RADAR BANYUWANGI - Bangkai tikus yang ditemukan di jalan, halaman rumah, atau lingkungan permukiman jangan langsung disentuh dengan tangan kosong.
Selain persoalan kebersihan, keberadaan tikus berkaitan dengan risiko leptospirosis, penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira.
Kementerian Kesehatan menjelaskan, tikus merupakan salah satu hewan penular utama leptospirosis.
Bakteri Leptospira dapat keluar bersama urin hewan yang terinfeksi dan mencemari air maupun tanah.
Manusia kemudian dapat terpapar ketika bersentuhan dengan lingkungan yang telah terkontaminasi.
Risiko tersebut perlu menjadi perhatian ketika warga menemukan bangkai tikus dan hendak membersihkan lokasi.
Kontak dengan sumber kontaminasi dapat terjadi melalui kulit yang mengalami luka atau lecet maupun melalui selaput lendir seperti mata, hidung, dan mulut.
Karena itu, bangkai tikus tidak seharusnya dipindahkan menggunakan tangan kosong.
Penggunaan alat bantu dan perlengkapan pelindung dapat mengurangi kemungkinan kontak dengan sumber yang berpotensi terkontaminasi.
Jangan Buang Bangkai Tikus ke Selokan
Praktisi Bisnis Lingkungan, Bangsap, mengingatkan masyarakat agar tidak membuang bangkai tikus ke saluran air.
"Buat yang nemu bangkai tikus jangan pernah buang ke selokan atau got. Karena bakterinya nyebar jauh lebih cepat lewat air," jelasnya dalam sebuah unggahan.
Imbauan tersebut menjadi penting karena air dan tanah yang tercemar urin hewan terinfeksi dapat menjadi media paparan bakteri Leptospira.
Risiko juga meningkat ketika masyarakat beraktivitas di lingkungan basah, berlumpur, atau bergenangan air.
Saat membersihkan lingkungan, masyarakat dianjurkan menggunakan sarung tangan dan alas kaki pelindung.
Kementerian Kesehatan juga merekomendasikan penggunaan pelindung seperti sepatu bot ketika membersihkan area yang berpotensi tercemar serta mencuci tangan dengan sabun setelah aktivitas.
Kenali Gejala Leptospirosis
Leptospirosis tidak selalu langsung dikenali karena gejala awalnya dapat menyerupai penyakit lain.
Kementerian Kesehatan menyebut sejumlah gejala yang perlu diperhatikan, antara lain demam, sakit kepala, mual, muntah, mata merah, serta nyeri otot, terutama pada bagian betis dan punggung bawah.
Pada kondisi tertentu, penyakit ini dapat berkembang menjadi lebih berat dan menyebabkan komplikasi pada organ tubuh.
Kemenkes pada Desember 2025 kembali mengingatkan bahwa leptospirosis dapat berakibat fatal apabila terlambat dikenali dan ditangani.
Masyarakat yang mengalami demam, nyeri otot, sakit kepala, mata merah, atau keluhan lain setelah memiliki riwayat kontak dengan air, lumpur, tanah, atau lingkungan yang berpotensi tercemar sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Riwayat paparan lingkungan penting untuk disampaikan kepada tenaga kesehatan karena dapat membantu proses penilaian dan diagnosis.
Kebersihan Lingkungan Jadi Kunci
Pencegahan leptospirosis tidak berhenti pada cara menangani bangkai tikus.
Kondisi lingkungan juga perlu diperhatikan untuk mengurangi peluang tikus berkembang biak dan mencari makanan di sekitar permukiman.
Sampah yang dapat menjadi sumber makanan tikus perlu dikelola dengan baik.
Genangan air juga sebaiknya tidak dibiarkan, terutama di sekitar rumah dan tempat yang sering digunakan untuk beraktivitas.
Kewaspadaan semakin penting setelah hujan lebat atau banjir.
Kementerian Kesehatan menyebut leptospirosis sebagai salah satu penyakit yang perlu diwaspadai setelah bencana banjir karena masyarakat dapat terpapar air, lumpur, atau tanah yang telah terkontaminasi urin hewan pembawa bakteri.
Dengan demikian, menemukan bangkai tikus bukan sekadar persoalan kebersihan.
Masyarakat perlu menangani sumber tersebut secara hati-hati, menghindari kontak langsung, menggunakan perlindungan yang memadai, serta menjaga lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembangnya tikus.
Kewaspadaan sejak awal menjadi penting karena leptospirosis dapat ditangani lebih baik apabila dikenali dan diperiksa sedini mungkin.
Jangan menunggu kondisi memburuk jika muncul gejala setelah terpapar lingkungan yang berisiko.
Editor : Lugas Rumpakaadi