RADAR BANYUWANGI – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini bukan lagi sekadar teknologi untuk mempermudah pekerjaan. Di tangan yang salah, AI juga bisa menjadi alat untuk memproduksi hingga menyebarkan informasi palsu. Kekhawatiran itulah yang mendorong Polresta Banyuwangi membekali 165 taruna SMAN 2 Taruna Bhayangkara (Smadatara) Jawa Timur dengan literasi AI dan kemampuan menangkal hoaks.
Edukasi bertajuk Program Paham AI tersebut digelar di Aula SMAN 2 Taruna Bhayangkara. Para taruna-taruni tidak hanya menerima paparan materi, tetapi juga mengikuti simulasi dan diskusi interaktif mengenai penggunaan AI secara aman, etis, dan bertanggung jawab.
Kegiatan tersebut dipimpin Kasubbag Binkar Bag SDM Polresta Banyuwangi AKP Boedi Prasetyo, didampingi Plt Kasihumas Iptu Ni Made Chandra Dewi serta pemateri dari Satbinmas dan Satlantas.
Empat materi utama menjadi bekal bagi para peserta. Yakni pengenalan dasar AI (Introduction to AI), etika penggunaan AI (Ethical Use of AI), pemanfaatan AI untuk menangkal hoaks (Fighting Hoax with AI), serta teknik memberikan instruksi kepada sistem AI (AI Prompts 101).
Bukan sekadar mendengar dan mencatat. Pemahaman para taruna juga diuji melalui pre-test dan post-test pada setiap sesi. Evaluasi tersebut digunakan untuk melihat perubahan tingkat pemahaman peserta sekaligus mengukur sejauh mana materi dapat diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.
AI Jadi Pisau Bermata Dua
Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rofiq Ripto Himawan mengatakan, perkembangan teknologi harus berjalan beriringan dengan kemampuan berpikir kritis dan pemahaman etika.
Menurut dia, AI dapat memberikan manfaat besar bagi proses belajar apabila digunakan secara tepat. Namun, teknologi yang sama juga dapat menjadi celah manipulasi informasi ketika digunakan tanpa pemahaman keamanan dan etika digital.
“Artificial Intelligence merupakan pisau bermata dua. Jika dimanfaatkan dengan benar, AI bisa menjadi alat yang sangat membantu proses pembelajaran. Namun tanpa pemahaman etika dan keamanan, teknologi ini juga dapat menjadi celah manipulasi informasi,” kata Rofiq.
Karena itu, generasi muda dinilai perlu memiliki kemampuan memilah informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya. Terlebih, teknologi AI membuat proses pembuatan konten dan penyebaran informasi palsu menjadi semakin mudah.
Program Paham AI, lanjut Rofiq, diarahkan agar pelajar tidak berhenti sebagai pengguna teknologi. Mereka juga diharapkan mampu memahami risiko sekaligus mengambil peran dalam menjaga kualitas informasi di ruang digital.
“Melalui Program Paham AI, kami ingin para pelajar tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan serta kebenaran informasi di ruang digital,” ungkapnya.
Ciptakan Generasi Cakap Digital
Polresta Banyuwangi memastikan edukasi mengenai perkembangan teknologi akan terus dilakukan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun generasi muda yang cakap digital sekaligus mendukung terciptanya keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang kondusif di tengah derasnya arus informasi.
Bagi para taruna, pemahaman tersebut menjadi penting karena ruang digital kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kemampuan menggunakan AI bukan hanya soal mengetahui cara membuat perintah (prompt), tetapi juga memahami kapan teknologi tersebut boleh digunakan, bagaimana memverifikasi hasilnya, serta menyadari konsekuensi dari informasi yang disebarkan.
“Harapan kami, generasi muda Banyuwangi tidak hanya menjadi pengguna yang cerdas, tetapi juga mampu menjadi penjaga keamanan dan kebenaran informasi di dunia maya,” pungkas Rofiq. (rio/aif)
Editor : Ali Sodiqin