Saat Karnaval Berlangsung, Mengapa Penonton Memilih Berdiri?

Meivira Choirotul Aqila • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 14:31 WIB
Penonton berdiri di tepi jalan saat karnaval berlangsung. Antusiasme menyaksikan peserta dari jarak dekat kerap membuat pandangan penonton di barisan belakang ikut terhalang. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)
Penonton berdiri di tepi jalan saat karnaval berlangsung. Antusiasme menyaksikan peserta dari jarak dekat kerap membuat pandangan penonton di barisan belakang ikut terhalang. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI - Pawai, karnaval, hingga festival budaya hampir selalu punya satu daya tarik yang sama, mampu mengundang kerumunan dalam jumlah besar. Musik, kostum, atraksi, serta iring-iringan peserta yang bergerak di sepanjang jalan membuat suasana cepat berubah menjadi pesta rakyat.

Namun, ada satu kebiasaan penonton yang kerap menimbulkan persoalan kecil di tengah kemeriahan itu. Yakni, penonton yang semula duduk rapi justru berdiri ketika rombongan karnaval mulai melintas.

Bagi penonton di barisan depan, berdiri terasa menjadi pilihan paling masuk akal. Posisi tersebut membuat mereka lebih leluasa melihat peserta, mengambil gambar, maupun berinteraksi langsung. Persoalannya, keputusan itu bisa menjadi masalah bagi mereka yang berada di belakang.

Tanpa adanya tribun bertingkat seperti di stadion, barisan penonton di tepi jalan umumnya berada pada ketinggian yang sama. Kursi berjajar di trotoar, bahu jalan, bahkan posisi lesehan membuat jarak pandang sangat bergantung pada sikap orang di depan.

Begitu satu orang berdiri, penonton di belakang kerap kehilangan sudut pandang. Kondisi itu kemudian mudah menular. Satu orang bangkit, disusul beberapa orang lain, hingga akhirnya sebagian besar barisan ikut berdiri.

Nita, 26, salah satu penonton karnaval, mengaku situasi tersebut cukup mengganggu. Ia menilai posisi duduk menjadi tidak banyak berarti ketika penonton di depannya mulai berdiri.

“Sejujurnya agak kesal dan serba salah kalau dapat posisi di barisan agak belakang. Kita dari awal udah usahain duduk rapi, tapi begitu peserta karnaval lewat, orang-orang di depan langsung pada berdiri. Akhirnya pandangan kita tertutup total, bukannya menikmati acara malah cuma bisa ngeliat punggung orang atau HP yang pada diangkat tinggi-tinggi,” ujarnya.

Kebiasaan berdiri sebenarnya tidak selalu muncul karena penonton ingin menerobos batas. Ada sejumlah faktor yang membuat posisi berdiri terasa lebih nyaman dan menguntungkan.

Pertama adalah soal sudut pandang. Ketika kursi penonton tidak dibuat berundak, posisi duduk kerap membuat peserta di tengah jalan hanya terlihat sebagian. Berdiri menjadi cara cepat untuk mendapatkan pandangan yang lebih terbuka.

Kedua, urusan kamera. Karnaval kini bukan hanya soal menonton. Momen yang lewat di depan mata juga ingin diabadikan melalui foto dan video. Penonton pun cenderung berdiri agar hasil dokumentasi tidak terganggu kepala orang lain.

Ponsel yang terangkat tinggi bahkan menjadi pemandangan lazim di tengah kerumunan. Setiap peserta dengan kostum menarik atau atraksi unik dianggap sebagai kesempatan untuk membuat konten.

Ketiga, ada keinginan untuk berinteraksi langsung. Penonton bisa lebih mudah melambaikan tangan, bersalaman, berfoto bersama peserta, atau mengambil pernak-pernik yang dibagikan sepanjang rute.

Keempat, karakter pawai memang berbeda dengan pertunjukan di dalam gedung. Peserta terus bergerak dari satu titik ke titik lain. Penonton pun kadang ikut bergeser agar bisa mengikuti kontingen favorit.

Dalam situasi seperti ini, duduk diam sepanjang acara justru membuat sebagian penonton merasa kehilangan momen.

Ada pula faktor psikologis yang tidak kalah kuat, yakni terbawa suasana.

Ketika marching band mulai memainkan musik, peserta karnaval muncul dengan kostum mencolok, dan sorak-sorai terdengar dari berbagai penjuru, respons penonton ikut berubah. Yang semula tenang dapat spontan berdiri untuk memberi tepuk tangan atau mendekat ke pembatas.

Fenomena tersebut menjadi semacam efek domino. Penonton tidak selalu merencanakan untuk berdiri. Mereka hanya mengikuti perubahan situasi di sekitarnya.

Faktor keamanan juga ikut berperan. Kerumunan di ruang terbuka memiliki pola pergerakan yang lebih dinamis dibandingkan penonton di gedung. Berdiri dianggap membuat tubuh lebih mudah bergerak ketika ruang tiba-tiba menyempit atau massa bergeser.

Meski demikian, persoalan utamanya bukan pada pilihan duduk atau berdiri. Tantangan sebenarnya terletak pada bagaimana hak penonton di depan dan belakang tetap sama-sama terakomodasi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa fasilitas penonton menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pawai dan karnaval. Ketika acara dipusatkan di jalan raya, tata letak penonton tidak bisa disamakan dengan pertunjukan biasa.

Penyelenggara bisa mempertimbangkan pembagian area penonton, jalur interaksi, maupun batas yang lebih jelas antara penonton dan peserta. Area berdiri serta area duduk juga dapat dipisahkan agar tidak saling mengganggu.

Editor : Lugas Rumpakaadi
penonton berdiri acara jalan raya karnaval festival budaya Pawai