RADAR BANYUWANGI – Sekolah tidak hanya dituntut mencetak siswa berprestasi secara akademik. Di tengah tantangan keberagaman dan perubahan sosial, lingkungan pendidikan juga didorong menjadi ruang tumbuhnya karakter, toleransi, serta budaya keagamaan yang kuat.
Semangat itulah yang mendorong Seksi Pendidikan Agama Islam (PAIS) Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Banyuwangi memperkuat sinergi dengan Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi dan Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Jatim Wilayah Banyuwangi.
Kolaborasi tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang digelar Jumat (7/8). Rakor menjadi bagian dari upaya menyatukan langkah lintas sektor dalam memperkuat budaya keagamaan, moderasi beragama, sekaligus karakter peserta didik di satuan pendidikan.
Sejumlah agenda strategis dibahas dalam pertemuan tersebut. Salah satunya persiapan pelaksanaan dan keikutsertaan satuan pendidikan dalam berbagai event penghargaan sekaligus gerakan penguatan budaya keagamaan.
Program yang menjadi perhatian meliputi Sekolah Moderasi Beragama, Sekolah Berbudaya Keagamaan atau School Religious Culture, PAIS Berkarakter, hingga Gerakan Panca PAI Merdeka dalam menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia.
Bukan Sekadar Mengejar Penghargaan
Rakor tersebut juga menjadi momentum untuk menyatukan langkah Kemenag, Dispendik, Cabdindik, pengawas, hingga satuan pendidikan. Sinergi tersebut diharapkan membuat program moderasi beragama dan pembiasaan nilai-nilai keagamaan tidak berjalan secara parsial.
Sebaliknya, program tersebut diharapkan tumbuh sebagai gerakan bersama yang diterapkan di berbagai jenjang pendidikan di Banyuwangi.
Kepala Kemenag Banyuwangi melalui Plh Kasi PAIS Mustain Hakim mengatakan, kolaborasi antarlembaga harus diwujudkan dalam program yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh satuan pendidikan.
Sekolah yang ditunjuk sebagai nominator, menurut dia, tidak boleh hanya berorientasi pada penghargaan. Satuan pendidikan tersebut harus mampu menjadi contoh dan rujukan bagi sekolah lain.
“Kami berharap sinergi dalam tiga kegiatan ini dapat terwujud dengan baik. Sekolah-sekolah yang ditunjuk sebagai nominator pada semua jenjang di Banyuwangi nantinya bukan sekadar mengikuti event penghargaan, tetapi benar-benar mampu menjadi role model dan rujukan bagi sekolah-sekolah lainnya,” harapnya.
Mustain menegaskan, penghargaan bukanlah tujuan akhir. Esensi dari program tersebut justru terletak pada bagaimana sekolah membangun ekosistem pendidikan yang menjadikan nilai agama, moderasi, akhlak, toleransi, dan kepedulian sosial sebagai kebiasaan sehari-hari.
“Yang kita bangun bukan hanya prestasi sesaat, tetapi budaya yang tumbuh, hidup, dan menjadi karakter sekolah,” lanjutnya.
Dispendik dan Cabdindik Siap Berkolaborasi
Dukungan terhadap penguatan budaya keagamaan di satuan pendidikan juga datang dari Dispendik Banyuwangi.
Kasi Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan SD (PMPTK SD) Erfandi menyatakan kesiapan pihaknya untuk berkolaborasi dengan Kemenag dan seluruh pihak terkait dalam menyukseskan program tersebut.
Dukungan serupa disampaikan Imron selaku perwakilan Cabdindik Jatim Wilayah Banyuwangi. Dia menyambut baik program penguatan moderasi beragama dan budaya keagamaan di lingkungan sekolah.
Menurutnya, sinergi yang telah terbangun antarlembaga perlu terus dijaga dan dikembangkan agar program tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
Dengan kolaborasi tersebut, satuan pendidikan diharapkan tidak hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter peserta didik yang berakhlak, toleran, moderat, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial. (ray/sgt)
Editor : Ali Sodiqin