Dari Sumber Gedor ke Keran, 75 Siswa Belajar Perjalanan Air Banyuwangi

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:00 WIB
Sejumlah siswa asal SD Gugus 2 Glagah melihat langsung pipa berukuran jumbo di kompleks tempat penampungan air di Kelurahan/Kecamatan Kalipuro. Pipa ini menjadi bagian jaringan distribusi air ke rumah-rumah warga. (Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)
Sejumlah siswa asal SD Gugus 2 Glagah melihat langsung pipa berukuran jumbo di kompleks tempat penampungan air di Kelurahan/Kecamatan Kalipuro. Pipa ini menjadi bagian jaringan distribusi air ke rumah-rumah warga. (Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI — Sebanyak 75 siswa SD dari Gugus 2 Kecamatan Glagah mendapat pengalaman belajar berbeda melalui Program Wisata Edukasi Sejak Usia Dini (Wis Esa Sek Adi). Mereka tidak sekadar melihat sumber air, tetapi diajak menelusuri perjalanan air dari Sumber Gedor, masuk instalasi pengolahan, hingga akhirnya didistribusikan ke rumah warga.

Kegiatan edukasi tersebut berlangsung pada Rabu (19/8/2026) di tempat penampungan air di Kelurahan Kalipuro, Kecamatan Kalipuro. Sebelumnya, para siswa juga mengunjungi Sumber Gedor yang dikenal sebagai salah satu sumber air legendaris di Banyuwangi.

Di tempat penampungan air, siswa diperkenalkan pada proses yang harus dilalui air sebelum digunakan masyarakat. Mereka melihat langsung instalasi pengolahan, jaringan perpipaan, hingga pipa berukuran besar yang menjadi bagian dari sistem distribusi.

Pembelajaran tersebut sekaligus memberikan pemahaman bahwa air yang mengalir dari keran rumah tidak datang begitu saja. Ada proses pengolahan dan pengawasan kualitas yang dilakukan sebelum air dinyatakan layak dimanfaatkan.

Air Tak Langsung Dialirkan ke Rumah

Bagi sebagian siswa, melihat instalasi pengolahan air secara langsung menjadi pengalaman baru.

Petugas Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PUDAM) Banyuwangi Untung menjelaskan bahwa air dari sumber harus melalui proses pengolahan sebelum dialirkan kepada pelanggan.

Proses tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas air sekaligus mengurangi risiko mikroorganisme yang dapat membahayakan masyarakat.

“Di penampungan air di Kelurahan Kalipuro, penyulingan air menggunakan Regal Gas Chlorinators sebelum dialirkan ke rumah masyarakat,” ujarnya.

Penjelasan tersebut membuat siswa dapat melihat secara langsung bagaimana air yang berasal dari sumber diproses sebelum masuk jaringan distribusi.

Mereka juga diperkenalkan dengan berbagai bagian instalasi yang berperan dalam perjalanan air menuju konsumen.

Pipa Besar Jadi Bagian Penting Distribusi

Tak hanya melihat proses pengolahan, para siswa juga berkesempatan menyaksikan jaringan pipa berukuran besar.

Pipa tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam sistem distribusi air dari instalasi menuju wilayah pelayanan.

Jaringan distribusi itu nantinya menyalurkan air kepada masyarakat di sejumlah wilayah Kecamatan Kalipuro hingga Wongsorejo.

Bagi siswa, pengalaman tersebut menjadi gambaran sederhana mengenai perjalanan air yang selama ini mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Air yang terlihat sederhana ketika keluar dari keran ternyata membutuhkan rangkaian proses sebelum sampai ke rumah.

Di titik inilah edukasi mengenai air menjadi penting. Anak-anak tidak hanya mengetahui bahwa air merupakan kebutuhan pokok, tetapi juga memahami mengapa sumber air dan infrastruktur pengolahannya harus dijaga.

Belajar Langsung, Tak Sekadar dari Buku

Program Wis Esa Sek Adi memberikan ruang bagi siswa untuk belajar di luar kelas.

Guru SDN 2 Rejosari Suhindra mengatakan, kegiatan tersebut menjadi pengalaman pertama bagi siswa di sekolahnya.

Menurut dia, pembelajaran langsung di alam maupun lingkungan kerja memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan pembelajaran di dalam kelas.

“Kegiatan ini menjadi pengalaman pembelajaran langsung di alam memberikan pengalaman yang berbeda bagi para siswa,” katanya.

Pengalaman tersebut diharapkan membuat materi yang diterima siswa lebih mudah dipahami karena mereka dapat melihat objek dan prosesnya secara langsung.

Siswa Senang Bisa Menyentuh Pipa Air

Antusiasme juga terlihat dari para siswa yang mengikuti kegiatan.

Salah satunya Abdullah Helmi Fawazir, siswa SDIT Darul Ilmi. Dia mengaku senang bisa mengikuti pembelajaran di luar kelas sekaligus mendapat pengetahuan baru mengenai pengolahan air.

Bahkan, pengalaman sederhana ketika menyentuh pipa berukuran besar menjadi hal yang menarik baginya.

“Senang bisa mengikuti pembelajaran ini. Saya juga sempat menyentuh pipa berukuran besar yang dialiri air. Ternyata terasa dingin,” tuturnya.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang tidak ditemukan setiap hari di ruang kelas.

Mengenalkan Air Sejak Usia Dini

Wis Esa Sek Adi tidak berhenti pada aktivitas wisata. Program tersebut juga menjadi sarana mengenalkan kepada anak-anak bagaimana sumber daya air dikelola dan dimanfaatkan masyarakat.

Dengan melihat langsung Sumber Gedor hingga instalasi pengolahan air di Kalipuro, siswa mendapat gambaran utuh mengenai perjalanan air.

Mulai dari sumber, proses pengolahan, jaringan pipa, hingga distribusi menuju rumah warga.

Sebanyak 75 siswa akhirnya pulang bukan hanya membawa kesan berwisata, tetapi juga pemahaman bahwa air bersih membutuhkan proses panjang dan infrastruktur yang harus dijaga. Dari Sumber Gedor hingga keran rumah, mereka melihat langsung bagaimana setiap tetes air melewati perjalanan sebelum bisa digunakan masyarakat.  (ray/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
siswa Banyuwangi Sumber Gedor pengolahan air PUDAM Banyuwangi wisata edukasi