar bekerja sama. Tak heran jika dari peserta hingga pemangku kebijakan muncul satu harapan yang sama: Digi MR tidak berhenti sebagai acara sekali jalan, tetapi menjadi agenda tahunan Banyuwangi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Pramuka digital lomba pramuka Digi MR Banyuwangi radar banyuwangi pelajar banyuwangi