RADAR BANYUWANGI - Sensasi meluncur di atas kabel baja dari ketinggian puluhan meter menjadikan flying fox sebagai salah satu wahana yang paling diminati di berbagai destinasi wisata alam, kawasan outbound, hingga taman rekreasi. Di balik pengalaman yang memacu adrenalin tersebut, terdapat sistem kerja sederhana berbasis gravitasi dan standar keselamatan berlapis yang menjadi faktor utama agar aktivitas tetap aman bagi pengunjung.
Tak hanya menawarkan keseruan, flying fox juga menjadi sarana melatih keberanian dan kepercayaan diri. Karena itu, pemahaman mengenai cara kerja wahana, perlengkapan keselamatan, hingga prosedur yang harus dipatuhi menjadi bekal penting sebelum mencobanya.
Flying fox bekerja dengan memanfaatkan gaya gravitasi. Titik keberangkatan dibuat lebih tinggi dibandingkan titik akhir lintasan sehingga peserta dapat meluncur secara alami tanpa bantuan mesin.
Peserta akan dipasangkan harness atau sabuk pengaman yang terhubung dengan katrol (pulley) di atas kabel baja. Ketika peserta mulai bergerak, katrol akan menggelinding mengikuti lintasan kabel hingga mencapai titik akhir.
Kecepatan meluncur dipengaruhi beberapa faktor, antara lain kemiringan kabel, panjang lintasan, serta berat badan peserta. Semakin besar sudut kemiringan, laju luncur umumnya akan semakin cepat. Sebaliknya, lintasan yang lebih landai membuat kecepatan relatif lebih rendah.
Prinsip sederhana tersebut membuat flying fox tidak memerlukan mesin penggerak. Energi potensial akibat perbedaan ketinggian akan berubah menjadi energi gerak ketika peserta mulai meluncur.
Meski tampak ekstrem, flying fox dirancang dengan sistem keselamatan yang terdiri atas beberapa lapisan pengamanan.
Di bagian akhir lintasan dipasang sistem pengereman untuk memperlambat laju katrol secara bertahap sebelum peserta berhenti. Sistem ini membantu mengurangi benturan saat mencapai titik akhir.
Selain itu, peserta menggunakan berbagai perlengkapan keselamatan, seperti:
- Harness atau sabuk pengaman yang menopang tubuh.
- Carabiner berkekuatan tinggi sebagai penghubung antara peserta dan katrol.
- Katrol (pulley) yang bergerak di atas kabel baja.
- Helm pelindung untuk mengurangi risiko cedera pada kepala.
- Kabel baja khusus yang dirancang mampu menahan beban besar dan digunakan sesuai standar operasional.
Seluruh perlengkapan tersebut harus dipasang dengan benar sebelum peserta diizinkan meluncur.
Sebelum wahana dioperasikan, petugas biasanya melakukan inspeksi terhadap seluruh komponen. Pemeriksaan meliputi kondisi kabel baja, katrol, sistem pengereman, harness, carabiner, hingga titik pengait.
Selain memastikan peralatan dalam kondisi layak pakai, operator juga memberikan pengarahan kepada peserta mengenai posisi tubuh saat meluncur, cara memegang tali pengaman bila diperlukan, hingga prosedur ketika tiba di titik akhir lintasan.
Kepatuhan terhadap instruksi operator menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan selama aktivitas berlangsung.
Aspek keselamatan juga menjadi perhatian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi. Perwakilan Disbudpar Banyuwangi, Iswanto, menyebut flying fox termasuk kategori wisata minat khusus yang wajib menerapkan standar keselamatan secara berlapis.
"Wahana tersebut merupakan jenis wisata minat khusus. Sama dengan wahana flying fox, ATV, snorkeling, dan lainnya yang memerlukan standar penanganan keselamatan berlapis," ujarnya sebagaimana dikutip dari TIMES Indonesia.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap pengelola destinasi wisata memiliki tanggung jawab memastikan seluruh prosedur operasional berjalan sesuai standar. Pemeriksaan rutin terhadap perlengkapan dan kesiapan petugas menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko kecelakaan.
Tidak semua orang disarankan mencoba flying fox. Pengelola umumnya menerapkan syarat tertentu, seperti batas usia, tinggi badan, maupun berat badan demi menjaga keamanan peserta.
Selain itu, ibu hamil, penderita gangguan jantung, atau orang dengan kondisi kesehatan tertentu sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis dan mengikuti ketentuan yang ditetapkan pengelola sebelum menggunakan wahana.
Selain memberikan sensasi memacu adrenalin, flying fox memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan mental maupun fisik.
Aktivitas ini dapat membantu melatih keberanian, meningkatkan rasa percaya diri, serta mengurangi rasa takut terhadap ketinggian secara bertahap. Ketika berhasil menyelesaikan lintasan, tubuh juga melepaskan hormon adrenalin dan endorfin yang membuat seseorang merasa lebih bersemangat dan puas.
Tak sedikit pula kegiatan pelatihan maupun outbound memanfaatkan flying fox sebagai media membangun kepercayaan diri, kerja sama, serta kemampuan menghadapi tantangan.
Agar pengalaman bermain tetap aman dan menyenangkan, pengunjung perlu memperhatikan beberapa hal berikut.
- Pilih destinasi wisata yang memiliki operator berpengalaman dan menerapkan standar keselamatan.
- Pastikan seluruh perlengkapan keselamatan dipasang dengan benar.
- Ikuti seluruh arahan petugas tanpa mengabaikan prosedur.
- Gunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman.
- Jangan memaksakan diri jika memiliki kondisi kesehatan yang berisiko