Mengapa Harapan Hidup Laki-Laki Lebih Pendek? Riset WHO Ungkap Peran Biologi, Perilaku, hingga Norma Sosial

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:17 WIB
Pemeriksaan kesehatan menjadi salah satu langkah penting untuk mendeteksi faktor risiko penyakit sejak dini. (Pexels/Mufid Majnun)
Pemeriksaan kesehatan menjadi salah satu langkah penting untuk mendeteksi faktor risiko penyakit sejak dini. (Pexels/Mufid Majnun)

RADAR BANYUWANGI - Perbedaan angka harapan hidup antara laki-laki dan perempuan bukan sekadar persoalan kebiasaan hidup atau kecenderungan laki-laki melakukan aktivitas berisiko. Riset kesehatan global menunjukkan, kesenjangan tersebut terbentuk dari perpaduan faktor biologis, perilaku, lingkungan sosial, hingga pola laki-laki dalam mengakses layanan kesehatan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat perempuan secara konsisten memiliki harapan hidup lebih panjang dibandingkan laki-laki. Dalam World Health Statistics 2014, misalnya, bayi laki-laki yang lahir pada 2012 secara global diperkirakan memiliki harapan hidup sekitar 68 tahun. Sementara bayi perempuan mencapai sekitar 73 tahun.

Kesenjangan itu juga terlihat di berbagai kelompok negara. Di negara berpendapatan tinggi, perempuan rata-rata hidup sekitar enam tahun lebih lama daripada laki-laki. Di negara berpendapatan rendah, selisihnya sekitar tiga tahun.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa umur panjang tidak semata-mata ditentukan oleh kondisi biologis. WHO bahkan menegaskan, perbedaan kesehatan laki-laki dan perempuan tidak dapat dijelaskan hanya melalui faktor biologis.

Kerentanan biologis memang menjadi salah satu bagian dari persoalan. Laki-laki memiliki kromosom seks XY, sedangkan perempuan XX. Kondisi tersebut membuat laki-laki hanya memiliki satu kromosom X. Pada sejumlah kelainan genetik tertentu yang berkaitan dengan kromosom X, ketiadaan salinan X kedua dapat membuat laki-laki lebih rentan mengalami manifestasi penyakit.

Namun, menjadikan struktur kromosom sebagai penjelasan tunggal juga tidak tepat. Faktor biologis berinteraksi dengan lingkungan, perilaku, kondisi sosial ekonomi, serta akses terhadap pelayanan kesehatan.

Pola perilaku menjadi salah satu pembeda penting. WHO mencatat laki-laki di berbagai wilayah lebih sering memiliki perilaku yang meningkatkan risiko kesehatan, termasuk kebiasaan merokok, pola makan yang kurang sehat, konsumsi alkohol yang lebih tinggi, serta paparan cedera dan kekerasan. Laki-laki juga cenderung lebih jarang mengunjungi dokter dibandingkan dengan perempuan.

Di sinilah norma sosial turut berperan. Gambaran laki-laki sebagai sosok yang harus kuat, mandiri dan mampu menghadapi masalah sendiri dapat memengaruhi cara mereka merespons persoalan kesehatan. Ketika rasa sakit dianggap sesuatu yang harus ditahan atau persoalan psikologis dipendam, pemeriksaan dan pertolongan medis berpotensi datang terlambat.

Dampaknya tidak hanya terlihat pada penyakit. Cedera, kecelakaan, kekerasan dan perilaku berisiko juga berkontribusi terhadap tingginya kematian prematur laki-laki. WHO menyebut cedera sebagai penyebab penting kematian prematur pada laki-laki, sementara penyakit kardiovaskular, kanker, diabetes dan penyakit pernapasan menjadi kelompok penyakit utama yang menyebabkan kematian.

Data WHO yang lebih mutakhir memperkuat gambaran tersebut. Dalam Global Health Estimates, kematian dan beban penyakit global dianalisis berdasarkan jenis kelamin, usia, penyebab serta wilayah. WHO menyebut jumlah kematian dan disability-adjusted life years (DALYs) tahunan perempuan secara global sekitar 13 persen lebih rendah dibandingkan laki-laki.

Penyakit tidak menular kini menjadi bagian besar dari persoalan. Pada 2021, tujuh dari sepuluh penyebab kematian utama dunia merupakan penyakit tidak menular. Penyakit jantung iskemik dan stroke termasuk penyebab utama kematian global, disusul antara lain penyakit paru obstruktif kronis dan kanker.

Temuan itu sekaligus mengubah cara melihat kesehatan laki-laki. Persoalannya bukan sekadar apakah laki-laki lebih berani mengambil risiko, melainkan bagaimana faktor biologis bertemu dengan perilaku dan konstruksi sosial yang membentuk keputusan seseorang sepanjang hidup.

Karena itu, meningkatkan angka harapan hidup laki-laki membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Pemeriksaan kesehatan berkala, pengendalian tekanan darah, berhenti merokok, pola makan sehat dan aktivitas fisik perlu berjalan beriringan dengan perubahan cara pandang terhadap kesehatan mental dan perilaku mencari pertolongan.

WHO juga menekankan pentingnya pendekatan yang responsif terhadap perbedaan gender dalam kebijakan kesehatan. Laki-laki perlu didorong untuk lebih aktif menggunakan layanan pencegahan dan pengobatan, tanpa menjadikan kebutuhan mencari bantuan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan maskulinitas.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : WHO
kesehatan laki-laki harapan hidup pria risiko kematian laki-laki riset kesehatan global who