Bukan Karena Daya Ingat Buruk, Ini Alasan Mimpi Sering Menghilang Sesaat Setelah Mata Terbuka

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 15:47 WIB
Mimpi kerap lenyap beberapa detik setelah terbangun. (Pexels/Ivan Oboleninov)
Mimpi kerap lenyap beberapa detik setelah terbangun. (Pexels/Ivan Oboleninov)

RADAR BANYUWANGI - Pernah terbangun dengan perasaan baru saja mengalami mimpi yang begitu nyata, tetapi beberapa detik kemudian ceritanya hilang entah ke mana?

Kondisi tersebut ternyata bukan semata-mata karena seseorang memiliki daya ingat yang buruk.

Hilangnya ingatan tentang mimpi berkaitan dengan cara kerja otak ketika manusia memasuki fase tidur Rapid Eye Movement (REM).

Pada fase ini, aktivitas otak meningkat dan mimpi kerap muncul dengan intensitas tinggi.

Namun, pada saat yang sama, terjadi perubahan kimiawi yang membuat pengalaman tersebut tidak mudah tersimpan sebagai memori jangka panjang.

Penjelasan mengenai fenomena itu disampaikan melalui kanal edukasi Nalaria Explain dalam unggahan video di Jakarta, Indonesia, Minggu (19/7).

Dalam narasinya, Nalaria Explain menjelaskan bahwa kadar norepinefrin di otak mengalami penurunan drastis selama tidur REM.

Padahal, senyawa kimia tersebut memiliki peran dalam proses pembentukan ingatan baru yang dapat bertahan lama.

Kondisi itu membuat pengalaman dalam mimpi tidak selalu terekam dengan kuat ketika seseorang terbangun.

Tak heran, seseorang bisa mengingat potongan mimpi sesaat setelah membuka mata, lalu kehilangan hampir seluruh detailnya dalam waktu singkat.

Fenomena tersebut juga dikaitkan dengan fungsi pemulihan emosional selama tidur.

Pakar neurosains dari University of California, Berkeley, Prof. Matthew Walker, menyebut tidur REM sebagai salah satu mekanisme penting dalam pemrosesan pengalaman emosional.

Dalam riset kesehatan tidur yang dipaparkan di Berkeley pada 2017, Walker menjelaskan bahwa rendahnya kadar norepinefrin atau noradrenalin ketika bermimpi memberikan kondisi tertentu bagi otak untuk memproses kembali beban emosional tanpa tingkat respons kimiawi yang sama seperti ketika manusia terjaga.

Dengan kata lain, tidur REM tidak hanya berkaitan dengan munculnya mimpi.

Fase tersebut juga menjadi bagian dari proses otak dalam menangani pengalaman dan emosi yang diperoleh sepanjang hari.

Sementara itu, Prof. Antti Revonsuo memandang mimpi dari perspektif berbeda.

Menurut pandangan yang disampaikan dalam bahan referensi tersebut, mimpi dapat berfungsi sebagai semacam simulator bagi mekanisme bertahan hidup.

Otak seolah-olah menciptakan skenario yang menyerupai pengalaman nyata, termasuk situasi yang memerlukan respons cepat terhadap ancaman.

Namun, ketika seseorang terbangun, detail dari simulasi tersebut tidak selalu dipertahankan sebagai memori yang utuh.

Mekanisme tersebut dinilai dapat membantu membedakan pengalaman nyata dengan pengalaman yang hanya berlangsung dalam mimpi.

Jika seluruh detail mimpi tersimpan dengan tingkat ketajaman yang sama seperti kejadian nyata, batas antara memori faktual dan pengalaman saat tidur berpotensi menjadi lebih sulit dibedakan.

Itulah sebabnya mimpi yang beberapa saat sebelumnya terasa begitu nyata dapat berubah menjadi serpihan ingatan.

Ada bagian yang masih melekat, sementara alur, tokoh, tempat, bahkan emosi yang menyertainya perlahan menghilang.

Jadi, lupa mimpi setelah bangun bukan berarti otak gagal bekerja.

Sebaliknya, hilangnya sebagian besar ingatan mimpi dapat menjadi konsekuensi dari mekanisme biologis yang berlangsung selama tidur.

Editor : Lugas Rumpakaadi
tidur REM norepinefrin memori otak neurosains Mimpi