RADAR BANYUWANGI – Matahari belum terlalu tinggi ketika perempuan-perempuan lanjut usia mulai berdatangan ke sebuah rumah di Desa Tegalsari, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi. Ada yang mengayuh sepeda, berjalan kaki, hingga mengendarai sepeda listrik.
Mereka datang bukan sekadar untuk mengisi pagi.
Dengan busana biru tua yang menjadi ciri khas, para lansia itu berkumpul untuk membaca Alquran, belajar tajwid, menghafal ayat demi ayat, hingga saling menguatkan dalam sebuah majelis yang telah berjalan hampir lima tahun.
Di Rumah Tahfidz Lansia Assayidah, usia bukan alasan untuk berhenti belajar.
Justru ketika sebagian orang mulai mengurangi aktivitas, para perempuan lansia tersebut memilih tetap datang dan menambah bekal keagamaan. Setiap Sabtu, sekitar pukul 08.00 hingga 12.30 WIB, mereka mengikuti kegiatan mengaji yang secara khusus dirancang untuk jamaah berusia lanjut.
Salah seorang jamaah, Nafiah Huda, 78, menjadi saksi perjalanan majelis tersebut sejak awal berdiri pada 2022.
Nenek lima cucu itu mengaku pertama kali diajak oleh pemilik rumah, almarhumah Hj. Sayyidah. Saat itu, Nafiah kemudian mengajak empat orang lainnya untuk bersama-sama membangun kegiatan belajar Alquran bagi para lansia.
"Saya diajak Hj. Sayyidah awalnya, kemudian saya mengajak empat orang lagi, semuanya lansia," kata Nafiah.
Dari kelompok kecil tersebut, kemampuan membaca Alquran setiap peserta ternyata berbeda.
Nafiah sudah cukup lancar membaca Alquran. Namun, beberapa rekannya bahkan belum mengenal bacaan Alquran ketika pertama kali bergabung.
Kondisi itu tidak membuat mereka minder.
Sebaliknya, para lansia tersebut justru semakin bersemangat untuk belajar.
"Kalau lansia ngajinya ya pelan-pelan. Yang penting bisa rutin," imbuhnya.
Dari Belajar Membaca hingga Menghafal
Majelis di Rumah Tahfidz Assayidah perlahan berkembang. Belajar tidak berhenti pada kemampuan membaca Alquran.
Para jamaah juga mulai diperkenalkan dengan hafalan. Targetnya sederhana, satu hingga dua ayat dalam setiap pertemuan.
Bagi peserta yang sudah berusia lanjut, pencapaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri.
Nafiah, misalnya, kini telah menghafal sejumlah surat.
"Sekarang saya sudah hafal beberapa surat di Juz 30, Al-Mulk, Al-Waqiah, sama Yasin," ujarnya.
Namun, ada sesuatu yang lebih besar yang membuatnya terus bertahan.
Majelis tersebut tidak hanya menjadi ruang belajar agama, tetapi juga tempat membangun kebersamaan. Para jamaah mengikuti senam, bertemu dengan teman sebaya, dan memiliki rutinitas yang membuat mereka tetap aktif.
Bagi Nafiah, kegiatan tersebut menjadi salah satu cara mempersiapkan diri di usia senja.
"Kalau seusia saya apalagi yang dicari. Saya bakal terus mengaji sampai menutup mata nanti," katanya.
Berawal dari Lima hingga Sepuluh Lansia
Ketua Yayasan Assayidah Al Gozali, H. Lukman Hakim, mengatakan Rumah Tahfidz Assayidah berawal dari gagasan ibu mertuanya, almarhumah Hj. Sayyidah.
Sekitar setahun sebelum meninggal dunia, Hj. Sayyidah mengajak sejumlah teman dan tetangganya yang sudah berusia lanjut untuk mengaji bersama.
Saat itu, jumlah jamaah hanya sekitar lima hingga sepuluh orang.
"Awalnya hanya lima sampai sepuluh orang. Lebih banyak dzikir. Ini untuk mencari bekal bagi orang-orang lansia," kata Lukman.
Gagasan tersebut muncul karena saat itu belum tersedia wadah pembelajaran agama yang secara khusus menyasar masyarakat berusia di atas 50 tahun di Kecamatan Tegalsari.
Rumah pribadi milik Hj. Sayyidah kemudian menjadi tempat berkumpul. Dari sana, kegiatan berkembang hingga akhirnya Yayasan Assayidah Al Gozali resmi berdiri pada 11 September 2022.
Sebelum meninggal dunia pada 2023, jumlah peserta pengajian sudah berkembang hingga sekitar 30 orang.
Sepeninggal Hj. Sayyidah, pengelolaan yayasan diteruskan oleh sembilan saudara almarhumah. Lukman sebagai putra menantu juga ikut terlibat dalam pengelolaan.
Menariknya, seluruh kebutuhan kegiatan hingga kini masih ditanggung keluarga besar.
