Dulu Dianggap Suram, Kini Diburu Kamera, Mengapa Arsitektur Brutalisme Kembali Digemari?

Loanda Ajeng Rossiani • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 15:13 WIB
Arsitektur Brutalisme yang dulu dianggap kaku dan suram kini kembali populer. (Wikimedia Commons)
Arsitektur Brutalisme yang dulu dianggap kaku dan suram kini kembali populer. (Wikimedia Commons)

RADAR BANYUWANGI - Bangunan beton yang dulu dianggap dingin, kaku, bahkan suram kini justru mendapat tempat di layar ponsel generasi muda.

Permukaan beton yang dibiarkan apa adanya, bentuk geometris yang tegas, serta bayangan dramatis menjadi daya tarik baru di tengah maraknya konten visual di media sosial.

Fenomena itu terlihat dari semakin seringnya bangunan bergaya Brutalisme muncul dalam konten fotografi urban, desain, hingga gaya hidup.

Instagram, TikTok, dan Pinterest menjadi ruang baru yang memperkenalkan kembali estetika arsitektur tersebut kepada audiens yang lebih muda.

Ada ironi di balik kebangkitan itu.

Brutalisme bukan gaya arsitektur yang sejak awal dirancang untuk terlihat indah atau populer di media sosial.

Gaya tersebut berkembang pada pertengahan abad ke-20, terutama setelah Perang Dunia II.

Karakternya menonjolkan material bangunan secara terbuka, terutama beton, tanpa banyak lapisan penutup maupun ornamen dekoratif.

Bentuknya pun cenderung monumental.

Dinding beton masif, garis tegas, susunan geometris, dan struktur bangunan yang tampak apa adanya menjadi ciri yang mudah dikenali.

Pada masanya, karakter tersebut tidak selalu mendapat sambutan positif.

Sebagian bangunan Brutalis bahkan kemudian terbengkalai atau menghadapi ancaman pembongkaran karena dianggap tidak sesuai dengan selera arsitektur yang berkembang.

Kini, pandangan itu mulai bergeser.

Ketika Beton Kasar Justru Terlihat Menarik

Salah satu alasan Brutalisme kembali mendapat perhatian adalah perubahan cara masyarakat menikmati visual.

Di tengah desain modern yang semakin halus, minimalis, dan seragam, bangunan Brutalis menawarkan sesuatu yang berbeda.

Tekstur beton yang kasar, sudut bangunan yang tajam, serta bentuk yang berukuran besar menciptakan karakter visual yang sulit disamakan dengan bangunan lain.

Bagi fotografer urban, karakter tersebut merupakan bahan komposisi yang menarik.

Cahaya matahari yang jatuh di permukaan beton dapat menghasilkan bayangan kuat.

Sudut bangunan bisa membentuk pola geometris.

Sementara skala bangunan yang monumental memberikan kesan dramatis ketika dipotret dari jarak tertentu.

Dengan kata lain, sesuatu yang dahulu dianggap sebagai kelemahan justru berubah menjadi kekuatan visual.

Beton tidak lagi harus disembunyikan.

Permukaannya justru menjadi bagian utama dari cerita sebuah bangunan.

Mengapa Brutalisme Kembali Populer Sekarang?

Kebangkitan Brutalisme tidak dapat dilepaskan dari perubahan selera visual di internet.

Media sosial membuat gambar dengan karakter kuat lebih mudah dikenali.

Bangunan yang memiliki bentuk tidak biasa dapat menciptakan foto yang berbeda dari arus konten dengan tampilan serba rapi dan minimalis.

Di sisi lain, generasi yang tumbuh bersama media sosial juga semakin terbiasa mencari lokasi dan objek yang memiliki identitas visual kuat.

Dalam konteks tersebut, bangunan Brutalis memiliki keunggulan alami.

Bentuknya khas, materialnya mudah dikenali, dan permainan cahaya pada permukaannya dapat menghasilkan foto dengan karakter yang kuat.

Kejenuhan terhadap desain yang terlalu seragam turut membuka ruang bagi estetika yang lebih kasar dan ekspresif.

Brutalisme menawarkan kejujuran material.

