Kimpul Mendadak Viral Gara-Gara Ibu Tin, Umbi Lokal Ini Ternyata Punya Kandungan Serat dan Kalium

Nabella Anastasya Pratiwi • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 13:33 WIB
Kimpul mendadak viral. (Gemini AI)
Kimpul mendadak viral. (Gemini AI)

RADAR BANYUWANGI - Kimpul mendadak naik daun di media sosial.

Umbi yang selama ini lebih dikenal sebagai salah satu pangan lokal Indonesia tersebut kini ramai dibicarakan warganet setelah kreator konten asal Bantul, Ibu Tin, menjadikannya bahan utama dalam berbagai kreasi makanan.

Kata “kimpul” bahkan ikut digunakan dalam percakapan warganet.

Sebagian pengguna media sosial sempat mengira kimpul merupakan istilah atau kosakata baru.

Padahal, kimpul merupakan nama salah satu jenis umbi dari kelompok talas-talasan.

Popularitas kimpul tidak lepas dari konten kuliner Ibu Tin.

Ia secara konsisten membuat berbagai makanan dengan mengganti bahan yang lazim digunakan dengan kimpul.

Salah satu konsep yang menarik perhatian adalah ketika Ibu Tin membuat makanan yang umumnya menggunakan bahan tertentu, tetapi kemudian menggantinya dengan kimpul.

Sushi, misalnya, dibuat dengan kimpul sebagai pengganti nasi.

Begitu pula seblak yang bahan kerupuknya dimodifikasi menggunakan kimpul.

Konsistensi tersebut menjadi ciri khas konten Ibu Tin.

Kalimat yang kerap digunakannya dalam video juga ikut menjadi bahan candaan di media sosial.

Kontennya kemudian semakin dikenal hingga warganet menjulukinya sebagai “Duta Ketahanan Pangan”.

Namun, konten Ibu Tin tidak sebatas mengikuti tren kuliner.

Ia juga menyelipkan edukasi mengenai pangan lokal dan memperkenalkan kimpul kepada generasi muda.

Menurut Ibu Tin, pengenalan pangan lokal menjadi salah satu alasan dirinya membuat konten berbahan kimpul.

Ia berharap generasi muda mengenal kembali pangan tradisional Indonesia sehingga keberadaannya tidak hilang seiring perubahan zaman.

Bahan Makanan yang Viral

Kimpul merupakan tanaman umbi dari kelompok talas-talasan dengan nama ilmiah Xanthosoma sagittifolium.

Umbi ini dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber karbohidrat alternatif selain nasi.

Nama kimpul juga tidak seragam di seluruh Indonesia.

Di sejumlah daerah, pangan tersebut dikenal dengan nama bothe, bentul, talas Belitung, atau genjlong.

Keragaman penyebutan tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa kimpul telah lama dikenal sebagai bagian dari pangan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.

Viralnya kimpul di media sosial kemudian membuka kembali pembicaraan mengenai diversifikasi pangan.

Masyarakat tidak hanya bergantung pada satu sumber karbohidrat, tetapi juga dapat memanfaatkan beragam pangan sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.

Di sisi lain, perhatian terhadap kimpul juga membuat masyarakat mulai mencari tahu mengenai kandungan gizinya.

Kandungan Serat dan Kalium

Salah seorang Dietisien RSIJ Cempaka Putih, Siti Hadianti S.Gz, RD, menjelaskan bahwa kimpul memiliki kandungan karbohidrat yang dapat membantu memberikan rasa kenyang.

Selain itu, kimpul juga mengandung serat pangan dan kalium.

Dari sisi kandungan karbohidrat, nasi memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan kimpul.

Namun, kimpul memiliki kandungan serat pangan dan kalium yang lebih tinggi.

Serat pangan merupakan salah satu komponen penting dalam pola makan karena berkaitan dengan kesehatan saluran cerna.

Sementara kalium memiliki peran dalam fungsi otot dan membantu menjaga keseimbangan tekanan darah.

“Kalium pada kimpul lebih tinggi, sehingga membantu menstabilkan tekanan darah dan fungsi otot,” ujar Siti.

Meski demikian, kandungan gizi tersebut tidak berarti kimpul dapat dikonsumsi tanpa batas.

Kebutuhan pangan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan kebutuhan gizi setiap orang.

Tidak Semua Orang Boleh Mengonsumsinya Secara Berlebihan

Kelompok masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu perlu lebih berhati-hati dalam mengonsumsi kimpul.

Penderita batu ginjal, gagal ginjal kronis, dan pengidap asam urat termasuk kelompok yang perlu memperhatikan asupan makanannya.

Karena itu, konsumsi kimpul sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan.

Bagi seseorang yang memiliki kondisi medis tertentu, pilihan pangan dan jumlah konsumsinya idealnya disesuaikan dengan anjuran tenaga kesehatan.

Masyarakat juga tidak perlu menjadikan kimpul sebagai satu-satunya sumber karbohidrat.

Pilihan lain seperti nasi, jagung, dan kentang tetap dapat dikonsumsi sesuai kebutuhan gizi masing-masing.

Dari Tren Media Sosial

Fenomena kimpul menunjukkan bagaimana media sosial dapat mengubah pangan yang sebelumnya kurang mendapat perhatian menjadi bahan perbincangan publik.

Apa yang dilakukan Ibu Tin melalui konten kuliner membuat kimpul menjadi pintu masuk untuk mengenalkan kembali pangan lokal kepada generasi muda.

Di tengah tren kuliner yang cepat berganti, popularitas kimpul menjadi momentum untuk mengingat bahwa Indonesia memiliki beragam sumber pangan yang telah lama tumbuh dan dikonsumsi masyarakat.

Tren tersebut kemudian mendorong lebih banyak orang untuk mengenal, mengolah, dan mengonsumsi pangan lokal secara tepat.

Popularitas kimpul tidak berhenti sebagai fenomena media sosial.

Namun, dapat menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali keragaman pangan Indonesia kepada generasi berikutnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
kimpul Ibu Tin kimpul viral pangan lokal Indonesia manfaat kimpul