Mass Timber Bawa Kayu Naik Kelas, Bisa Jadi Struktur Gedung Bertingkat

Daafi Adilla Achmad • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 13:18 WIB
Mass timber mengubah kayu menjadi material struktural untuk bangunan bertingkat. (Pexels/Ashar Mirza)
Mass timber mengubah kayu menjadi material struktural untuk bangunan bertingkat. (Pexels/Ashar Mirza)

RADAR BANYUWANGI - Kayu selama ini lebih lekat dengan rumah tinggal, bangunan sederhana, atau elemen dekoratif.

Namun, perkembangan teknologi konstruksi membuat material tersebut memiliki peran yang jauh lebih besar.

Melalui teknologi mass timber, kayu kini dapat direkayasa menjadi komponen struktural untuk bangunan bertingkat.

Mass timber merupakan sistem konstruksi yang memanfaatkan elemen kayu berukuran besar dan diproduksi melalui proses industri.

Produk yang umum digunakan di antaranya Cross-Laminated Timber (CLT), Glue-Laminated Timber (glulam), nail-laminated timber, serta structural composite lumber.

Konsep tersebut pada dasarnya mengubah kayu menjadi material struktural modern.

Kayu tidak lagi sekadar menjadi bahan pelapis atau penyelesaian akhir bangunan, tetapi dapat mengambil peran sebagai bagian utama sistem struktur.

CLT, misalnya, dibuat dari beberapa lapisan papan kayu yang disusun saling menyilang dan direkatkan menjadi panel berukuran besar.

Material ini dapat dimanfaatkan untuk lantai, dinding, maupun atap.

Sementara glulam dibuat dengan merekatkan sejumlah lapisan kayu hingga membentuk elemen struktural yang dapat digunakan sebagai balok dan kolom.

Proses laminasi memungkinkan elemen tersebut dibuat dalam ukuran serta bentuk yang disesuaikan dengan kebutuhan struktur.

Dalam satu bangunan, CLT dan glulam dapat digunakan secara bersamaan.

Panel CLT membentuk bidang lantai dan dinding, sedangkan glulam berfungsi sebagai rangka kolom dan balok.

Keduanya kemudian bekerja sebagai satu sistem untuk menyalurkan beban sekaligus menjaga kestabilan bangunan.

Salah satu karakteristik yang membuat mass timber menarik adalah proses prefabrikasi.

Komponen bangunan dapat diproduksi terlebih dahulu di fasilitas manufaktur berdasarkan ukuran, bentuk, serta bukaan yang telah direncanakan.

Proses tersebut dapat menggunakan teknologi berbasis komputer sehingga komponen yang tiba di lokasi proyek sudah memiliki spesifikasi sesuai rancangan.

Di lapangan, pekerjaan kemudian lebih banyak berupa proses perakitan.

Pendekatan semacam itu berpotensi mempercepat pekerjaan konstruksi sekaligus mengurangi aktivitas pemotongan dan pengolahan material di lokasi.

Namun, efisiensi tersebut sangat bergantung pada ketepatan desain, manufaktur, pengiriman, hingga proses pemasangan.

Tidak Harus Kayu Sepenuhnya

Penggunaan mass timber juga tidak berarti seluruh bagian bangunan harus dibuat dari kayu.

Dalam praktiknya, material tersebut dapat dipadukan dengan beton dan baja untuk membentuk struktur hibrida.

Lantai dan kolom, misalnya, dapat menggunakan mass timber, sedangkan inti bangunan atau bagian tertentu memakai beton dan baja.

Kombinasi tersebut memungkinkan perencana menyesuaikan sistem struktur dengan kebutuhan beban, stabilitas, keselamatan, dan kondisi bangunan.

Konsep struktur hibrida juga telah menjadi bagian dari berbagai penelitian desain bangunan tinggi.

Glulam, CLT, baja, dan beton dapat ditempatkan dalam satu sistem dengan fungsi yang berbeda sesuai kebutuhan.

Meski demikian, semakin tinggi bangunan, semakin kompleks pula persoalan yang harus diperhitungkan.

Beban gravitasi, angin, gempa, getaran, kebakaran, akustik, kelembapan, sambungan, hingga sistem utilitas harus dirancang sejak tahap awal.

Karena itu, mass timber tidak dapat dipandang sebagai solusi sederhana dengan cara mengganti beton atau baja menggunakan kayu.

Sistem ini membutuhkan perencanaan struktur dan detail konstruksi yang matang.

Soal Kebakaran Jadi Perhatian

Salah satu pertanyaan yang kerap muncul terkait bangunan berbasis kayu adalah ketahanannya terhadap kebakaran.

Mass timber memiliki karakteristik yang berbeda dengan kayu tipis atau elemen kayu konvensional.

Elemen kayu berukuran besar dapat membentuk lapisan arang pada permukaannya ketika terbakar.

Lapisan tersebut dapat memperlambat penetrasi panas menuju bagian dalam material.

Namun, karakteristik tersebut bukan berarti bangunan mass timber otomatis aman dari kebakaran.

Ketahanan terhadap api tetap harus dihitung berdasarkan elemen struktur, sambungan, pelindung, konfigurasi bangunan, serta sistem keselamatan secara keseluruhan.

Perkembangan standar konstruksi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa penggunaan mass timber pada bangunan bertingkat semakin mendapatkan ruang.

