Empat SMK Perpenas Banyuwangi Perkuat Kolaborasi dengan Dunia Industri

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 19:48 WIB
Ketua Perpenas Banyuwangi, Yunita Iliana. (Istimewa)
Ketua Perpenas Banyuwangi, Yunita Iliana. (Istimewa)

RADAR BANYUWANGI – Empat sekolah menengah kejuruan (SMK) di bawah naungan Perkumpulan Gema Pendidikan Nasional (Perpenas) Banyuwangi bersiap memperkuat hubungan dengan dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja (DUDI/IDUKA).

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi pendidikan vokasi.

Sekolah dituntut semakin mampu menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan lapangan kerja yang terus berkembang.

Penguatan kolaborasi dengan DUDI/IDUKA menjadi salah satu agenda yang dibahas dalam Rapat Kerja (Raker) Perpenas Banyuwangi.

Kerja sama tidak diarahkan sekadar pada hubungan kelembagaan, tetapi juga menyentuh pengembangan kompetensi siswa serta penyesuaian materi pembelajaran dengan kebutuhan industri.

Ketua Perpenas Banyuwangi Yunita Illiana mengatakan, keterhubungan antara pendidikan vokasi dan dunia kerja merupakan hal penting.

Sebab, SMK memiliki mandat utama membekali peserta didik dengan keterampilan yang dapat diterapkan setelah lulus.

“Kolaborasi eksternal di jenjang SMK berhubungan langsung dengan DUDI/IDUKA untuk mempersiapkan lulusan siap kerja,” ujarnya.

Empat SMK yang berada dalam naungan Perpenas Banyuwangi tersebut yakni SMK Sritanjung Banyuwangi, SMK 17 Agustus 1945 Cluring, SMK 17 Agustus 1945 Genteng, dan SMK 17 Agustus 1945 Tegaldlimo.

Melalui penguatan sinergi tersebut, sekolah diharapkan semakin mampu menerapkan pola link and match dengan dunia kerja.

Masukan dari sektor industri diperlukan untuk membaca perubahan kompetensi yang dibutuhkan, termasuk perkembangan teknologi dan keterampilan yang harus dikuasai calon tenaga kerja.

Artinya, proses pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan teori dan praktik di lingkungan sekolah.

Siswa juga perlu memperoleh gambaran mengenai situasi serta tuntutan yang akan mereka hadapi ketika memasuki lingkungan kerja.

Kerja sama dengan DUDI/IDUKA sekaligus dapat menjadi bahan evaluasi bagi sekolah.

Kompetensi yang diberikan kepada siswa dapat ditinjau kembali agar tetap sesuai dengan kebutuhan aktual di lapangan.

Apabila terdapat kebutuhan industri yang belum terakomodasi, sekolah dapat menyesuaikan proses pembelajaran maupun program pengembangan kompetensi.

Yunita menyebut penguatan sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu dari tiga pilar strategis yang dibahas dalam raker Perpenas.

Pengembangan SDM diarahkan pada kompetensi yang jelas serta kinerja yang dapat diukur.

Strategi tersebut tidak hanya berlaku bagi pengelola lembaga pendidikan.

Guru dan tenaga kependidikan juga menjadi bagian dari penguatan SDM.

Demikian pula peserta didik yang diposisikan sebagai bagian penting dalam menyiapkan generasi adaptif menghadapi perubahan zaman.

Perubahan kebutuhan industri yang berlangsung cepat membuat hubungan antara sekolah dan dunia kerja kian penting.

Lulusan SMK tidak cukup hanya mengantongi ijazah.

Mereka juga harus memiliki kompetensi yang relevan dan mempunyai nilai di pasar kerja.

“Relevansi tata kelola pendidikan harus mengikuti zaman. Perpenas harus terus adaptif, termasuk memastikan pendidikan vokasi mampu menjawab kebutuhan dunia kerja,” kata Yunita.

Selain meningkatkan kesiapan kerja lulusan, kolaborasi dengan DUDI/IDUKA diharapkan memberi kesempatan lebih luas kepada siswa untuk mengenal dunia industri sejak masih berada di bangku sekolah.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Perpenas Banyuwangi