RADAR BANYUWANGI - Perkumpulan Gema Pendidikan Nasional (Perpenas) Banyuwangi mulai menggeser pola pengelolaan organisasi dan unit pendidikan di bawah naungannya.
Kebiasaan lama yang selama ini menjadi pijakan pengambilan keputusan diarahkan untuk digantikan dengan sistem yang lebih terukur, berbasis data, kinerja, dan akuntabilitas.
Langkah tersebut menjadi salah satu agenda utama dalam rapat kerja (raker) Perpenas Banyuwangi tahun ini.
Mengusung tema “Growing Together: Transformasi SDM, Keuangan, dan Tata Kelola Menuju Perpenas dan Unit-Unit Berkelanjutan”, forum itu dirancang tidak sekadar membahas penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS).
Ketua Perpenas Banyuwangi Yunita Illiana menyampaikan, raker menjadi pintu masuk untuk melakukan pembenahan organisasi secara menyeluruh.
Menurut dia, seluruh unit pendidikan di bawah Perpenas perlu memiliki arah pengembangan yang selaras agar pertumbuhan lembaga tidak berlangsung secara terpisah.
“Fokus raker tahun ini bukan sekadar penyusunan RAPBS tahunan. Ini menjadi titik masuk transformasi Perpenas secara menyeluruh. Prinsipnya, Perpenas dan unit-unitnya tumbuh secara bersama, tidak jalan sendiri-sendiri,” ujar Yunita saat membuka raker di SMK 17 Agustus 1945 Genteng, Sabtu (9/8).
Dalam forum tersebut, Perpenas menetapkan tiga pilar strategis yang menjadi pijakan transformasi.
Yakni penguatan sumber daya manusia (SDM), pembenahan pengelolaan keuangan, serta peningkatan tata kelola dan kualitas.
Pada sektor SDM, pengelolaan tenaga pendidik dan kependidikan akan diarahkan pada kompetensi serta capaian kinerja yang dapat diukur.
Penempatan maupun pengembangan personel tidak lagi sekadar berdasarkan kebutuhan sesaat, melainkan disesuaikan dengan kondisi dan target masing-masing unit pendidikan.
Pilar berikutnya menyangkut keuangan.
Perencanaan anggaran didorong agar tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan operasional rutin.
Perpesas juga ingin memberikan porsi yang lebih kuat bagi dana pengembangan sehingga anggaran dapat berfungsi sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas dan kemajuan lembaga.
Sementara itu, aspek tata kelola dan kualitas diarahkan pada penerapan standar mutu serta dokumentasi yang ditopang data.
Setiap unit diharapkan mampu menyusun gambaran kondisi lembaga secara lebih objektif, sekaligus memiliki indikator untuk mengukur perkembangan yang telah dicapai.
Yunita menilai perubahan pola pengelolaan tersebut penting agar keputusan organisasi tidak lagi bertumpu pada kebiasaan maupun asumsi.
Data dan indikator kinerja diharapkan menjadi dasar dalam membaca kebutuhan, menentukan prioritas, serta mengevaluasi hasil program.
Transformasi itu juga menjadi bagian dari upaya Perpenas membangun organisasi pendidikan yang lebih adaptif.
Perubahan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman menuntut lembaga pendidikan memiliki sistem pengelolaan yang mampu mengikuti dinamika tanpa kehilangan arah pengembangan.
Di sisi lain, Perpenas Banyuwangi tetap menempatkan perluasan akses pendidikan sebagai bagian penting dari komitmen organisasi.
Dengan jenjang pendidikan yang mencakup TK hingga perguruan tinggi di Banyuwangi, masyarakat dari berbagai latar belakang memiliki alternatif untuk mendapatkan layanan pendidikan tanpa harus keluar daerah.
Akses tersebut juga didukung melalui keterbukaan terhadap program beasiswa dan bantuan pendidikan dari pemerintah.
Skema tersebut diharapkan dapat membantu siswa yang memiliki kebutuhan pembiayaan pendidikan agar tetap memperoleh kesempatan belajar.
“Bagi Perpenas, pendidikan berkualitas adalah hak, bukan privilese segelintir kalangan,” tegas Yunita.
Melalui konsep “Growing Together”, Perpenas ingin membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya mengukur keberhasilan dari pertumbuhan satu unit.
Setiap lembaga diharapkan dapat berkembang dalam arah yang sama dengan dukungan tata kelola yang profesional, terukur, dan berkelanjutan.
Editor : Lugas Rumpakaadi