RADAR BANYUWANGI - Sekilas, kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis) memang tampak seperti kucing peliharaan dengan corak bulu yang menarik.
Tubuhnya bertutul dan wajahnya menyerupai miniatur macan tutul.
Kemiripan itu membuat satwa liar ini kerap disalahartikan sebagai kucing ras Bengal.
Padahal, keduanya bukan hal yang sama.
Kucing kuwuk merupakan kucing liar Asia yang hidup secara alami di habitatnya, sedangkan kucing Bengal yang dikenal sebagai kucing peliharaan merupakan ras hasil persilangan yang melibatkan kucing kuwuk dan kucing domestik.
Pengalaman Aisyah, menunjukkan bagaimana kekeliruan tersebut dapat terjadi.
Ia sempat mengira anak kucing yang ditemukan sebagai hewan lucu yang bisa dipelihara.
“Sumpah pas awal nemu tuh imut bgt, udah mau tak bawa pulang buat dipelihara. Tapi pas iseng ngepap ke temen, dia malah heboh ngomong kalo itu tuh kucing kuwuk liar yg dilindungi. Kaget dong, pas tau gitu ya udah gercep tak balikin lagi ke tempat asal nemu,” katanya.
Cerita tersebut menjadi pengingat bahwa tampilan jinak atau menggemaskan tidak berarti seekor satwa liar aman untuk dibawa pulang.
Ciri khas kucing kuwuk
Secara fisik, ukuran kucing kuwuk relatif menyerupai kucing rumah.
Namun, terdapat sejumlah ciri yang membedakannya.
Kaki kucing kuwuk cenderung lebih panjang dan terdapat selaput di antara jari-jari.
Tubuhnya dihiasi pola tutul hitam, sementara bagian kepala memiliki garis hitam vertikal yang memanjang dari dahi menuju tengkuk.
Warna putih di sekitar mata dan hidung juga menjadi salah satu karakter visual yang menonjol.
Kombinasi corak tersebut membuat kucing kuwuk sekilas tampak seperti kucing Bengal, meskipun keduanya memiliki status dan kehidupan yang berbeda.
Hidup di alam, bukan sebagai hewan peliharaan
Di Indonesia, kucing kuwuk diketahui memiliki sebaran alami di Sumatra, Jawa, Bali, hingga Kalimantan.
Habitatnya dapat berupa hutan tropis, kawasan semak, serta area perkebunan yang masih memiliki kedekatan dengan sumber air.
Satwa ini pada dasarnya hidup soliter dan lebih aktif pada malam hari.
Kemampuan memanjat pohon dan berenang mendukung aktivitas berburu di berbagai lingkungan.
Mangsa kucing kuwuk cukup beragam, mulai dari mamalia kecil seperti tikus, burung, reptil, amfibi, hingga serangga.
Keberadaannya sebagai predator turut menjadi bagian dari keseimbangan ekosistem karena membantu mengendalikan populasi hewan-hewan yang menjadi mangsanya.
Mengapa kucing kuwuk berbeda dari kucing Bengal?
Nama “Bengal” sering menjadi sumber kebingungan.
Ras kucing Bengal modern dikembangkan sebagai kucing peliharaan dan memiliki sejarah persilangan dengan kucing domestik.
Sementara itu, kucing kuwuk yang hidup di alam merupakan satwa liar dengan perilaku dan kebutuhan ekologis yang berbeda.
Dengan demikian, menemukan kucing bercorak tutul di lingkungan alam tidak otomatis berarti menemukan kucing Bengal yang tersesat.
Identifikasi satwa sebaiknya tidak hanya berdasarkan corak bulu, tetapi juga memperhatikan perilaku, habitat, dan konteks tempat ditemukan.
Kucing kuwuk termasuk satwa dilindungi
Dalam daftar jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi, Prionailurus bengalensis tercantum sebagai kucing kuwuk pada nomor urut 58 di kelompok Felidae dalam Permen LHK Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.
Artinya, masyarakat tidak boleh sembarangan menangkap, memiliki, memelihara, mengangkut, atau memperdagangkan kucing kuwuk.
Ketentuan perlindungan tersebut penting dipahami karena keputusan membawa pulang satwa dari alam dapat berujung pada persoalan konservasi maupun hukum.
Sanksinya kini lebih berat
Ada satu hal yang perlu diluruskan dari informasi hukum lama.
UU Nomor 5 Tahun 1990 memang masih menjadi dasar konservasi, tetapi ketentuannya telah diubah melalui UU Nomor 32 Tahun 2024 yang berlaku sejak 7 Agustus 2024.
Dalam ketentuan baru, Pasal 21 ayat (2) melarang antara lain memburu, menangkap, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperdagangkan satwa dilindungi dalam keadaan hidup.
Untuk pelanggaran terhadap ketentuan tersebut, Pasal 40A mengatur ancaman pidana bagi orang perseorangan berupa penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun, disertai denda kategori IV sampai kategori VII.
Karena itu, informasi yang hanya menyebut ancaman “hingga 5 tahun” berdasarkan ketentuan lama sudah tidak tepat untuk menggambarkan rezim hukum yang berlaku saat ini.
Apa yang harus dilakukan saat menemukan kucing kuwuk?
Menemukan anak kucing kuwuk di sekitar kebun, semak, atau kawasan berhutan dapat membuat orang tergoda untuk menyelamatkannya dengan cara membawa pulang.
Namun, tindakan tersebut justru dapat memisahkan satwa dari induknya dan mengganggu proses alaminya.
Langkah pertama adalah tidak langsung membawa satwa tersebut untuk dipelihara.
Amati situasi dari jarak aman dan, bila memungkinkan, biarkan satwa tetap berada di lokasi asalnya.
Jangan pula memberikan perlakuan seperti kepada kucing rumahan.
Apabila kondisi satwa membutuhkan penanganan atau terdapat keraguan mengenai langkah yang harus diambil, masyarakat sebaiknya berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) atau instansi berwenang setempat.
Penanganan satwa liar perlu dilakukan berdasarkan pertimbangan konservasi, bukan semata-mata karena rasa kasihan.
Bagi warga Banyuwangi, kenali sebelum membawa pulang
Banyuwangi memiliki bentang alam yang beragam dan wilayah yang berdekatan dengan habitat alami satwa liar.
Karena itu, peluang masyarakat berinteraksi dengan satwa liar bukan sesuatu yang mustahil.
Pengetahuan sederhana tentang identitas satwa dapat mencegah kesalahan yang berakibat pada kerugian bagi hewan maupun manusia.
Kucing kuwuk bukan kucing peliharaan yang cantik lalu bisa dibawa pulang.
Satwa ini memiliki peran ekologis sebagai predator alami dan merupakan bagian dari keanekaragaman hayati yang perlu dipertahankan di habitatnya.
Ketika menemukan satwa liar dengan ciri yang menyerupai kucing kuwuk, pilihan paling aman adalah tidak menangkap atau memeliharanya secara mandiri.
Membiarkan satwa tetap berada di alam, atau meminta bantuan otoritas konservasi ketika diperlukan, merupakan bentuk kepedulian yang lebih tepat.
Editor : Lugas Rumpakaadi