RADAR BANYUWANGI – Sebanyak 300 tukik atau anak penyu dilepasliarkan ke laut di Pantai Pulau Santen, Banyuwangi, Rabu (19/8). Sebelum melepas tukik, puluhan siswa SD dan TK lebih dulu belajar mengenal penyu melalui dongeng, mewarnai patung penyu, hingga memahami bahaya sampah plastik dan larangan membeli maupun mengonsumsi telur penyu.
Kegiatan tersebut digelar Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF) bersama Bhakti BCA sebagai bagian dari edukasi konservasi penyu. Sekitar 50 siswa kelas IV SDN 1 Pakis dan 75 siswa TK Dharmawanita 7 ikut dalam rangkaian kegiatan yang dikemas menyenangkan, tetapi tetap sarat pesan lingkungan.
Edukasi dilakukan di tengah rangkaian kegiatan peringatan HUT Kemerdekaan RI di SDN 1 Pakis. Selain lomba dan bazar, sekolah tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal lebih dekat satwa laut yang memiliki peran penting bagi ekosistem.
Konservasi Penyu Diajarkan Lewat Dongeng
Sekitar 50 siswa kelas IV SDN 1 Pakis mendapat materi konservasi dengan metode dongeng. Cara tersebut dipilih agar materi lingkungan lebih mudah diterima dan tidak terasa seperti pembelajaran di dalam kelas.
Anak-anak diperkenalkan dengan berbagai jenis penyu, makanan penyu, hingga hewan yang menjadi predator penyu. Mereka juga mendapat pemahaman mengenai hal-hal sederhana yang bisa dilakukan untuk membantu menjaga kelestarian penyu.
Salah satunya adalah tidak membeli ataupun mengonsumsi telur penyu.
Pesan lain yang ditekankan adalah larangan membuang sampah sembarangan, terutama sampah plastik. Sampah yang masuk ke laut tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga berpotensi termakan penyu dan membahayakan kehidupannya.
Setelah mendapatkan materi, siswa diajak mewarnai patung penyu. Aktivitas tersebut menjadi cara lain untuk memperkuat pemahaman anak tentang bentuk dan karakteristik penyu sekaligus membedakan penyu hidup dengan replika.
Sore Hari, Anak-anak Lepas 300 Tukik
Rangkaian edukasi tidak berhenti di sekolah. Pada Rabu sore, para siswa diajak menuju Pantai Pulau Santen untuk menyaksikan sekaligus mengikuti pelepasliaran tukik.
Sebanyak 300 tukik dilepas ke laut. Selain 50 siswa SDN 1 Pakis, kegiatan tersebut juga diikuti 75 siswa TK Dharmawanita 7.
Guru dan wali murid yang hadir turut ambil bagian dalam pelepasliaran. Momen tersebut memberikan pengalaman langsung kepada anak-anak untuk melihat proses konservasi penyu dari dekat.
Kepala SDN 1 Pakis Andi Eko Permana menilai pengalaman tersebut memiliki nilai edukasi yang berbeda dibandingkan pembelajaran di ruang kelas.
“Edukasi dan pengalaman ini tidak bisa didapat di dalam kelas,” ujar Andi.
Pengalaman melepas tukik secara langsung diharapkan membuat pesan konservasi lebih mudah diingat anak-anak. Mereka tidak hanya mengetahui penyu melalui gambar atau cerita, tetapi melihat langsung bagaimana tukik dilepas menuju habitat alaminya.
BSTF Tampung 21.500 Telur Penyu
Pendiri BSTF Wiyanto Haditanojo mengatakan, program edukasi tersebut merupakan bagian dari upaya konservasi penyu yang dilakukan secara berkelanjutan.
Tahun ini, BSTF bersama BCA telah menampung sekitar 21.500 telur penyu untuk ditetaskan menggunakan INTAN ruang.
Menurut Wiyanto, konservasi penyu tidak cukup hanya dilakukan dengan menyelamatkan telur dan melepas tukik. Edukasi kepada masyarakat, terutama anak-anak, juga menjadi bagian penting untuk memastikan upaya pelestarian berlangsung dalam jangka panjang.
Penyu memiliki peran penting dalam ekosistem laut. Keberadaannya berkaitan dengan keseimbangan lingkungan dan habitat laut, sekaligus memiliki keterkaitan dengan kehidupan ekonomi masyarakat yang bergantung pada ekosistem pesisir.
Karena itu, edukasi konservasi penyu akan terus dilakukan BSTF bersama para mitranya sepanjang tahun. Harapannya, generasi muda tidak hanya mengenal penyu sebagai satwa laut, tetapi juga tumbuh dengan kesadaran untuk menjaga habitat dan kelestariannya. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin