RADAR BANYUWANGI – Belajar tentang air bersih tak selalu harus berlangsung di dalam kelas. Sebanyak 60 siswa SDN 1 Glagah justru diajak melihat langsung dari mana air berasal, bagaimana dikelola, hingga akhirnya bisa dimanfaatkan masyarakat Banyuwangi.
Pengalaman tersebut didapat para siswa melalui program Wis Esa Sek Adi (Wisata Edukasi Sejak Usia Dini) yang kembali bergulir, Rabu (12/8). Kali ini, siswa kelas V dan VI mengikuti pembelajaran luar kelas dengan tema pentingnya air bersih.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa mengunjungi dua lokasi. Yakni Sumber Gedor di Kelurahan Gombengsari dan tempat penampungan air di Kelurahan Kalipuro.
Di dua lokasi itu, siswa tak sekadar mendengarkan penjelasan. Mereka melihat secara langsung proses pengelolaan air, mulai dari sumber hingga dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Suasana pembelajaran di alam tersebut menjadi pengalaman berbeda bagi siswa maupun guru pendamping. Mereka diajak mengenali lingkungan sekaligus memahami bahwa keberadaan sumber air bersih perlu dijaga bersama.
Guru pendamping SDN 1 Glagah Febi Prima Setiawan mengatakan, kegiatan Wis Esa Sek Adi memberikan manfaat besar bagi siswa. Pembelajaran di lapangan dinilai lebih mudah memberikan gambaran konkret mengenai materi yang selama ini mereka dapatkan di sekolah.
“Sangat bagus untuk menambah wawasan anak-anak mengenai pengelolaan air,” ujar Febi.
Dia berharap pengalaman tersebut membuat siswa memahami perjalanan air sebelum akhirnya bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Mulai dari bagaimana air berasal dari sumber, proses pengelolaan, hingga bagaimana air tersebut dapat sampai dan dimanfaatkan masyarakat di rumah.
Febi menyebut, sebanyak sekitar 60 siswa SDN 1 Glagah mengikuti kegiatan tersebut. Peserta berasal dari kelas V dan VI.
Tak Sekadar Belajar Air
Sementara itu, pemateri dari PUDAM Banyuwangi Nadia Hidayanti Suseno mengatakan, materi dalam Wis Esa Sek Adi tidak hanya membahas persoalan air bersih.
Para siswa juga mendapatkan pengetahuan mengenai kesehatan, dampak lingkungan, serta sejarah Sumber Gedor. Dengan begitu, pembelajaran tidak berhenti pada teori, tetapi dilengkapi pengalaman melihat langsung kondisi di lapangan.
“Selain memberikan pengetahuan mengenai air, para siswa juga diberikan pengetahuan mengenai kesehatan, dampak ke alam hingga sejarah dari Sumber Gedor itu sendiri,” tuturnya.
Pendekatan tersebut membuat siswa dapat memahami keterkaitan antara air, kesehatan, dan kelestarian lingkungan. Mereka juga diajak menyadari bahwa menjaga sumber air bukan hanya tanggung jawab pengelola, melainkan membutuhkan kepedulian masyarakat sejak dini.
Antusiasme pun terlihat dari para peserta. Salah satunya Danis, siswa kelas V SDN 1 Glagah. Dia mengaku senang bisa mengikuti pembelajaran langsung di alam.
Bagi Danis, pengalaman tersebut terasa berbeda dibandingkan belajar di ruang kelas. Bahkan, dia sempat mencoba langsung air dari Sumber Gedor.
“Senang bisa belajar langsung ke alam. Saya juga mencoba minum air dari Sumber Gedor. Rasanya segar, beda seperti yang di rumah,” ungkapnya. (ray/sgt)
Editor : Ali Sodiqin