RADAR BANYUWANGI – Pernah merasa kucing seperti memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan manusia?
Bisa jadi anggapan itu tidak sepenuhnya keliru.
Dalam interaksi sehari-hari, hewan memang dapat merespons berbagai sinyal yang diberikan manusia, mulai dari gerak tubuh hingga pola perilaku.
Manusia sering merasa dirinya sebagai pihak yang mengamati dan memahami satwa.
Padahal, hubungan tersebut berlangsung dua arah.
Hewan juga mengamati manusia dan merespons berdasarkan pengalaman serta pola interaksi yang mereka terima.
Cara setiap spesies membaca manusia tentu berbeda.
Kucing, anjing, kuda, gagak, dan beo memiliki kemampuan serta karakter perilaku yang tidak sama.
Namun, ada satu benang merah.
Dalam banyak interaksi, bahasa tubuh dan konsistensi perilaku manusia dapat menjadi sinyal penting bagi satwa.
Kucing menjadi salah satu contoh paling menarik dalam hubungan manusia dan satwa.
Pakar perilaku hewan dari University of Bristol, Dr. John Bradshaw, pernah menjelaskan cara kucing berinteraksi dengan manusia dalam wawancara publik di National Geographic Society, Washington D.C., Amerika Serikat, pada 30 Januari 2014.
Menurut Bradshaw, kucing tidak mengubah perilakunya secara drastis ketika berinteraksi dengan manusia.
Sejumlah gestur yang mereka gunakan kepada manusia juga terlihat dalam interaksi dengan kucing lainnya.
Salah satunya adalah mengangkat ekor dan menggosokkan tubuh.
Perilaku tersebut menjadi bagian dari komunikasi sosial kucing.
Bradshaw menggambarkan manusia dari sudut pandang kucing sebagai sosok yang jauh lebih besar, tetapi pada dasarnya tidak dianggap sebagai ancaman.
Menariknya, hubungan domestik dengan manusia juga membuat kucing mengembangkan pola komunikasi yang khas.
Suara mengeong yang sangat akrab bagi pemilik kucing merupakan bagian penting dari interaksi kucing dengan manusia, sementara penggunaannya dalam komunikasi antarkucing dewasa relatif berbeda.
Karena itu, ketika seekor kucing mengeong kepada pemiliknya, perilaku tersebut tidak selalu sekadar suara spontan.
Konteks interaksi dan kebiasaan yang terbentuk antara kucing dan manusia ikut berperan.
Hubungan manusia dengan anjing memiliki karakter berbeda.
Anjing merupakan hewan sosial yang dalam kehidupan domestik sangat dekat dengan rutinitas manusia.
Waktu makan, berjalan-jalan, bermain, hingga aktivitas harian lainnya dapat membentuk pola yang dikenali anjing.
Manusia yang konsisten dalam memberikan makanan, perhatian, perlindungan, dan aktivitas dapat menjadi bagian penting dari lingkungan sosial anjing.
Itulah sebabnya perubahan kebiasaan manusia dapat ikut memengaruhi perilaku anjing.
Bagi hewan yang hidup berdampingan dengan manusia, rutinitas merupakan bagian dari lingkungan yang mereka kenali.
Kuda memiliki karakter yang membuat bahasa tubuh menjadi bagian penting dalam interaksi.
Ketika berhadapan dengan kuda, manusia tidak hanya berkomunikasi melalui suara.
Gerakan tubuh, posisi tubuh, ketegangan otot, dan cara mendekat dapat memberikan sinyal tertentu kepada hewan.
Kondisi manusia yang tegang juga dapat memengaruhi cara interaksi berlangsung.
Sebaliknya, gerakan yang lebih tenang dan konsisten dapat membantu menciptakan situasi yang lebih mudah diprediksi bagi kuda.
Hal ini membuat kemampuan mengendalikan gerakan dan menjaga konsistensi perilaku menjadi aspek penting ketika seseorang berinteraksi dengan kuda.
Kemampuan mengingat pada sejumlah burung juga membuat hubungan mereka dengan manusia menjadi menarik.
Gagak dikenal memiliki kemampuan kognitif yang tinggi.
Salah satu kemampuan yang menarik perhatian peneliti adalah kemampuan mengenali individu berdasarkan wajah dan menghubungkannya dengan pengalaman sebelumnya.
Artinya, interaksi manusia dengan gagak dapat meninggalkan pengalaman yang memengaruhi perilaku burung tersebut pada kesempatan berikutnya.
Burung beo juga memiliki kemampuan kognitif yang kompleks dan dikenal mampu mempelajari serta mengingat berbagai pola dalam lingkungannya.
Kemampuan seperti ini menunjukkan bahwa pengalaman satwa terhadap manusia tidak selalu berhenti ketika sebuah interaksi selesai.
Pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari pembelajaran dan memengaruhi respons di kemudian hari.
Berbagai contoh tersebut menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan satwa tidak berlangsung hanya melalui perintah atau suara.
Hewan dapat merespons berbagai informasi dari lingkungan.
Gerakan, postur, tingkat ketegangan, suara, kebiasaan, dan pengalaman sebelumnya dapat menjadi bagian dari informasi yang mereka gunakan untuk menentukan respons.
Karena setiap spesies memiliki kemampuan berbeda, respons kucing tentu tidak dapat disamakan dengan anjing atau kuda.
Demikian pula kemampuan kognitif gagak tidak bisa begitu saja digeneralisasi kepada seluruh jenis burung.
Namun, satu hal tetap relevan dalam interaksi dengan satwa, yakni perilaku manusia memberikan informasi.
Seseorang yang secara konsisten tenang, tidak melakukan gerakan mendadak, dan memperlakukan hewan dengan pola yang dapat diprediksi dapat memberikan sinyal berbeda dibandingkan orang yang perilakunya tidak stabil.
Dengan demikian, ketika manusia berinteraksi dengan satwa, yang sedang berlangsung bukan sekadar proses manusia mengamati hewan.
Satwa pun melakukan pengamatan terhadap manusia melalui cara yang sesuai dengan kemampuan spesiesnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi