Jangan Asal Posting, Oversharing di Media Sosial Bisa Membuka Celah Kejahatan Siber

Anisatul Septi Ramadhani • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 15:32 WIB
Kebiasaan oversharing di media sosial. (Pexels/Vitaly Gariev)
Kebiasaan oversharing di media sosial. (Pexels/Vitaly Gariev)

RADAR BANYUWANGI - Sekali menekan tombol unggah, informasi pribadi dapat tersebar luas dalam hitungan detik. Di balik kemudahan berbagi aktivitas, lokasi, hingga momen bersama keluarga di media sosial, tersimpan risiko yang kerap diabaikan, yakni penyalahgunaan data pribadi akibat kebiasaan oversharing.

Fenomena tersebut semakin sering terjadi seiring meningkatnya penggunaan media sosial di berbagai kalangan. Banyak pengguna tanpa sadar membagikan informasi yang bersifat sensitif, seperti lokasi terkini, nomor telepon, jadwal perjalanan, hingga dokumen pribadi. Padahal, data tersebut dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk melakukan penipuan, pencurian identitas, maupun peretasan akun.

Di Banyuwangi, media sosial juga menjadi sarana utama masyarakat untuk berbagi informasi, mempromosikan usaha, hingga mendokumentasikan aktivitas sehari-hari. Kondisi ini membuat kesadaran akan pentingnya menjaga privasi digital menjadi semakin relevan agar masyarakat tidak menjadi sasaran penyalahgunaan data.

Pakar keamanan digital mengingatkan bahwa semakin banyak informasi pribadi yang dipublikasikan, semakin besar pula peluang data tersebut disalahgunakan. Aktivitas yang dibagikan secara rinci dapat membantu pelaku kejahatan mengenali identitas, pola aktivitas, hingga kebiasaan seseorang.

Tidak semua informasi layak dipublikasikan di media sosial. Beberapa data yang sebaiknya tidak diunggah secara terbuka meliputi:

Semakin sedikit informasi pribadi yang tersebar di ruang digital, semakin kecil pula peluang data tersebut dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Kesadaran untuk menjaga privasi mulai tumbuh di kalangan pengguna media sosial. Salah satunya diungkapkan Nabila Putri, warga Banyuwangi, yang kini lebih berhati-hati sebelum membagikan aktivitasnya.

"Dulu saya sering mengunggah lokasi secara langsung saat sedang berada di suatu tempat. Setelah mengetahui risikonya, sekarang saya lebih memilih mengunggah foto setelah pulang agar lebih aman. Kita memang harus lebih bijak karena tidak semua informasi perlu dibagikan ke publik," ujarnya.

Menurutnya, perubahan kebiasaan sederhana tersebut membuat penggunaan media sosial tetap terasa menyenangkan tanpa harus mengorbankan keamanan data pribadi.

Selain mengancam keamanan data, kebiasaan oversharing juga dapat memengaruhi reputasi digital. Unggahan yang dianggap biasa saat ini dapat menjadi jejak digital yang sulit dihapus dan berpotensi memengaruhi peluang pendidikan maupun karier pada masa mendatang.

Sejumlah perusahaan dan institusi pendidikan kini turut memperhatikan rekam jejak digital calon pelamar sebagai salah satu bahan pertimbangan. Karena itu, setiap unggahan sebaiknya dipikirkan secara matang sebelum dipublikasikan.

Masyarakat dapat mengurangi risiko penyalahgunaan data dengan menerapkan beberapa langkah berikut:

Langkah-langkah tersebut dapat menjadi perlindungan awal dari berbagai ancaman di ruang digital.

Media sosial memberikan ruang bagi masyarakat untuk berbagi informasi, memperluas jaringan, dan berkomunikasi tanpa batas. Namun, kebebasan tersebut perlu diimbangi dengan kesadaran menjaga privasi dan keamanan data pribadi.

Editor : Lugas Rumpakaadi
oversharing media sosial