Beton ditampilkan sebagai beton.

Struktur bangunan tidak selalu disembunyikan.

Ornamen tidak menjadi prioritas utama.

Karakter tersebut kemudian diterjemahkan ulang oleh generasi digital bukan sebagai sesuatu yang suram, melainkan sebagai sesuatu yang autentik.

Barbican hingga Habitat 67

Sejumlah bangunan ikonik menunjukkan bagaimana gaya Brutalisme dapat menghasilkan bentuk arsitektur yang tetap menarik hingga puluhan tahun setelah dibangun.

Barbican Estate di London menjadi salah satu contoh paling dikenal.

Kompleks tersebut memperlihatkan dominasi beton dan komposisi bangunan yang monumental dalam sebuah lingkungan hunian perkotaan.

Di Kanada, Habitat 67 menawarkan pendekatan berbeda melalui susunan unit berbentuk kubus yang bertumpuk.

Komposisinya menciptakan tampilan geometris yang kuat sekaligus memperlihatkan bagaimana elemen beton dapat digunakan untuk membentuk ruang hunian yang tidak biasa.

Sementara itu, Geisel Library di California memperlihatkan sisi futuristik Brutalisme.

Bentuknya yang unik membuat bangunan tersebut mudah dikenali sekaligus menunjukkan bahwa arsitektur berbasis beton tidak selalu identik dengan bentuk yang monoton.

Dari Bangunan yang Dihindari Menjadi Latar Foto

Perubahan persepsi terhadap Brutalisme menunjukkan bagaimana teknologi dapat memengaruhi cara masyarakat melihat warisan arsitektur.

Bangunan yang sebelumnya dinilai terlalu keras atau tidak menarik kini dapat ditemukan kembali melalui foto dan video pendek.

Satu unggahan dapat memperkenalkan sebuah bangunan kepada jutaan pengguna yang sebelumnya bahkan tidak mengetahui keberadaannya.

Media sosial pada akhirnya bukan hanya menjadi tempat berbagi foto.

Platform tersebut juga berperan sebagai ruang kurasi visual.

Objek yang memiliki bentuk unik, cerita sejarah, atau karakter estetika tertentu dapat memperoleh perhatian baru.

Dalam kasus Brutalisme, internet membantu memisahkan bangunan-bangunan tersebut dari stigma lama yang melekat padanya.

Generasi baru tidak selalu melihat beton sebagai simbol kekakuan.

Mereka dapat melihatnya sebagai tekstur, pola, bentuk, dan latar visual.

Bukan Sekadar Tren Estetika

Kembalinya Brutalisme ke dalam percakapan visual juga membawa persoalan yang lebih besar.

Ketika bangunan lama kembali populer, masyarakat memiliki kesempatan untuk melihat kembali nilai sejarah dan arsitekturnya.

Popularitas di media sosial memang dapat membuat sebuah bangunan lebih dikenal.

Namun, nilai sebuah karya arsitektur tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak foto bangunan tersebut beredar.

Di balik bentuk beton yang terlihat keras terdapat sejarah perkembangan kota, perubahan kebutuhan masyarakat, serta gagasan arsitektur pada zamannya.

Karena itu, kebangkitan Brutalisme dapat dilihat sebagai lebih dari sekadar tren fotografi.

Ia menunjukkan bahwa selera masyarakat dapat berubah.

Bangunan yang pernah dianggap terlalu kelam dapat memperoleh makna baru ketika dilihat melalui perspektif generasi berbeda.

Di tengah dunia yang semakin dipenuhi desain seragam dan visual yang dibuat untuk terlihat sempurna, Brutalisme justru menawarkan ketidaksempurnaan yang menjadi identitasnya.

Beton dibiarkan terlihat.

Struktur tidak selalu disamarkan.

Bentuk dibuat berani.

Dan kini, karakter yang dahulu dianggap sebagai kelemahan tersebut justru menjadi alasan mengapa bangunan Brutalis kembali diburu kamera.

Editor : Lugas Rumpakaadi
arsitektur Brutalisme Brutalisme bangunan beton tren arsitektur fotografi urban