RADAR BANYUWANGI – Belajar tentang air tidak harus selalu di dalam kelas. Puluhan siswa sekolah dasar di Gugus 2 Kecamatan Glagah, Banyuwangi, bakal diajak melihat langsung sumber mata air, mengenal tanaman, hingga memahami pentingnya kesehatan dan kelestarian lingkungan di kawasan Sumber Gedor, Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program Wisata Edukasi Sejak Usia Dini (Wis Esa Sek Adi) yang kembali digelar Rabu (19/8). Program ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar langsung kepada siswa dengan menjadikan alam dan fasilitas pengelolaan air sebagai ruang kelas.
Tidak hanya melihat sumber air, para siswa juga akan mendapatkan materi dari sejumlah instansi. Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PUDAM) Banyuwangi, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi disiapkan sebagai narasumber untuk memberikan pengetahuan sesuai bidang masing-masing.
Melihat Langsung Jejak Pengelolaan Air Sejak 1926
Salah satu daya tarik kegiatan tersebut adalah keberadaan bangunan peninggalan era kolonial di kawasan Sumber Gedor.
Bangunan tersebut berupa broncaptering, yakni bangunan yang berfungsi menangkap dan mengumpulkan air dari sumber mata air. Broncaptering di Sumber Gedor dibangun pada 1926 dan mulai dioperasikan setahun kemudian, pada 1927.
Bagi siswa, bangunan berusia hampir satu abad itu bukan sekadar peninggalan sejarah. Mereka dapat melihat langsung bagaimana sumber air sejak dahulu telah dikelola agar bisa dimanfaatkan.
Narasumber dari PUDAM Banyuwangi akan menjelaskan fungsi bangunan tersebut sekaligus mengenalkan proses pengelolaan air kepada para peserta.
Setelah itu, siswa diajak menyusuri kawasan Sumber Gedor. Mereka akan diperkenalkan dengan berbagai jenis tumbuhan yang tumbuh di lahan seluas belasan hektare tersebut.
Pembelajaran lapangan ini diharapkan membuat siswa memahami bahwa ketersediaan air bersih tidak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan di sekitar sumber mata air.
DLH dan Dinkes Ikut Bekali Siswa
Materi yang diberikan tidak hanya berkutat pada air. Para siswa juga akan mendapatkan pengetahuan mengenai pelestarian lingkungan dan kesehatan.
DLH Banyuwangi akan memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga lingkungan, termasuk keberadaan vegetasi di sekitar sumber air. Sementara Dinkes Banyuwangi memberikan edukasi yang berkaitan dengan kesehatan.
Konsep tersebut membuat Wis Esa Sek Adi tidak sekadar menjadi kegiatan wisata. Para siswa mendapatkan pengalaman belajar yang menghubungkan tiga hal penting dalam kehidupan sehari-hari: air bersih, lingkungan yang lestari, dan kesehatan.
Dengan melihat secara langsung kondisi sumber air, siswa diharapkan lebih mudah memahami alasan mengapa sumber daya air harus dijaga.
Sebelumnya, 60 Siswa SDN 1 Glagah Ikut Belajar
Program Wis Esa Sek Adi sebelumnya telah dilaksanakan pada Selasa (12/8). Sebanyak 60 siswa SDN 1 Glagah mengikuti kegiatan tersebut.
Para siswa tidak hanya mengunjungi Sumber Gedor, tetapi juga mendatangi tempat penampungan air di Kelurahan Kalipuro.
Di lokasi itu, mereka mendapatkan materi sekaligus melihat langsung proses pengelolaan air. Mulai dari air yang berasal dari sumber hingga akhirnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran tersendiri bagi siswa maupun guru pendamping. Pembelajaran yang biasanya disampaikan melalui buku dan penjelasan guru dapat dilihat secara langsung di lapangan.
Guru pendamping siswa SDN 1 Glagah, Febi Prima Setiawan, menilai kegiatan tersebut memberikan manfaat besar bagi anak-anak.
“Sangat bagus untuk menambah wawasan anak-anak mengenai pengelolaan air,” ujarnya.
Alam Jadi Ruang Kelas
Program Wis Esa Sek Adi pada akhirnya membawa pesan sederhana: mengenalkan lingkungan sejak dini berarti menanamkan kepedulian sebelum anak-anak tumbuh dewasa.
Sumber air, tumbuhan, bangunan pengelolaan air, hingga kesehatan menjadi satu rangkaian pembelajaran. Siswa tidak hanya mengetahui dari mana air berasal, tetapi juga memahami bahwa keberadaannya bergantung pada lingkungan yang harus dirawat.
Melalui kegiatan semacam ini, sumber mata air bukan hanya menjadi tempat yang dikunjungi. Ia berubah menjadi ruang kelas terbuka tempat siswa belajar tentang sejarah, lingkungan, air bersih, kesehatan, dan tanggung jawab menjaga alam. (ray/sgt)
Editor : Ali Sodiqin