Menaklukkan Lereng dan Jurang, Ini Teknik Membangun Rel di Pegunungan

Daafi Adilla Achmad • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:23 WIB
Jalur kereta di kawasan pegunungan membutuhkan perencanaan khusus agar gradien, stabilitas lereng, dan keselamatan tetap terjaga. (Pexels/Oleksandr Lutsenko)
Jalur kereta di kawasan pegunungan membutuhkan perencanaan khusus agar gradien, stabilitas lereng, dan keselamatan tetap terjaga. (Pexels/Oleksandr Lutsenko)

RADAR BANYUWANGI - Membangun jalur kereta api di daerah pegunungan bukan sekadar menentukan titik awal dan akhir, kemudian menarik garis di antara keduanya. Medan yang terjal membuat setiap meter lintasan harus dihitung dengan cermat.

Kemiringan lereng, kondisi batuan, keberadaan sungai dan lembah, potensi longsor, air tanah, hingga ancaman gempa menjadi bagian dari perhitungan. Di tengah kondisi tersebut, insinyur dituntut menciptakan jalur yang tetap memenuhi kebutuhan operasional kereta sekaligus aman digunakan dalam jangka panjang.

Persoalan pertama justru muncul sebelum alat berat bekerja. Rute harus dipilih dengan mempertimbangkan banyak variabel. Survei topografi dan geologi dilakukan untuk membaca bentuk lahan serta kondisi bawah permukaan. Kajian lingkungan, kebutuhan stasiun, potensi penumpang, sampai aspek sosial-ekonomi juga menjadi bahan pertimbangan.

Japanese Railway Technical Research Institute (JRTT) menjelaskan bahwa pembangunan jalur kereta didahului proses perencanaan yang mencakup pemilihan rute, lokasi stasiun, fasilitas pendukung, serta berbagai studi pendahuluan. Artinya, jalur kereta di pegunungan tidak selalu mengikuti garis lurus karena rute terbaik bisa saja justru berkelok mengikuti kontur medan.

Salah satu persoalan paling mendasar adalah gradien atau kemiringan jalur. Kereta api memiliki keterbatasan dalam menaklukkan tanjakan. Jalur yang terlalu curam dapat mengurangi efisiensi sekaligus memengaruhi keselamatan dan kemampuan operasi kereta.

Karena itu, kenaikan elevasi harus dicapai secara bertahap. Insinyur dapat membuat lintasan berkelok mengikuti lereng sehingga jarak tempuh menjadi lebih panjang, tetapi kemiringannya tetap berada pada batas yang dapat dilalui kereta.

Pada kondisi tertentu, jalur bahkan dapat menggunakan bentuk spiral untuk memperoleh tambahan jarak tanpa menaikkan kemiringan secara berlebihan. Prinsip semacam ini ditemukan pada sejumlah jalur kereta pegunungan di dunia.

UNESCO menjelaskan bahwa strategi tersebut memungkinkan kereta memperoleh kenaikan ketinggian secara bertahap. Kereta memang menempuh jarak lebih jauh, tetapi gradien jalur dapat dikendalikan.

"Kereta memiliki batas kemampuan menanjak sehingga insinyur harus mencari cara agar perubahan ketinggian berlangsung secara bertahap."

Kutipan tersebut menggambarkan inti persoalan pembangunan jalur kereta di daerah berbukit dan bergunung. Bukan hanya soal sampai ke tempat yang lebih tinggi, melainkan bagaimana mencapainya dengan kemiringan yang masih dapat diterima kereta.

Ada kalanya jalur berkelok terlalu panjang atau tetap menghasilkan gradien yang tidak ideal. Pada titik inilah terowongan menjadi solusi.

Terowongan memungkinkan jalur menembus bagian dalam gunung sehingga lintasan bisa dibuat lebih langsung. Namun, membangun terowongan sendiri merupakan pekerjaan teknik yang kompleks karena kondisi batuan tidak selalu seragam.

Metode New Austrian Tunnelling Method atau NATM menjadi salah satu pendekatan yang digunakan. Secara prinsip, metode ini memanfaatkan kemampuan massa batuan di sekitar bukaan terowongan sebagai bagian dari sistem penyangga. Beton semprot dan rock bolt digunakan untuk membantu menjaga kestabilan struktur.

Kondisi geologi kemudian menentukan bagaimana penggalian dilakukan. Gunung bukanlah massa batuan yang seragam. Dalam satu segmen dapat ditemukan batuan keras, sedangkan beberapa meter berikutnya mungkin terdapat batuan retak atau zona patahan.

Karena itu, pekerjaan investigasi geologi tidak berhenti ketika konstruksi dimulai. Kondisi batuan terus dipantau agar metode penggalian dan sistem penyangga dapat disesuaikan.

