Semua Manusia Pernah Berkulit Gelap, Sains Ungkap Warna Kulit Bukan Penanda Ras

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 19:33 WIB
Perbedaan warna kulit dan warna mata manusia bukan penanda ras atau hierarki biologis. (Pexels/kaboompics)
Perbedaan warna kulit dan warna mata manusia bukan penanda ras atau hierarki biologis. (Pexels/kaboompics)

RADAR BANYUWANGI - Selama bertahun-tahun, warna kulit dan warna mata kerap dijadikan dasar untuk membedakan kelompok manusia.

Namun, berbagai penelitian ilmiah modern justru menunjukkan fakta yang berbeda.

Seluruh manusia modern diperkirakan berasal dari leluhur berkulit gelap, sedangkan perbedaan warna kulit maupun warna mata yang terlihat saat ini merupakan hasil adaptasi evolusi terhadap lingkungan, intensitas sinar matahari, dan perubahan pola makan selama ribuan tahun.

Temuan tersebut mempertegas bahwa keragaman fisik manusia bukanlah penanda ras atau hierarki biologis, melainkan strategi alami tubuh untuk bertahan hidup di berbagai wilayah bumi.

Berdasarkan kajian antropologi biologis, spesies manusia modern (Homo sapiens) yang muncul sekitar 300.000 tahun lalu di Afrika memiliki kulit berwarna gelap.

Warna tersebut berasal dari tingginya kadar melanin, pigmen alami yang berfungsi sebagai pelindung kulit dari paparan sinar ultraviolet (UV).

Melanin tidak hanya melindungi DNA dari kerusakan akibat radiasi UV, tetapi juga menjaga kadar folat atau vitamin B9 di dalam tubuh.

Folat merupakan nutrisi penting bagi pembentukan sel, perkembangan janin, serta membantu mencegah cacat tabung saraf pada bayi.

Di wilayah tropis dengan paparan sinar matahari yang tinggi, keberadaan melanin menjadi keuntungan biologis karena mampu mengurangi dampak buruk radiasi ultraviolet terhadap tubuh.

Perubahan mulai terjadi ketika sebagian populasi manusia bermigrasi ke wilayah utara yang memiliki intensitas sinar matahari lebih rendah.

Di kawasan tersebut, kadar melanin yang terlalu tinggi justru menghambat masuknya sinar UV yang diperlukan kulit untuk memproduksi vitamin D.

Padahal, vitamin D berperan penting dalam menjaga kepadatan tulang, sistem kekebalan tubuh, hingga mendukung kesehatan reproduksi.

Karena itu, tekanan seleksi alam mendorong munculnya mutasi genetik yang menghasilkan warna kulit lebih terang agar produksi vitamin D tetap optimal meski paparan sinar matahari lebih sedikit.

Prof. Nina Jablonski, pakar antropologi biologis dari Pennsylvania State University, menjelaskan bahwa perubahan tersebut merupakan hasil kompromi evolusi, bukan pembeda ras manusia.

"Warna kulit bukanlah penanda rasial atau hierarki biologis, melainkan sebuah kompromi evolusioner yang luar biasa antara kebutuhan tubuh untuk melindungi folat dari kerusakan akibat sinar UV dan kebutuhan untuk memproduksi vitamin D bagi kelangsungan hidup," jelas Prof. Nina Jablonski dalam kajian yang dirangkum Humanova pada Selasa (28/7).

Para peneliti juga menemukan bahwa proses pencerahan warna kulit di Eropa berlangsung semakin cepat sekitar 6.000 hingga 8.000 tahun lalu, bertepatan dengan Revolusi Pertanian.

Saat manusia beralih dari gaya hidup pemburu-pengumpul menjadi masyarakat agraris, pola konsumsi ikut berubah.

Makanan yang sebelumnya kaya vitamin D, seperti ikan dan jeroan, semakin jarang dikonsumsi dan digantikan oleh biji-bijian sebagai sumber pangan utama.

Akibatnya, tubuh semakin bergantung pada produksi vitamin D melalui paparan sinar matahari.

Kondisi tersebut mempercepat penyebaran variasi genetik yang menghasilkan kulit lebih terang karena memberikan keuntungan untuk bertahan hidup.

Menariknya, penelitian genetika menunjukkan proses pencerahan kulit tidak hanya terjadi sekali.

Adaptasi serupa muncul secara independen di berbagai belahan dunia melalui jalur genetik yang berbeda.

Salah satu bukti paling menarik berasal dari penemuan fosil Cheddar Man, manusia purba yang hidup di wilayah Inggris sekitar 10.000 tahun lalu.

Analisis DNA terhadap fosil tersebut menunjukkan Cheddar Man kemungkinan memiliki kulit gelap hingga cokelat tua, rambut hitam keriting, tetapi bermata biru.

Temuan ini memperlihatkan bahwa kombinasi warna kulit dan warna mata pada manusia purba sangat beragam dan tidak selalu sama seperti persepsi masyarakat modern.

Penemuan tersebut sekaligus memperkuat bahwa evolusi warna kulit dan warna mata berlangsung secara bertahap sesuai tekanan lingkungan yang dihadapi setiap populasi manusia.

Fenomena warna mata juga memiliki sejarah evolusi yang unik.

Penelitian genetika menunjukkan seluruh manusia bermata biru saat ini berasal dari satu mutasi genetik yang muncul pada satu individu yang hidup sekitar 6.000 hingga 10.000 tahun lalu.

Sebelum mutasi tersebut terjadi, seluruh populasi manusia di dunia diperkirakan memiliki mata berwarna cokelat.

Peneliti dari University of Copenhagen, Dr. Hans Eiberg, menjelaskan bahwa mutasi tersebut diwariskan dari satu nenek moyang hingga akhirnya menyebar ke berbagai populasi manusia.

"Semua individu bermata biru di dunia hari ini mewarisi mutasi genetik yang sama dari satu nenek moyang tunggal yang hidup antara 6.000 hingga 10.000 tahun lalu. Sebelum mutasi acak itu muncul, seluruh populasi manusia di bumi secara harfiah bermata cokelat," ungkap Dr. Hans Eiberg.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan keragaman warna kulit yang sangat tinggi akibat sejarah migrasi manusia yang panjang serta kondisi geografis yang beragam.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Humanova
evolusi manusia