45 Hari KKN, Mahasiswa UNIBA Sulap Potensi Desa Jadi Produk Siap Jual

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 00:30 WIB
Rektor UNIBA Dr Sadi didampingi Kepala LPPM Agus Mursidi, dan Ketua Panitia KKN Dr Donny Setiawan mengecek produk mahasiswa selama melaksanakan KKN di Desa Kandangan, Pesanggaran. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Rektor UNIBA Dr Sadi didampingi Kepala LPPM Agus Mursidi, dan Ketua Panitia KKN Dr Donny Setiawan mengecek produk mahasiswa selama melaksanakan KKN di Desa Kandangan, Pesanggaran. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Selama 45 hari, 205 mahasiswa Universitas PGRI Banyuwangi (UNIBA) tak hanya menjalankan pengabdian di desa, tetapi juga menghasilkan produk yang berangkat dari potensi lokal dan siap dijual. Hasil karya tersebut dipamerkan dalam monitoring dan evaluasi KKN UNIBA 2026 di aula kampus UNIBA, Rabu (19/8).

Mengusung tema “Berkarya untuk Desa, Berdampak untuk Bangsa”, program KKN tahun ini diarahkan agar mahasiswa menghasilkan karya yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik desa tempat mereka mengabdi.

Produk yang dipamerkan menjadi bukti bahwa KKN tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Mahasiswa didorong untuk mengidentifikasi persoalan sekaligus potensi masyarakat, kemudian mengolahnya menjadi karya yang dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai jual.

205 Mahasiswa Disebar ke Sejumlah Desa

Ketua Panitia KKN UNIBA 2026 Dr Donny Setiawan mengatakan, program KKN berlangsung selama 45 hari dan diikuti 205 mahasiswa. Mereka dibagi menjadi 11 kelompok dan ditempatkan di sejumlah desa.

Wilayah penempatan mahasiswa cukup beragam, mulai Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, hingga Desa Taman Sari di Kabupaten Jember.

“Mahasiswa KKN UNIBA disebar di berbagai desa. Mulai Desa Kandangan di Kecamatan Pesanggaran hingga Desa Taman Sari di Kabupaten Jember,” ujar Donny.

Setiap kelompok menghasilkan produk yang kemudian ditampilkan dalam agenda monitoring dan evaluasi. Pengembangan karya mengacu pada tiga tema utama, yakni desa cerdas digital, desa mandiri pangan dan lingkungan, serta desa sehat dan edukatif.

Pendekatan tersebut membuat produk yang dihasilkan mahasiswa berbeda-beda, mengikuti persoalan dan potensi yang ditemukan di masing-masing lokasi KKN.

Produk KKN Tak Lagi Sekadar Hasil Industri

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNIBA Dr Agus Mursidi menyebut ada perubahan pendekatan dalam KKN tahun ini.

Jika sebelumnya produk mahasiswa lebih banyak berupa hasil industri, tahun ini mahasiswa diarahkan untuk mengembangkan produk yang bersumber dari potensi masyarakat dan karakteristik desa.

“Produk yang dihasilkan tahun ini merupakan bentuk produk dari masyarakat atau yang sesuai dengan desa masing-masing serta siap untuk dijual,” kata Agus.

Menurut dia, orientasi tersebut membuat keberadaan mahasiswa selama 45 hari di tengah masyarakat memiliki dampak yang lebih konkret. Selain memperoleh pengalaman, mahasiswa juga diharapkan meninggalkan karya yang dapat terus dimanfaatkan masyarakat setelah program KKN berakhir.

“Ini adalah bentuk pengabdian mahasiswa selama 45 hari melaksanakan KKN yang berdampak langsung ke masyarakat,” ungkapnya.

Rektor UNIBA: Jadi Bekal Mahasiswa

Rektor UNIBA Dr Sadi mengapresiasi mahasiswa yang telah menyelesaikan program KKN dengan lancar. Dia menilai KKN menjadi bagian penting dalam perjalanan mahasiswa sebelum menyelesaikan pendidikan sarjana.

“Kita bersyukur selama 45 hari mahasiswa melaksanakan satu program dengan lancar yang memang harus kalian tempuh untuk menyelesaikan program sarjana di UNIBA,” katanya.

Menurut Sadi, KKN memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari masyarakat sekaligus menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama berada di kampus.

Kesempatan tersebut juga dapat melatih mahasiswa membaca persoalan di lapangan dan mencari solusi yang memiliki manfaat nyata.

“Adik-adik punya kesempatan untuk bisa belajar langsung ke masyarakat serta bisa berkontribusi seperti membuat karya ataupun produk yang bisa dimanfaatkan atau berdampak ke masyarakat,” ujarnya.

Sadi berharap pengalaman selama KKN menjadi bekal bagi mahasiswa ketika kembali menjalani aktivitas akademik maupun saat memasuki kehidupan bermasyarakat.

“Dari KKN ini mudah-mudahan bisa menjadi bekal pengalaman dan pengetahuan apa yang kalian dapat selama terjun di tengah masyarakat,” pungkasnya.

Mahasiswa Kandangan Bikin Kompor Minim Asap

Salah satu produk menarik lahir dari kelompok mahasiswa yang ditempatkan di Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran. Habibie, salah seorang peserta KKN, mengatakan kelompoknya membuat kompor minim asap berbahan bakar kayu.

Ide tersebut berawal dari kondisi lingkungan di Desa Kandangan. Mahasiswa menemukan banyak limbah kayu dan dahan pohon yang berserakan dan belum dimanfaatkan secara optimal.

“Kami membuat kompor yang minim asap walaupun bahannya dari kayu, bukan gas,” kata Habibie.

Limbah kayu tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Produk itu sekaligus diharapkan relevan dengan kondisi masyarakat setempat yang menghadapi keterbatasan akses di sejumlah bidang.

“Di Desa Kandangan banyak sekali batang pohon yang berserakan. Kami manfaatkan supaya bisa dipakai masyarakat. Di Kandangan memiliki keterbatasan dari akses jalan, listrik, hingga internet,” jelas Habibie.

Karya tersebut menjadi salah satu contoh pendekatan KKN UNIBA 2026: mengubah potensi atau persoalan lokal menjadi produk yang fungsional dan berpeluang memiliki nilai ekonomi.

Melalui model pengabdian tersebut, 45 hari KKN tidak hanya menjadi pengalaman lapangan bagi mahasiswa, tetapi juga diharapkan meninggalkan manfaat yang bisa diteruskan oleh masyarakat di desa masing-masing. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
KKN Banyuwangi KKN UNIBA mahasiswa UNIBA produk desa kompor minim asap