Pengalaman proyek Terowongan Gotthard di Swiss menunjukkan kompleksitas tersebut. Pekerjaan dapat melibatkan kombinasi penggalian awal, tunnel boring machine atau TBM, peledakan pada zona tertentu, serta pemasangan lapisan dan fasilitas interior terowongan.

Gunung tidak selalu harus dilawan dengan terowongan. Ketika jalur berhadapan dengan lembah atau jurang, jembatan dan viaduk bisa menjadi pilihan yang lebih tepat.

Struktur tersebut memungkinkan rel melewati suatu lembah tanpa harus turun terlebih dahulu ke dasar, kemudian mendaki kembali ke sisi lainnya. Cara ini dapat membantu mempertahankan profil jalur sekaligus mengurangi pekerjaan tanah yang terlalu besar.

Pemilihan antara terowongan, viaduk, jembatan, atau jalur terbuka bergantung pada karakter medan, kondisi geologi, aspek keselamatan, biaya, serta kebutuhan operasional.

Dengan demikian, pembangunan jalur kereta di pegunungan pada dasarnya merupakan proses mencari kombinasi struktur paling efisien untuk setiap bagian lintasan.

Perkembangan teknologi membuat konsep pembangunan jalur kereta di pegunungan semakin maju. Salah satunya melalui base tunnel, yakni terowongan panjang yang melewati pegunungan pada elevasi relatif rendah.

Konsep ini berbeda dengan jalur yang harus mengikuti permukaan pegunungan dan naik turun secara ekstrem. Dengan membawa lintasan lebih mendatar melalui bagian dalam gunung, kereta dapat beroperasi dengan gradien yang lebih terkendali.

Swiss menjadi salah satu contoh paling terkenal. New Rail Link through the Alps (NRLA) mencakup Lötschberg, Gotthard, dan Ceneri Base Tunnel. Pemerintah Swiss menjelaskan bahwa rangkaian terowongan tersebut membentuk jalur yang lebih datar melintasi Alpen.

Keuntungannya bukan hanya memangkas tantangan geografis. Jalur yang lebih datar juga mendukung perjalanan yang lebih efisien serta memperkuat perpindahan angkutan barang dari jalan raya ke kereta api.

Salah satu faktor yang sering luput dari perhatian adalah air. Dalam proyek pegunungan, air tanah dapat merembes melalui retakan batuan dan masuk ke area terowongan. Di luar terowongan, curah hujan tinggi juga bisa meningkatkan risiko longsor pada lereng.

Karena itu, pembangunan jalur tidak berhenti ketika terowongan selesai digali atau jembatan selesai didirikan.

Sistem drainase harus dirancang untuk mengendalikan air. Lereng perlu dilindungi dan pada titik tertentu membutuhkan struktur penahan. Kondisi geologi pun harus dipantau untuk mendeteksi perubahan yang berpotensi membahayakan jalur.

Ini menunjukkan bahwa pembangunan kereta api di pegunungan merupakan pekerjaan lintas disiplin. Geologi bertemu dengan hidrologi, teknik struktur, teknik transportasi, hingga rekayasa perkeretaapian.

Setelah pekerjaan sipil utama selesai, tahap berikutnya adalah membangun struktur jalur dan memasang berbagai sistem perkeretaapian.

Rel, track slab, pengikat rel, serta komponen penunjang harus ditempatkan dengan tingkat presisi tinggi. Pada jalur yang menggunakan kereta listrik, pekerjaan juga mencakup sistem kelistrikan.

Tidak kalah penting adalah persinyalan, komunikasi, ventilasi terowongan, dan sistem keselamatan. Semuanya harus bekerja sebagai satu kesatuan agar perjalanan kereta dapat berlangsung secara aman dan andal.

JRTT mencatat bahwa struktur jalur dan sistem perkeretaapian dipasang setelah pekerjaan sipil seperti terowongan, jembatan, dan bagian jalur lainnya tersedia. Urutannya menunjukkan bahwa rel hanyalah satu bagian dari infrastruktur yang jauh lebih kompleks.

Membangun jalur kereta di pegunungan adalah upaya mengendalikan alam tanpa mengabaikan karakter alam itu sendiri.

Rute harus menyesuaikan kontur. Gradien harus dibatasi. Lereng harus distabilkan. Air harus dikendalikan. Gunung dapat ditembus dengan terowongan, sementara lembah dapat dilintasi melalui viaduk atau jembatan.

Semua elemen tersebut kemudian dipadukan dengan sistem rel, kelistrikan, persinyalan, komunikasi, ventilasi, dan keselamatan.

Hasil akhirnya bukan sekadar jalur yang menghubungkan dua tempat. Lebih dari itu, jalur kereta di pegunungan merupakan hasil rekayasa yang memungkinkan perjalanan berlangsung aman di medan yang sejak awal memang tidak mudah ditaklukkan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
teknologi perkeretaapian kereta api pegunungan teknik pembangunan rel terowongan kereta api jalur kereta pegunungan