RADAR BANYUWANGI – Transformasi digital di dunia pendidikan Banyuwangi mulai diarahkan lebih jauh. Bukan hanya memindahkan proses belajar mengajar ke perangkat digital, Perkumpulan Gema Pendidikan Nasional (Perpenas) Banyuwangi mendorong pemanfaatan teknologi dan data sejak penerimaan murid baru hingga evaluasi kinerja guru.
Langkah tersebut dibahas dalam rapat kerja Perpenas yang digelar di SMK 17 Agustus 1945 Genteng, Sabtu (9/8/2026).
Ketua Perpenas Banyuwangi Yunita Illiana mengatakan digitalisasi harus menjadi bagian dari ekosistem pendidikan secara menyeluruh. Teknologi tidak cukup digunakan untuk kepentingan administrasi, tetapi harus menghasilkan data yang dapat membantu sekolah mengambil keputusan dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Pendekatan digital di Perpenas dari hulu hingga hilir saat SPMB hingga kegiatan belajar mengajar. Strategi digital marketing dan data survei memastikan sekolah menjangkau calon murid dengan profil dan motivasi yang tepat, bukan sekadar mengejar kuantitas pendaftar,” ujar Yunita.
SPMB Tak Sekadar Mengejar Jumlah Pendaftar
Salah satu titik awal transformasi tersebut berada pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Sekolah didorong memanfaatkan digital marketing untuk menjangkau calon murid secara lebih tepat sasaran. Data survei juga akan digunakan untuk mengetahui profil serta motivasi calon peserta didik.
Pendekatan ini diharapkan mengubah cara sekolah melihat proses penerimaan murid.
Jumlah pendaftar memang penting, tetapi bukan satu-satunya indikator keberhasilan.
Dengan memahami profil calon murid sejak awal, sekolah dapat menyesuaikan pendekatan informasi dan memastikan calon peserta didik memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai program pendidikan yang ditawarkan.
Bagi pendidikan vokasi, langkah tersebut menjadi semakin penting karena pilihan sekolah seharusnya juga mempertimbangkan minat, kompetensi, serta rencana karier siswa.
Teknologi Masuk Ruang Kelas
Transformasi digital Perpenas tidak berhenti setelah calon murid diterima.
Teknologi juga diarahkan masuk ke tahap pembelajaran dan evaluasi.
Guru akan dievaluasi secara berkala untuk memastikan proses belajar mengajar berlangsung secara terukur dan akuntabel.
Evaluasi tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi kegiatan administratif, tetapi menghasilkan gambaran mengenai kualitas proses pembelajaran di ruang kelas.
Menurut Yunita, pemanfaatan teknologi harus memiliki tujuan yang lebih besar, yakni meningkatkan mutu pembelajaran dan hasil pendidikan.
Artinya, data yang dikumpulkan sekolah harus dapat digunakan untuk membaca persoalan, mengukur perkembangan, serta menentukan langkah perbaikan.
Pendekatan tersebut juga membuka peluang bagi sekolah untuk membangun budaya evaluasi yang lebih objektif.
SMK Didorong Lebih Dekat dengan Dunia Industri
Selain transformasi digital, Perpenas juga menempatkan pendidikan vokasi sebagai salah satu fokus penguatan.
Sekolah menengah kejuruan (SMK) didorong memperluas kolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri (Dudi/Iduka).
Kerja sama tersebut dinilai penting agar kompetensi yang diberikan kepada siswa tidak berhenti pada teori, tetapi sesuai dengan kebutuhan nyata dunia kerja.
“Kolaborasi eksternal di jenjang SMK berhubungan langsung dengan Dudi/Iduka untuk mempersiapkan lulusan siap kerja,” jelas Yunita.
Kolaborasi dengan industri dapat menjadi jembatan antara kompetensi yang diajarkan di sekolah dan kebutuhan perusahaan.
Dengan begitu, lulusan SMK diharapkan memiliki kemampuan yang lebih relevan ketika memasuki dunia kerja.
Digitalisasi Harus Berujung pada Mutu
Transformasi pendidikan yang didorong Perpenas pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai penggunaan teknologi.
Ada tiga mata rantai yang ingin diperkuat: penerimaan murid berbasis data, pembelajaran yang terukur, dan lulusan yang lebih sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Digital marketing dan survei digunakan untuk memahami calon murid. Evaluasi guru digunakan untuk menjaga kualitas pembelajaran. Sementara kolaborasi dengan industri diarahkan untuk memastikan kompetensi lulusan tetap relevan.
Rangkaian tersebut membuat digitalisasi pendidikan tidak berhenti sebagai tren penggunaan perangkat teknologi.
Teknologi justru ditempatkan sebagai alat untuk membuat keputusan pendidikan lebih berbasis data, pembelajaran lebih terukur, dan pendidikan vokasi lebih dekat dengan kebutuhan industri.
Bagi Perpenas Banyuwangi, transformasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pendidikan yang tidak hanya adaptif terhadap perkembangan zaman, tetapi juga mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi dan kesiapan menghadapi dunia kerja. (*)
Editor : Ali Sodiqin