International Building Code (IBC) edisi 2021 dan 2024, misalnya, memperkenalkan klasifikasi konstruksi Type IV-A, IV-B, dan IV-C dengan sejumlah persyaratan terkait ketahanan api dan perlindungan material.

Dalam kondisi yang memenuhi ketentuan kode, konstruksi Type IV-A dapat digunakan hingga 18 lantai.

Ketentuan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa material kayu rekayasa mulai dipertimbangkan untuk aplikasi bangunan yang sebelumnya identik dengan beton dan baja.

Sejumlah proyek juga telah menunjukkan penerapan mass timber pada bangunan bertingkat.

WoodWorks mencatat proyek dengan lebih dari tujuh lantai yang menggunakan konstruksi tersebut.

Salah satunya Ascent di Milwaukee, Amerika Serikat, yang memiliki 19 lantai struktur mass timber di atas enam lantai struktur beton.

Ada pula 1510 Webster di Oakland dengan total 19 lantai, termasuk 16 lantai yang menggunakan mass timber.

Namun, keberadaan proyek-proyek tersebut tidak berarti semua gedung tinggi dapat dibangun menggunakan kayu secara penuh.

Kondisi tapak, fungsi bangunan, beban, iklim, regulasi, sistem keselamatan, serta kemampuan teknologi lokal tetap menjadi faktor penentu.

Potensi Tekan Jejak Karbon

Mass timber juga mendapat perhatian karena potensinya dalam mengurangi dampak lingkungan sektor konstruksi.

Kayu berasal dari sumber biologis yang dapat diperbarui apabila diperoleh dari hutan yang dikelola secara legal dan berkelanjutan.

Selama masa pertumbuhan, pohon menyerap karbon. Sebagian karbon tersebut kemudian tersimpan di dalam produk kayu selama material digunakan.

Kondisi itu membuat kayu berpotensi menjadi salah satu komponen strategi pengurangan embodied carbon pada bangunan.

Meski demikian, manfaat lingkungan tidak dapat dinilai hanya dari material kayunya.

Sumber bahan baku, proses manufaktur, kebutuhan energi, transportasi, umur bangunan, pemeliharaan, serta bagaimana material diperlakukan pada akhir masa pakainya turut menentukan dampak lingkungan secara keseluruhan.

Dengan kata lain, penggunaan kayu tidak otomatis membuat sebuah bangunan menjadi rendah karbon.

Penilaiannya harus dilakukan terhadap keseluruhan siklus hidup bangunan.

Tantangan Kelembapan hingga Akustik

Di balik sejumlah keunggulan tersebut, mass timber tetap memiliki tantangan teknis.

Salah satu yang paling penting adalah pengendalian kelembapan.

Kayu dapat mengalami perubahan dimensi atau kerusakan apabila terus-menerus terpapar air.

Karena itu, perlindungan material harus diperhatikan sejak penyimpanan, pengangkutan, pemasangan, hingga bangunan digunakan.

Pengelolaan air selama proses konstruksi menjadi penting karena material yang sudah diproduksi dengan presisi harus tetap terlindungi sebelum terpasang dan mendapatkan perlindungan permanen.

Persoalan lain berkaitan dengan akustik dan getaran.

Panel kayu yang relatif ringan memiliki karakteristik transmisi suara dan respons terhadap getaran yang berbeda dibandingkan struktur beton.

Desain lantai, sambungan, lapisan tambahan, serta sistem pemisah ruang karena itu perlu dirancang secara khusus agar bangunan tetap memenuhi kebutuhan kenyamanan penggunanya.

Peluang untuk Indonesia

Indonesia memiliki sumber daya kayu yang beragam.

Kondisi tersebut membuka peluang pengembangan teknologi konstruksi berbasis kayu, termasuk mass timber.

Namun, keberlimpahan jenis kayu tidak berarti seluruhnya dapat langsung digunakan sebagai material struktural.

Setiap jenis memiliki karakteristik yang berbeda, mulai dari kekuatan, densitas, komposisi kimia, hingga keawetan alami.

Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terhadap 20 jenis kayu Indonesia menunjukkan bahwa komposisi kimia dan keawetan alami merupakan karakteristik penting yang berkaitan dengan pemanfaatan kayu.

Karena itu, pengembangan mass timber di Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar ketersediaan bahan baku.

Diperlukan penelitian mengenai karakteristik kayu lokal, standardisasi produk, teknologi pengolahan, sistem sambungan, perlindungan terhadap api dan kelembapan, serta regulasi bangunan.

Jika seluruh aspek tersebut dapat dikembangkan secara terpadu, kayu berpeluang memiliki posisi baru dalam industri konstruksi Indonesia.

Bukan hanya sebagai material rumah tinggal atau elemen interior, tetapi sebagai material struktural yang diproduksi secara presisi untuk kebutuhan bangunan modern.

Mass timber pada akhirnya bukan sekadar upaya membangun gedung tinggi dari kayu.

Teknologi tersebut menunjukkan bagaimana material tradisional dapat direkayasa ulang melalui ilmu material, manufaktur digital, dan rekayasa struktur untuk menjawab kebutuhan konstruksi masa kini.

Editor : Lugas Rumpakaadi
mass timber konstruksi kayu CLT dan glulam bangunan bertingkat teknologi konstruksi Indonesia