Pagi Kuliah, Malam Mondok, Azijatul Raih Predikat Wisudawan Terbaik UIMSYA Banyuwangi

Salis Ali Muhyidin • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 08:00 WIB
Azijatul Fitria didampingi orang tuanya Slamet Ambyah menerima penghargaan sebagai wisudawan terbaik dari Rektor UIMSYA Dr KH Ahmad Munib Syafa
Azijatul Fitria didampingi orang tuanya Slamet Ambyah menerima penghargaan sebagai wisudawan terbaik dari Rektor UIMSYA Dr KH Ahmad Munib Syafa'at, Lc, MEI, Sabtu (8/8). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Tepuk tangan membahana ketika nama Azijatul Fitria dipanggil ke atas panggung wisuda Universitas Islam KH Mukhtar Syafa’at (UIMSYA) Blokagung, Sabtu (8/8). Di antara 326 mahasiswa yang mengenakan toga, perempuan 22 tahun itu menjadi wisudawan terbaik tingkat universitas dengan IPK 3,96.

Prestasi tersebut terasa istimewa karena selama menempuh pendidikan, Azijatul tidak hanya berkutat dengan tugas kuliah. Mahasiswi Program Studi Tadris Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, itu juga menjalani kehidupan pesantren dengan segala aturan dan aktivitasnya.

Pagi hari, dia mengenakan almamater untuk mengikuti perkuliahan. Ketika aktivitas kampus berakhir, malam harinya kembali dihabiskan dengan kegiatan pondok.

“Kadang memang terasa berat untuk membagi waktu antara kuliah, belajar, dan kegiatan pondok, tetapi saya berusaha menjalaninya dengan disiplin dan semaksimal mungkin,” kenang Fitri, sapaan akrab Azijatul, seusai prosesi wisuda.

Wisuda sarjana ke-22 dan pascasarjana ke-3 UIMSYA tersebut digelar di kawasan kampus Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari. Sebanyak 326 mahasiswa diwisuda. Rinciannya, 298 lulusan program sarjana (S1) dan 28 lulusan program pascasarjana (S2).

Di tengah kebahagiaan itu, orang tua Fitri, Slamet Ambyah dan Nur Khamidah, tak mampu menyembunyikan rasa haru. Putri mereka akhirnya menuntaskan perjalanan panjang yang ditempuh dengan membagi waktu antara bangku perguruan tinggi dan kehidupan pesantren.

Dua Dunia yang Membentuk Fitri

Lulusan MA Al-Amiriyyah Blokagung tersebut mengaku menjalani kehidupan kampus dan pondok bukan sebagai dua hal yang harus dipertentangkan. Justru, keduanya saling melengkapi.

Kampus memberinya ruang untuk mengembangkan kemampuan akademik. Sementara pesantren membentuk kebiasaan disiplin, tanggung jawab, kemandirian, dan adab.

“Dalam proses menuntut ilmu ada barokah yang menyertai, sehingga itu yang membuat saya tetap semangat dan tidak mudah menyerah,” paparnya.

Perempuan asal Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, itu sadar bahwa menjalani dua rutinitas sekaligus bukan perkara ringan. Jadwal perkuliahan, tugas akademik, belajar, hingga kegiatan pondok harus diatur dengan cermat.

Namun, kedisiplinan yang terbentuk selama berada di pesantren justru menjadi bekal penting baginya untuk menyelesaikan studi.

“Pesantren ini fondasi kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, dan adab. Sementara kampus memberi bekal ilmu akademik untuk menatap dunia luar,” katanya.

Skripsi Angkat Teknologi dan Keterampilan 4C

Kedisiplinan Fitri juga tercermin dalam karya ilmiahnya. Dalam skripsi, dia mengangkat pemanfaatan teknologi pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan siswa abad ke-21.

Skripsi tersebut berjudul “Efektivitas Gamifikasi Wordwall dalam Meningkatkan Keterampilan 4C Siswa pada Proyek Menara Klinometer.”

Empat keterampilan yang dimaksud adalah critical thinking, creativity, communication, dan collaboration.

Fitri memilih topik tersebut karena melihat pembelajaran tidak cukup hanya membuat siswa memahami teori. Mereka juga perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, berkomunikasi, dan bekerja sama.

“Dalam pembelajaran, siswa tidak cukup hanya memahami materi secara teori, tetapi juga perlu memiliki keterampilan 4C,” terangnya.

Melalui platform digital Wordwall, dia mencoba menghadirkan unsur gamifikasi dalam pembelajaran. Metode tersebut kemudian diterapkan dalam proyek menara klinometer yang menuntut siswa memecahkan masalah, berdiskusi, bekerja sama, hingga menghasilkan sebuah produk.

“Metode ini saya uji lewat proyek menara klinometer. Ini praktik nyata di mana siswa dipaksa memecahkan masalah, berdiskusi, bekerja sama membangun sebuah produk,” tuturnya.

Predikat Terbaik Bukan Alasan Berhenti

Predikat wisudawan terbaik dengan IPK 3,96 kini melekat pada dirinya. Namun, Fitri memilih tidak menjadikan capaian tersebut sebagai alasan untuk berpuas diri.

Menurutnya, keberhasilan menyelesaikan pendidikan tidak terlepas dari doa dan dukungan banyak pihak. Orang tua, guru, dosen, serta lingkungan pondok menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya.

Dia pun masih memegang erat pesan orang tua yang selama ini menjadi pegangan dalam menuntut ilmu.

“Bersungguh-sungguhlah dalam belajar, jangan mudah menyerah, dan tetap rendah hati,” ucapnya mengenang pesan orang tuanya.

Toga yang dikenakan pada hari wisuda mungkin segera disimpan. Namun, bagi Fitri, perjalanan menuntut ilmu belum berakhir.

Dia masih memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Ilmu yang diperoleh pun ingin diamalkan agar bisa memberi manfaat bagi orang lain.

“Saya masih ingin menempuh pendidikan lagi, untuk membanggakan kedua orang tua,” pungkasnya. (sas/aif)

Editor : Ali Sodiqin
Azijatul Fitria UIMSYA Banyuwangi IPK 3 96 santri berprestasi Wisudawan Terbaik