Tidak ada biaya yang dibebankan kepada para santri maupun jamaah lansia.
Kini Diikuti 96 Lansia Perempuan
Perkembangan Rumah Tahfidz Assayidah terbilang pesat.
Kini terdapat 96 lansia perempuan serta 154 santriwan dan santriwati yang mengikuti berbagai kegiatan di yayasan.
Para peserta tidak hanya berasal dari Tegalsari. Mereka juga datang dari wilayah lain seperti Genteng hingga Gambiran.
Khusus majelis lansia, kegiatan digelar setiap Sabtu mulai pukul 08.00 hingga sekitar 12.30 WIB.
Kegiatan juga tidak hanya berisi pembelajaran Alquran.
Yayasan memberikan perhatian terhadap kesehatan jamaah lansia melalui kerja sama dengan BPJS Kesehatan dan puskesmas. Pemeriksaan kesehatan rutin dilakukan setiap tiga bulan.
Para jamaah juga mengikuti senam Prolanis dan yoga.
Setelah kegiatan mengaji selesai, para lansia mendapatkan makan gratis.
"Setiap selesai mengaji, lansia peserta majelis juga mendapat makan gratis," ujar Lukman.
Sementara untuk anak-anak, kegiatan pengajian digelar pada sore hingga malam hari.
Untuk menjalankan seluruh aktivitas tersebut, yayasan memiliki tujuh pengajar yang dibantu enam asisten ustaz.
Lansia Tak Hanya Belajar, tetapi Ikut Merawat Rumah Tahfidz
Ada sisi lain yang membuat aktivitas di Rumah Tahfidz Assayidah berbeda.
Para lansia tidak hanya datang sebagai peserta. Mereka juga ikut membantu ketika yayasan membutuhkan tenaga untuk membenahi fasilitas.
Mereka pernah bergotong royong membuat sumur, membenahi sound system, hingga menata tempat parkir.
"Mereka memang gratis di sini, tapi para lansia ini juga peduli. Mereka sering membantu rumah tahfidz agar fasilitasnya layak digunakan," terang Lukman.
Kepedulian tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara yayasan dan jamaah bukan sekadar guru dan murid.
Ada rasa memiliki yang tumbuh bersama perjalanan majelis.
Pengajar Beradaptasi dengan Kemampuan Lansia
Mengajar lansia tentu membutuhkan pendekatan berbeda.
Salah seorang pengajar tahfidz, Nuryatul Madliyah, 43, menyadari bahwa peserta memiliki kemampuan yang beragam.
Karena itu, ia memilih menempatkan diri bukan sekadar sebagai pengajar.
"Saya membuat mereka merasa nyaman," tuturnya.
Nuryatul kemudian membagi peserta ke dalam tiga kelas.
Kelas A diperuntukkan bagi jamaah yang sudah bisa mengaji. Kelas B untuk mereka yang mulai mampu membaca Alquran, sedangkan Kelas C bagi peserta yang belum bisa membaca sama sekali.
Menurut Nuryatul, mengajar anak-anak memang lebih mudah dalam hal penerimaan materi. Namun, lansia memiliki kelebihan tersendiri.
"Kalau anak-anak cepat bosan. Lansia kadang lebih menurut. Tapi kadang mereka juga pilih ustazah," katanya sembari tersenyum.
Kondisi tersebut justru membuat proses belajar menjadi lebih personal. Pengajar harus memahami ritme masing-masing peserta tanpa membuat mereka merasa tertinggal.
Khataman Alquran Saat Ada Warga Meninggal
Ada satu tradisi yang terus dipertahankan Rumah Tahfidz Assayidah.
Ketika ada jamaah atau warga sekitar meninggal dunia, anggota majelis akan datang ke rumah duka untuk bertakziah sekaligus menggelar khataman Alquran.
Tradisi tersebut kemudian menjadi bagian penting dari keberadaan majelis di tengah masyarakat.
Tidak hanya menjadi tempat belajar, para jamaah juga hadir ketika warga membutuhkan dukungan dalam suasana duka.
Menurut Nuryatul, kegiatan tersebut justru menjadi salah satu daya tarik Rumah Tahfidz Assayidah.
Banyak lansia dari luar Kecamatan Tegalsari kemudian tertarik mengikuti kegiatan mengaji di sana.
Dari rumah sederhana yang awalnya hanya menjadi tempat lima hingga sepuluh lansia berkumpul, Rumah Tahfidz Assayidah kini tumbuh menjadi ruang belajar, bersilaturahmi, menjaga kesehatan, sekaligus mempersiapkan bekal keagamaan bagi mereka yang memasuki usia senja.
Sebuah pengingat bahwa belajar Alquran tidak mengenal kata terlambat. Bagi para lansia di Tegalsari, setiap ayat yang dipelajari bukan hanya tentang kemampuan membaca atau menghafal, tetapi juga tentang bagaimana mengisi masa tua dengan sesuatu yang mereka yakini akan menjadi bekal hingga akhir kehidupan. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin