Sering Tuang Makanan Panas ke Plastik? Kebiasaan Ini Perlu Diwaspadai

Shinta Ayu Rahma Wardani • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 15:11 WIB
Mikroplastik dapat lepas dari sejumlah material yang bersentuhan dengan makanan dan minuman. (Pexels/Alfo Medeiros)
Mikroplastik dapat lepas dari sejumlah material yang bersentuhan dengan makanan dan minuman. (Pexels/Alfo Medeiros)

RADAR BANYUWANGI - Makanan berkuah yang masih mengepul langsung dimasukkan ke kantong plastik.

Teh celup dicelupkan ke dalam air mendidih.

Botol plastik dipakai berulang kali untuk membawa minuman.

Kebiasaan tersebut terlihat sederhana dan sudah lazim dilakukan sehari-hari.

Namun, penggunaan material plastik yang bersentuhan dengan makanan dan minuman, terutama dalam kondisi panas, menjadi salah satu hal yang terus diteliti terkait paparan mikroplastik dan nanoplastik.

Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran sangat kecil, umumnya kurang dari 5 milimeter.

Partikel tersebut telah ditemukan di berbagai lingkungan, termasuk air, makanan, udara, serta air minum.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut keberadaan mikroplastik di air minum menjadi perhatian, meski bukti mengenai dampaknya terhadap kesehatan manusia masih terus dikembangkan.

Karena itu, isu mikroplastik perlu ditempatkan secara proporsional.

Keberadaan partikel tersebut memang telah terdeteksi pada berbagai sumber paparan, tetapi dampak jangka panjang terhadap kesehatan manusia belum sepenuhnya dipahami.

Saat panas bersentuhan dengan plastik

Suhu menjadi salah satu faktor yang patut diperhatikan ketika material plastik digunakan untuk makanan dan minuman.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa karakteristik material, suhu, waktu kontak, serta kondisi lingkungan dapat memengaruhi pelepasan partikel plastik maupun bahan kimia tertentu dari material yang bersentuhan dengan makanan atau minuman.

Artinya, kebiasaan menuangkan makanan yang masih sangat panas ke wadah plastik bukan pilihan yang perlu dipertahankan jika tersedia alternatif lain.

Bukan berarti setiap makanan panas yang bersentuhan dengan plastik otomatis berbahaya.

Jenis plastik, peruntukan wadah, suhu makanan, dan lamanya kontak merupakan faktor yang ikut menentukan.

Karena itu, masyarakat sebaiknya mengikuti petunjuk penggunaan pada wadah plastik dan tidak sembarangan memanaskan wadah yang tidak dirancang untuk suhu tinggi.

Khusus penggunaan microwave, wadah yang digunakan sebaiknya memang memiliki keterangan aman untuk microwave.

Menggunakan wadah yang tidak sesuai peruntukannya dapat meningkatkan risiko perpindahan komponen dari material ke makanan.

Teh celup juga menjadi perhatian

Kantong teh menjadi contoh lain yang menarik perhatian peneliti.

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2024 menguji pelepasan mikroplastik dari kantong teh berbahan tertentu.

Penelitian tersebut menemukan adanya partikel berukuran mikro hingga submikro dalam seduhan teh.

Peneliti juga menemukan bahwa kantong teh berbahan woven melepaskan lebih sedikit mikroplastik dibandingkan dengan material nonwoven yang diuji.

Penelitian lain yang terbit pada 2025 kembali menguji berbagai jenis kantong teh dengan sejumlah metode analisis untuk melihat partikel yang dilepaskan pada kondisi penyeduhan yang berbeda.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa persoalan pelepasan partikel dari material kantong teh masih menjadi bidang penelitian yang berkembang.

Temuan tersebut tidak serta-merta berarti minum teh celup akan menyebabkan penyakit.

Namun, hasil penelitian memberi alasan bagi konsumen untuk memperhatikan material kantong teh yang digunakan.

Pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) juga menekankan pentingnya membaca temuan penelitian secara hati-hati.

Penelitian mengenai pelepasan mikroplastik dari kantong teh tidak berarti seluruh produk teh celup harus langsung dilarang digunakan.

Bagi konsumen yang ingin mengurangi kontak dengan material sintetis, teh daun lepas dengan saringan berbahan logam atau bahan yang sesuai untuk pangan dapat menjadi alternatif.

Apa risikonya bagi tubuh?

Pertanyaan terbesar bukan sekadar berapa banyak mikroplastik yang dapat ditemukan dalam makanan atau minuman, melainkan apa yang terjadi setelah partikel tersebut masuk ke tubuh.

Di sinilah penelitian ilmiah masih berkembang.

Sejumlah kajian eksperimental mengamati kemungkinan interaksi mikroplastik dengan jaringan biologis dan proses seperti peradangan serta stres oksidatif.

Mikroplastik juga dapat membawa atau berasosiasi dengan berbagai bahan kimia dari lingkungan maupun material plastik.

Namun, temuan laboratorium tidak dapat langsung disamakan dengan risiko penyakit pada manusia.

WHO sendiri menyoroti masih adanya kesenjangan pengetahuan dan kebutuhan terhadap penelitian lebih lanjut mengenai dampak mikroplastik terhadap kesehatan.

Karena itu, klaim bahwa mikroplastik secara pasti menyebabkan kerusakan organ atau gangguan hormon pada manusia perlu dihindari jika tidak disertai bukti klinis yang memadai.

Yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa paparan mikroplastik merupakan persoalan yang sedang diteliti dan berpotensi memiliki implikasi kesehatan, sehingga upaya mengurangi paparan yang tidak perlu merupakan langkah kehati-hatian.

Kebiasaan sederhana yang bisa diubah

Mengurangi paparan tidak harus dilakukan secara ekstrem.

Beberapa kebiasaan sederhana dapat diterapkan di rumah.

Pertama, gunakan wadah kaca, keramik, atau stainless steel yang sesuai untuk makanan ketika tersedia, terutama untuk makanan yang masih sangat panas.

Kedua, jangan memasukkan wadah plastik ke microwave jika wadah tersebut tidak secara jelas dirancang untuk pemanasan.

Ketiga, hindari meninggalkan makanan atau minuman panas dalam wadah plastik dalam waktu lama jika tersedia pilihan wadah lain yang sesuai.

Keempat, gunakan botol atau tumbler yang memang dirancang untuk penggunaan berulang dan sesuai dengan suhu minuman yang dibawa.

Kelima, bagi pencinta teh, pertimbangkan teh daun lepas dengan saringan yang dapat digunakan kembali jika ingin mengurangi penggunaan kantong teh berbahan polimer.

Kebiasaan tersebut bukan berarti seseorang dapat menghilangkan seluruh paparan mikroplastik.

Partikel plastik telah tersebar luas di lingkungan dan jalur paparannya tidak hanya berasal dari makanan atau wadah minuman.

Namun, mengurangi kontak yang tidak diperlukan, terutama pada kondisi yang dapat meningkatkan pelepasan partikel dari material, merupakan langkah masuk akal untuk membatasi paparan sehari-hari.

Persoalan mikroplastik bukan sekadar soal plastik atau bukan plastik.

Konsumen perlu melihat jenis material, fungsi wadah, suhu penggunaan, serta durasi kontak dengan makanan dan minuman.

Sambil penelitian mengenai dampak mikroplastik terhadap kesehatan terus berjalan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan memilih wadah yang sesuai untuk makanan panas merupakan perubahan kebiasaan yang relatif sederhana untuk dilakukan dari rumah.

Editor : Lugas Rumpakaadi
makanan panas teh celup kesehatan Wadah Plastik mikroplastik