QRIS Kian Digemari, Cara Masyarakat Bertransaksi Berubah: Praktis, Cepat, tetapi Tetap Harus Waspada

Anisatul Septi Ramadhani • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 15:36 WIB
QRIS semakin digemari masyarakat karena membuat transaksi lebih praktis. (Pexels/iMin Technology)
QRIS semakin digemari masyarakat karena membuat transaksi lebih praktis. (Pexels/iMin Technology)

RADAR BANYUWANGI - Membayar makanan, parkir, hingga berbelanja di pasar kini tidak lagi selalu membutuhkan uang tunai. Cukup membuka aplikasi perbankan atau dompet digital di ponsel, lalu memindai kode QR, transaksi dapat diselesaikan dalam hitungan detik. Kemudahan itu membuat penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) semakin menjadi pilihan masyarakat dalam aktivitas sehari-hari.

Pembayaran digital yang sebelumnya banyak digunakan di pusat perbelanjaan kini semakin mudah ditemui di warung makan, kios UMKM, pasar tradisional, hingga berbagai layanan publik. Kehadiran QRIS tidak hanya memberikan kemudahan bagi konsumen, tetapi juga membantu pelaku usaha melayani pembayaran dari berbagai aplikasi hanya melalui satu kode QR.

Bank Indonesia mencatat penggunaan QRIS terus menunjukkan tren pertumbuhan seiring meningkatnya adopsi pembayaran digital di Indonesia. Sistem pembayaran nasional tersebut dirancang agar seluruh aplikasi pembayaran yang telah terintegrasi dapat digunakan pada satu kode QR, sehingga transaksi menjadi lebih praktis, cepat, dan efisien.

Bagi masyarakat, keunggulan QRIS bukan hanya terletak pada kemudahan pembayaran. Setiap transaksi juga langsung tercatat di aplikasi sehingga pengguna lebih mudah memantau pengeluaran harian maupun bulanan. Kondisi ini membuat pembayaran digital semakin diminati, terutama oleh kalangan yang menginginkan transaksi cepat tanpa harus membawa uang tunai dalam jumlah besar.

Meningkatnya penggunaan QRIS mencerminkan perubahan perilaku masyarakat dalam bertransaksi. Pembayaran digital kini telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, mulai dari membeli minuman, membayar parkir kendaraan, hingga berbelanja kebutuhan pokok di pasar.

Salah seorang warga, Rizky, mengaku lebih sering menggunakan QRIS dibandingkan uang tunai saat berbelanja.

"Kalau pakai QRIS lebih praktis. Tidak perlu repot mencari uang pas atau menunggu kembalian. Semua transaksi juga langsung tercatat di aplikasi, jadi lebih mudah mengatur pengeluaran. Menurut saya, pembayaran digital seperti ini sangat membantu aktivitas sehari-hari," ujarnya.

Kemudahan tersebut juga dirasakan pelaku usaha. Dengan satu kode QR, pedagang dapat menerima pembayaran dari berbagai aplikasi perbankan maupun dompet digital tanpa perlu menyediakan banyak metode pembayaran yang berbeda.

Di balik kemudahannya, penggunaan QRIS tetap memerlukan kewaspadaan. Pengguna diimbau memastikan kode QR yang dipindai benar-benar berasal dari pedagang resmi dan tidak menerima tempelan kode QR yang mencurigakan.

Selain itu, masyarakat tidak boleh memberikan kode One Time Password (OTP), PIN, maupun data pribadi kepada siapa pun yang mengatasnamakan bank atau penyedia layanan pembayaran digital. Sebelum transaksi dikonfirmasi, nominal pembayaran dan nama merchant juga perlu diperiksa untuk menghindari kesalahan maupun potensi penyalahgunaan.

Pengamat ekonomi digital menilai perkembangan pembayaran non-tunai akan terus berlanjut seiring meningkatnya literasi digital masyarakat. Namun, pertumbuhan tersebut harus diimbangi dengan kesadaran pengguna dalam menjaga keamanan akun dan memahami berbagai modus penipuan digital yang terus berkembang.

Agar transaksi tetap aman dan nyaman, masyarakat dapat menerapkan beberapa langkah sederhana berikut:

Editor : Lugas Rumpakaadi
qris