“Takcinpaparerahedibersu” Bikin Nostalgia, Semangat Pramuka Kini Masuk Era Digital

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:30 WIB
Bupati Ipuk Fiestiandani yang juga Kamabicab Banyuwangi didampingi Ketua Kwarcab Pramuka Mujiono, Plt Kadispendik Alfian, dan perwakilan Bank Jatim  Glemboh Priambodo menyerahkan program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) kepada perwakilan anggota Pramuka peserta Pawai Lampion pada Kamis malam (13/8). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Bupati Ipuk Fiestiandani yang juga Kamabicab Banyuwangi didampingi Ketua Kwarcab Pramuka Mujiono, Plt Kadispendik Alfian, dan perwakilan Bank Jatim Glemboh Priambodo menyerahkan program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) kepada perwakilan anggota Pramuka peserta Pawai Lampion pada Kamis malam (13/8). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Masih ingat cara menghafal Dasa Dharma Pramuka saat duduk di bangku sekolah? Sebagian mungkin masih lancar menyebutnya. Sebagian lainnya barangkali hanya ingat satu rangkaian kata unik: “Takcinpaparerahedibersu.”

Akronim tersebut pernah menjadi “jembatan” bagi banyak pelajar untuk menghafalkan 10 Dasa Dharma Pramuka. Kini, semangat yang terkandung di dalamnya kembali dihidupkan melalui Radar Banyuwangi Digital Mission Race 2026, sebuah ajang yang memadukan petualangan, keterampilan Pramuka, budaya, lingkungan, jurnalistik, hingga teknologi digital.

Kegiatan yang digelar Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) bersama Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Banyuwangi tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pramuka. Pesertanya menyasar regu Pramuka jenjang SMP/MTs se-Banyuwangi, dengan masing-masing regu terdiri atas lima anggota putra dan putri.

Mengusung tagline “Jelajah Banyuwangi, Tuntaskan Misi, Jaga Bumi”, Digital Mission Race 2026 tidak sekadar menawarkan perlombaan. Para peserta diajak menguji pengetahuan sekaligus kemampuan bekerja dalam tim melalui misi yang bersentuhan langsung dengan berbagai potensi Banyuwangi.

Dari Dasa Dharma hingga Tantangan Generasi Digital

Bagi generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi, tantangan pendidikan tidak lagi sebatas kemampuan akademik.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Alfian menilai pendidikan karakter menjadi salah satu tantangan penting yang harus dijawab bersama.

Karena itu, kegiatan Pramuka dinilai tetap relevan. Terutama karena di dalamnya terdapat pembelajaran tentang kepemimpinan, kolaborasi, kedisiplinan, hingga kemampuan menghadapi berbagai dinamika.

“‎Maka Pramuka yang mengajarkan tentang leadership dan semangat kolaborasi hingga menghadapi berbagai dinamika itu bagian dari peran strategis menjawab tantangan tersebut,” ujar Alfian.

Semangat tersebut menjadi salah satu fondasi Digital Mission Race 2026. Kompetisi dirancang agar peserta tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi juga kemampuan memecahkan persoalan, bekerja sama, beradaptasi, serta mengenali lingkungan di sekitarnya.

Kemenag Banyuwangi: Gabungkan IQ, EQ, dan SQ

Dukungan juga datang dari Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Banyuwangi Chaironi Hidayat.

Chaironi mengaku mengapresiasi konsep Digital Mission Race 2026. Menurut dia, kegiatan tersebut menjadi terobosan karena menggabungkan sejumlah aspek penting dalam pembentukan generasi muda.

Dia melihat kegiatan tersebut tidak hanya mengasah kecerdasan intelektual atau intelligence quotient (IQ), tetapi juga kecerdasan emosional (emotional quotient/EQ) dan kecerdasan spiritual (spiritual quotient/SQ).

“Di mana tiga hal tersebut menjadi kebutuhan inti yang harus ditanamkan kepada generasi muda kita sejak dini untuk mencapai Indonesia Emas,” katanya.

Chaironi pun berharap kegiatan serupa dapat terus digelar sehingga Pramuka tidak hanya identik dengan kegiatan di lapangan, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan zaman.

“Kemenag sangat mendukung kegiatan ini dan berharap event semacam ini terus diadakan,” tegasnya.

“Takcinpaparerahedibersu” dan 10 Nilai yang Tetap Relevan

Bagi mereka yang pernah menjadi anggota Pramuka, “Takcinpaparerahedibersu” mungkin langsung membawa kembali kenangan masa sekolah.

Rangkaian kata tersebut merupakan akronim dari Dasa Dharma Pramuka, yakni:

  1. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

  2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia

  3. Patriot yang sopan dan kesatria

  4. Patuh dan suka bermusyawarah

  5. Rela menolong dan tabah

  6. Rajin, terampil, dan gembira

  7. Hemat, cermat, dan bersahaja

  8. Disiplin, berani, dan setia

  9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya

  10. Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan

Nilai-nilai tersebut menjadi menarik ketika dipertemukan dengan tantangan generasi digital. Kemampuan berkolaborasi, bertanggung jawab, disiplin, peduli lingkungan, serta berani mengambil keputusan tetap menjadi bekal penting, meski medan kehidupan anak-anak kini telah berubah.

Di sinilah Digital Mission Race 2026 mencoba membawa semangat lama Pramuka ke dalam kemasan yang lebih dekat dengan generasi sekarang.

Peserta tidak hanya diajak mengingat kembali Dasa Dharma, tetapi juga menjelajah Banyuwangi, mengenali budaya dan pariwisata, menjaga lingkungan, mengasah kemampuan jurnalistik, serta memanfaatkan teknologi digital.

Dengan begitu, semangat Pramuka tidak berhenti sebagai hafalan yang pernah dikuasai di bangku sekolah. Nilai-nilai tersebut diharapkan tetap hidup dalam perilaku dan kemampuan generasi muda menghadapi tantangan masa depan. (ray/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
Pramuka Banyuwangi Digital Mission Race Dasa Dharma Pramuka digital hari pramuka