RADAR BANYUWANGI – Puluhan siswa SDN 1 Glagah mendapat pengalaman berbeda saat mengikuti program Wisata Edukasi Sejak Usia Dini (Wis Esa Sek Adi), Rabu (12/8). Mereka tidak hanya diajak menikmati suasana alam, tetapi juga melihat langsung perjalanan air, mulai dari mata air hingga diproses menjadi air yang siap dialirkan ke rumah pelanggan.
Sebanyak 60 siswa mengikuti kegiatan tersebut dengan mengunjungi dua lokasi, yakni Sumber Gedor di Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Glagah, dan tempat penampungan air di Kelurahan/Kecamatan Kalipuro.
Konsep wisata edukasi itu membuat siswa bisa belajar tentang lingkungan sekaligus memahami proses pengelolaan air secara langsung. Pengetahuan yang biasanya diperoleh dari buku pelajaran kini mereka lihat dengan mata kepala sendiri.
Melihat Sumber Air dari Dekat
Perjalanan pertama dimulai di kawasan Sumber Gedor, Gombengsari. Di sana, siswa diperkenalkan dengan broncaptering, yakni bangunan penangkap mata air yang berfungsi melindungi sekaligus mengumpulkan air dari sumber agar terhindar dari kontaminasi.
Tak berhenti pada pengenalan bangunan penangkap mata air, para siswa juga diajak mengamati berbagai jenis vegetasi yang tumbuh di kawasan seluas belasan hektare tersebut.
Di tengah suasana alam, mereka mendapatkan materi mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Edukasi kesehatan juga menjadi bagian dari kegiatan tersebut.
Pesan yang ingin ditanamkan sederhana: kualitas air yang digunakan masyarakat tidak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan tempat air itu berasal.
Karena itu, menjaga kawasan sumber air bukan sekadar urusan pemerintah atau pengelola. Kelestarian lingkungan juga membutuhkan kepedulian masyarakat sejak usia dini.
Dari Mata Air hingga Masuk Pipa Rumah
Petualangan edukasi siswa kemudian berlanjut ke tempat penampungan air di Kalipuro.
Di lokasi ini, mereka mendapat gambaran lebih lengkap mengenai proses pengolahan air yang berasal dari Sumber Gedor sebelum dialirkan kepada pelanggan PUDAM Banyuwangi.
Para siswa bisa melihat bahwa air dari sumber tidak serta-merta langsung dialirkan menuju rumah warga. Ada proses pengolahan yang dilakukan untuk memastikan kualitas air tetap terjaga.
Salah satu tahapan yang diperkenalkan adalah penggunaan gas klorin dengan kadar yang dikontrol secara ketat. Proses tersebut bertujuan membunuh mikroorganisme seperti kuman, bakteri, dan virus sekaligus membantu mencegah pertumbuhan kembali mikroorganisme serta parasit di jaringan pipa.
Bagi para siswa, proses tersebut memberikan gambaran nyata tentang perjalanan panjang air sebelum akhirnya bisa dimanfaatkan masyarakat di rumah.
Belajar Alam Sekaligus Kesehatan
Guru pendamping SDN 1 Glagah Febi Prima Setiawan mengatakan program Wis Esa Sek Adi memberikan pengalaman yang bermanfaat bagi para siswa.
Menurut dia, kegiatan tersebut memperluas wawasan anak-anak mengenai pentingnya menjaga kelestarian alam, kesehatan, hingga pengelolaan air.
“Semoga para siswa lebih mengerti proses air dari sumber hingga sampai ke rumah-rumah masyarakat,” katanya.
Kegiatan itu sekaligus menjadi contoh bahwa pembelajaran tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas.
Dengan melihat langsung sumber air, vegetasi di sekitarnya, bangunan penangkap mata air, hingga proses pengolahan di tempat penampungan, siswa dapat memahami satu rangkaian utuh yang selama ini mungkin hanya mereka kenal melalui buku pelajaran.
Dari Sumber Gedor hingga keran rumah, para siswa belajar bahwa air bersih tidak muncul begitu saja. Ada alam yang harus dijaga dan proses panjang yang harus dilakukan agar air dapat digunakan masyarakat dengan aman. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin