RADAR BANYUWANGI - Es teh menjadi salah satu minuman yang nyaris selalu tersedia di warung makan, rumah makan, hingga pedagang kaki lima. Sensasi manis dan dinginnya kerap dipilih untuk menyegarkan tenggorokan setelah menyantap makanan, terlebih ketika cuaca sedang panas.
Namun, kebiasaan tersebut juga memunculkan pertanyaan. Benarkah minum es teh segera setelah makan dapat membahayakan kesehatan?
Pada dasarnya, minum es teh setelah makan tidak serta-merta membuat tubuh mengalami gangguan kesehatan. Meski demikian, waktu konsumsi dan kandungan dalam teh maupun gula tetap perlu diperhatikan.
Salah satu zat alami yang terdapat dalam teh adalah tanin. Senyawa tersebut dapat menghambat penyerapan zat besi dari makanan, terutama apabila teh dikonsumsi berdekatan dengan waktu makan.
Padahal, zat besi memiliki peran penting bagi tubuh. Nutrisi ini dibutuhkan dalam proses pembentukan sel darah merah dan mendukung distribusi oksigen sehingga tubuh dapat menjalankan aktivitas dengan baik.
Karena itu, kebiasaan langsung menyeruput teh setelah makan sebaiknya tidak dilakukan terus-menerus, khususnya bagi orang yang membutuhkan asupan zat besi yang lebih optimal.
Selain teh, kandungan gula dalam es teh juga menjadi hal yang tidak kalah penting. Es teh yang dijual di sejumlah tempat makan umumnya dibuat dengan tambahan gula untuk menghasilkan rasa manis yang lebih kuat.
Jika dikonsumsi terlalu sering dengan kadar gula tinggi, asupan gula harian dapat meningkat. Dalam jangka panjang, pola konsumsi tersebut dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan, masalah kesehatan gigi, serta meningkatnya risiko gangguan metabolisme seperti diabetes.
Salah satu cara sederhana untuk mengurangi risikonya adalah memberikan jeda antara waktu makan dan minum teh. Jeda sekitar 30 menit hingga satu jam dapat menjadi pilihan agar konsumsi teh tidak terlalu berdekatan dengan waktu makan.
Sementara itu, bagi orang yang merasa haus seusai makan, air putih dapat menjadi pilihan utama. Minuman tersebut tidak mengandung gula tambahan dan tidak memiliki tanin yang dapat mengganggu penyerapan zat besi.
Bukan berarti es teh harus sepenuhnya masuk daftar minuman yang dihindari. Masyarakat tetap dapat menikmatinya dengan memperhatikan frekuensi, takaran gula, serta waktu konsumsi.
Pilihan es teh rendah gula atau tanpa gula juga dapat menjadi alternatif. Sejumlah penjual bahkan menghadirkan variasi dengan irisan lemon atau daun mint sehingga minuman tetap terasa segar tanpa harus mengandalkan rasa manis berlebihan.
Dengan demikian, persoalan utamanya bukan sekadar dingin atau tidaknya es teh. Kebiasaan mengonsumsi teh terlalu dekat dengan waktu makan dan tingginya kandungan gula justru menjadi hal yang lebih penting untuk diperhatikan.
Menjadikan air putih sebagai pilihan utama setelah makan, kemudian memberi jeda sebelum menikmati teh, merupakan langkah sederhana untuk membangun kebiasaan konsumsi yang lebih bijak.
Editor : Lugas Rumpakaadi